Liputan6.com, Jakarta - Perjalanan lebih dari 20 jam dari Indonesia menuju Edmonton, Kanada, seolah terbayar lunas ketika Nikita Willy melangkahkan kaki ke Masjid Al-Ikhlas Centre. Bangunan yang berdiri di tengah lingkungan multikultural itu menghadirkan suasana yang tak disangka.
Sapaan hangat dalam bahasa Indonesia, aroma hidangan khas Nusantara, dan senyum akrab para diaspora membuat aktris tersebut merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Jarak ribuan kilometer dari Tanah Air mendadak terasa begitu dekat di masjid pertama yang diinisiasi komunitas Indonesia di Kanada Barat.
Advertisement
"Rasanya seperti pulang ke kampung halaman," ungkap Nikita di keterangan resminya pada Lifestyle Liputan6.com, Selasa, 2 Agustus 2026.
Suasana yang sama turut dirasakan putra Nikita, Issa Xander. Bocah kecil itu dengan cepat berbaur bersama anak-anak diaspora yang memenuhi halaman masjid. Tawa mereka pecah di sela-sela aktivitas keluarga yang berkumpul selepas acara peresmian.
Bagi Nikita, pemandangan itu menyimpan makna yang lebih dalam daripada sekadar pertemuan komunitas. Kehadiran sebuah masjid memberi kesempatan bagi anak-anak Muslim untuk mengenal agama, berteman dengan sesama, sekaligus memahami akar budaya yang mereka miliki.
Di negara tempat umat Islam hidup sebagai kelompok minoritas, ruang seperti ini menghadirkan rasa aman sekaligus rasa memiliki yang sulit tergantikan. Perjalanan Nikita ke Kanada berlangsung dalam rangkaian safari dakwah yang berpuncak pada peresmian Masjid Al-Ikhlas Centre.
Masjid tersebut lahir dari inisiatif Indonesian Muslim Community in Edmonton (IMCE) bersama Cinta Quran Foundation melalui gerakan wakaf yang melibatkan lebih dari 200 ribu wakif dari Indonesia dan berbagai negara. Dana sekitar CAD 1,4 juta berhasil dihimpun hingga rumah ibadah itu resmi berdiri sebagai simbol kolaborasi lintas negara.
Tak Hanya Tempat Salat
Konsul Jenderal Republik Indonesia di Vancouver Nina Kurnia Widhi berkata, "Meresmikan Masjid Al-Ikhlas Centre merupakan kebanggaan sekaligus momentum yang sangat bermakna. Saya menyaksikan perjalanan masjid ini sejak proses awal pembangunan hingga hari ini berdiri dengan indah."
"Semoga kehadirannya menjadi ruang yang mempererat persaudaraan, memperkuat peran masyarakat Indonesia di Kanada, sekaligus menjadi jembatan persahabatan Indonesia dan Kanada melalui nilai-nilai perdamaian, toleransi, dan kemanusiaan," harapnya.
Masjid Al-Ikhlas Centre tidak hanya dibangun sebagai tempat menunaikan salat berjemaah. Pengelola merancang kawasan tersebut menjadi pusat aktivitas yang menghidupkan komunitas. Kelas Al-Qur'an, pembinaan keluarga, pengembangan generasi muda, layanan sosial, dan dialog lintas budaya menjadi bagian dari visi yang ingin diwujudkan.
Nilai Kebersamaan
Kapasitas sekitar 100 jemaah menjadi awal bagi tumbuhnya ruang kebersamaan yang lebih besar. Semangat membangun pusat kegiatan itu lahir dari keyakinan bahwa sebuah masjid dapat menghadirkan manfaat jauh melampaui fungsi utamanya.
Kehadirannya menjadi tempat bertemunya keluarga, ruang belajar anak-anak, sekaligus titik temu masyarakat Muslim dengan lingkungan sekitar. Nilai-nilai kebersamaan yang dibawa diaspora Indonesia pun menemukan wadah untuk terus berkembang di tengah kehidupan masyarakat Kanada yang majemuk.
"Hari ini kita tidak sekadar meresmikan sebuah bangunan, tapi meresmikan harapan. Masjid Al-Ikhlas Centre adalah bukti bahwa ketika umat bersatu, batas negara bukan lagi penghalang untuk menghadirkan manfaat. Wakaf tidak hanya membangun masjid, namun juga membangun peradaban yang akan terus mengalirkan kebaikan lintas generasi," kata Dewan Pembina Cinta Quran Foundation Ustadz Fatih Karim.
Belum Usai
Perjalanan itu belum berhenti pada berdirinya sebuah masjid. Cinta Quran Foundation bersama komunitas Indonesia di Edmonton telah menyiapkan langkah berikutnya dengan mengembangkan kawasan di sekitar masjid menjadi Islamic Centre pertama Indonesia di Kanada Barat.
Fasilitas tersebut diproyeksikan menjadi pusat pendidikan Al-Qur'an, pembinaan keluarga, pengembangan kepemimpinan generasi muda, layanan sosial, serta ruang kolaborasi lintas budaya yang terbuka bagi masyarakat luas.
Bagi Nikita Willy, kunjungan itu meninggalkan kenangan yang jauh melampaui sebuah seremoni peresmian. Ia menyaksikan bagaimana sebuah rumah ibadah mampu menghadirkan rasa pulang bagi mereka yang tinggal ribuan kilometer dari Indonesia.
Tawa Issa bersama anak-anak diaspora, sapaan hangat jemaah, dan semangat gotong royong yang melahirkan Masjid Al-Ikhlas Centre menjadi pengingat bahwa rumah terkadang bukan hanya tentang tempat kita berasal, melainkan juga tentang orang-orang yang membuat kita merasa diterima.