Bukan Cuma APBN, Pasar Modal Kini Jadi Penopang Utama Pembangunan

Mengingat APBN hanya mampu membiayai Rp 459 triliun dari total kebutuhan investasi 2027 sebesar Rp 8.705 triliun, Wamenkeu menegaskan peran pasar modal.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 10 Agustus 2026, 17:15 WIB
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung. (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menyebut pasar modal menjadi salah satu sumber utama pembiayaan swasta untuk memenuhi kebutuhan investasi Indonesia yang diperkirakan mencapai Rp 8.705 triliun pada 2027.

Juda mengatakan kapasitas APBN tidak cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan pembangunan, mulai dari infrastruktur, energi, pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga program hilirisasi.

"APBN saja itu tidak pernah cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan pembangunan kita," kata Juda dalam peluncuran ETF Emas di Bursa Efek Indonesia, Senin (10/8/2026).

Dari total kebutuhan investasi tersebut, APBN diperkirakan hanya mampu membiayai sekitar Rp 459 triliun. Sektor BUMN, termasuk Danantara, berkontribusi sekitar Rp 330 triliun. Sementara itu, porsi terbesar harus berasal dari pembiayaan swasta yang mencapai Rp 7.973 triliun atau sekitar 91 persen.

Juda menjelaskan pembiayaan swasta tersebut mencakup sektor perbankan, lembaga pembiayaan, hingga pasar modal. Menurutnya, pasar modal memiliki peran strategis karena mampu menghubungkan kebutuhan pembiayaan korporasi dengan dana masyarakat.

"Di sinilah pasar modal memegang peran strategis sebagai sumber pembiayaan swasta. Pasar modal adalah jembatan yang menghubungkan kebutuhan pembiayaan korporasi dengan dana masyarakat," ujarnya.

 

Memperdalam Pasar Modal

Hingga semester I 2026, lebih dari Rp 125 triliun dana telah berhasil dihimpun melalui pasar modal dengan jumlah investor mencapai sekitar 28 juta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Juda menilai pasar modal perlu terus diperdalam agar mampu menjalankan fungsi pembiayaan tersebut secara optimal. Pemerintah terus mendorong perluasan basis investor, diversifikasi instrumen, peningkatan likuiditas, serta penguatan tata kelola.

Hingga semester I 2026, lebih dari Rp 125 triliun dana telah berhasil dihimpun melalui pasar modal dengan jumlah investor mencapai sekitar 28 juta.

Peluncuran ETF emas, kata Juda, menjadi salah satu langkah nyata untuk memperluas pilihan investasi sekaligus memperdalam pasar keuangan domestik. Ia mencatat aset kelolaan ETF emas global telah mencapai US$ 559 miliar pada 2025 dengan total kepemilikan emas sekitar 4.025 ton.

"Yang kita lakukan hari ini bukan sekadar menambah satu produk, kita sedang memperluas pilihan investasi sekaligus memperdalam pasar keuangan kita agar dapat bersaing dengan pasar modal regional maupun global," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya