Kebutuhan Investasi 2027 Sentuh Rp 8.705 Triliun

Wamenkeu Juda Agung memaparkan sejumlah sumber pembiayaan untuk kebutuhan investasi di APBN 2027.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 10 Agustus 2026, 12:36 WIB
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung di Gedung Juanda I Kementerian Keuangan. (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

Liputan6.com, Jakarta - Kebutuhan investasi Indonesia pada 2027 diperkirakan mencapai Rp 8.705 triliun. Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengatakan, kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya mencakup Rp 459 triliun dari kebutuhan tersebut sehingga pembiayaan swasta menjadi penopang utama.

Juda mengatakan, APBN 2027 diperkirakan hanya mampu membiayai sekitar Rp 459 triliun kebutuhan investasi. Sementara itu, BUMN termasuk Danantara diproyeksikan berkontribusi sekitar Rp 330 triliun.

“Dalam APBN 2027, kebutuhan investasi Indonesia diperkirakan mencapai Rp 8.705 triliun. APBN hanya mampu menjangkau sekitar Rp459 triliun,” kata Juda dalam peluncuran ETF emas di Bursa Efek Indonesia, Senin (10/8/2026).

Dengan demikian, sekitar Rp 7.973 triliun atau 91% kebutuhan investasi harus berasal dari pembiayaan swasta. Sumbernya mencakup perbankan, lembaga pembiayaan, hingga pasar modal.

Juda menilai kondisi tersebut membuat pasar modal memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan pembangunan nasional, mulai dari infrastruktur, energi, pendidikan, pengembangan sumber daya manusia hingga hilirisasi.

“Pasar modal memegang peran strategis sebagai sumber pembiayaan swasta. Ia adalah jembatan yang menghubungkan kebutuhan pembiayaan korporasi dengan dana masyarakat,” ujarnya.

Airlangga: ETF Emas Perkuat Pasar Keuangan Indonesia

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai peluncuran exchange traded fund (ETF) emas menjadi langkah strategis untuk memperdalam sektor keuangan Indonesia. Instrumen ini dinilai tidak hanya menambah pilihan investasi, tetapi juga berpotensi meningkatkan likuiditas pasar emas nasional.

Airlangga mengatakan kehadiran ETF emas dapat menghubungkan berbagai pelaku dalam ekosistem keuangan, mulai dari manajer investasi, bank kustodian, bank bullion, dealer, hingga Bursa Efek Indonesia (BEI).

"Saya harapkan memang produk ini menghubungkan antara manajer investasi, custodian bank, bank bullion, dealer, dan bursa efek. Dan emas bukan hanya menambah pilihan investasi, tetapi juga meningkatkan likuiditas,” kata Airlangga dalam peluncuran ETF emas, di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (10/8/2026).

Menurut Airlangga, ETF emas juga membuka peluang bagi industri asuransi untuk berinvestasi pada emas melalui instrumen pasar modal. Sebelumnya, industri asuransi memiliki keterbatasan untuk berinvestasi langsung pada bullion.

"Dengan ETF, maka asuransi bisa investasi emas. Sebelumnya asuransi tidak bisa investasi di bullion. Jadi ini salah satu yang kita akan terus dorong,” ujarnya.

 

Potensi Pengembangan ETF Emas

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menggelar konferensi pers di Jakarta, Jumat (19/6/2026). (Dok Kemenko Perekonomian)

Airlangga melihat potensi pengembangan ETF emas Indonesia cukup besar. Ia menyebut nilai ETF emas global telah mencapai sekitar US$ 4.047 miliar, dengan Amerika Serikat sekitar US$ 526 miliar, China US$ 45 miliar, dan India US$ 17,5 miliar.

Di sisi lain, jumlah emas yang dikelola Pegadaian mencapai sekitar 153 ton atau setara sekitar US$ 20 miliar. Menurut Airlangga, besarnya potensi tersebut memberikan ruang bagi Indonesia untuk mengejar pasar ETF emas negara lain di kawasan.

"India sebetulnya bisa kita balap dengan waktu cepat. Jadi kita akan dalam waktu cepat bisa melampaui Singapura. Dan dengan demikian tentu kita lebih dalam lagi," ujar dia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya