Berawal di Jalur Tradisional, Kebakaran Bromo Diduga Bukan Faktor Alam

Petugas berjibaku memadamkan api yang semakin meluas.

oleh Hermawan ArifiantoDiterbitkan 08 Agustus 2026, 07:15 WIB
kebakaran di Gunung Bromo

Liputan6.com, Jakarta - Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menduga kuat kebakaran vegetasi di kawasan Gunung Bromo dipicu aktivitas manusia, bukan faktor alam. Titik api pertama kali terdeteksi di area Blok Bantengan, lokasi yang melintasi jalur tradisional penghubung Desa Arjosari dan Ranu Pani.

​Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menjelaskan bahwa perapian buatan warga atau pengunjung yang melintas diduga menjadi pemantik utama munculnya si jago merah.

​"Ada kemungkinan faktor manusia, bukan alam. Kadang-kadang orang yang melintas saat cuaca dingin membuat perapian, lalu lupa mematikan. Itu dugaan awal kami," ujar Rudijanta Sabtu, (8/8/2026).

​Meski mengarah pada kelalaian, pihak TNBTS menegaskan dugaan ini masih memerlukan penyelidikan lebih mendalam. Pihaknya juga belum menentukan sanksi bagi pelaku maupun mengalkulasi total kerugian ekologis dan material. Proses penghitungan kerugian menuntut pemetaan detail terhadap vegetasi terdampak dengan melibatkan tim ahli.

​"Fokus utama kami saat ini adalah pemadaman total dan meminimalkan potensi munculnya titik api baru dari sisa rumput serta pohon yang terbakar," tambahnya.

Hingga Jumat sore, penanganan di lapangan terus diperketat. Kendati mayoritas titik api berhasil dipadamkan, beberapa area masih memunculkan kepulan asap tebal.

​Tim gabungan melancarkan operasi pemadaman terpadu dari darat dan udara. Pemadaman darat diperkuat dengan penggunaan drone water sprayer milik BPBD Jawa Timur untuk menjangkau area rumit.

Sementara itu, satu unit helikopter water bombing milik BNPB turut dikerahkan ke lokasi untuk memusnahkan sisa-sisa bara api secara cepat dan intensif.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya