JAFF Kolaborasi dengan Perbankan, Dorong Kesiapan Finansial Industri Perfilman

Amar Bank menggandeng JAFF dalam upaya menihilkan kesenjangan antara perspektif perbankan dan industri perfilman.

oleh Ratnaning AsihDiterbitkan 07 Agustus 2026, 00:35 WIB
Deretan poster film Indonesia. (Ratnaning Asih/ Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Selama beberapa tahun ke belakang, industri ekonomi kreatif Indonesia mencatat perkembangan yang kian positif. Dalam data yang dirangkum oleh Amar Bank dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com baru-baru ini, tahun lalu Produk Domestik Bruto (PDB) dari sector ini mencapai Rp1.757,87 triliun atau tumbuh 6,86 persen (year-on-year), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen.

Subsektor film, animasi, dan video menjadi salah satu kontributor utama yang tumbuh pesat. Industri layar lebar nasional menguasai 58 persen pangsa pasar box office (82,9 juta penonton sepanjang 2025) serta menopang sekitar 387.000 lapangan kerja.

Potensi yang besar ini membuktikan bahwa perfilman Indonesia telah menjadi tuan rumah di negaranya sendiri. Namun muncul pertanyaan baru: bagaimana industri kreatif memiliki model bisnis yang mampu membangun kepercayaan lembaga keuangan?

Apalagi, pendekatan underwriting perbankan umumnya bertumpu pada proyeksi arus kas (cash flow) dan kepastian agunan (collateral). Di sisi lain, aset utama industri film berbentuk kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP) yang belum memiliki standar valuasi finansial sebagaimana aset fisik.

PT Bank Amar Indonesia (Amar Bank), pionir bank digital yang fokus melayani segmen ritel dan UMKM, mencoba menghadirkan solusi, lewat kolaborasi dengan salah satu nama besar dalam dunia sinema: Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF).


Amar Bank Susun Analisis Pembiayaan yang Lebih Relevan

PT Bank Amar Indonesia Tbk atau Amar Bank ( AMAR).

Senior Vice President MSME Amar Bank, Josua Sloane, mengakui memang ada karakteristik unik yang dimiliki industri kreatif ini, sehingga sudah semestinya dilakukan pendekatan yang berbeda.

Untuk mengatasi kesenjangan antara perspektif perbankan dan industri perfilman, Amar Bank menyusun model analisis pembiayaan yang lebih relevan untuk sektor ini.

 “Amar Bank melihat industri kreatif memiliki karakter bisnis yang unik dan umumnya berbasis proyek. Karakter inilah yang coba kita pahami lewat penyediaan teknologi keuangan adaptif,” tutur Josua Sloane.

Ia menambahkan, “Untuk itu, Amar Bank memilih pendekatan nurturing, di mana teknologi kami mendampingi pemilik usaha di sektor kreatif agar menjadi bankable dan siap mengakses layanan keuangan.”


Cara Mengukur Tingkat Kelayakan Kredit

Pendekatan ini diimplementasikan dalam layanan Amar Bank Bisnis. Pemilik usaha dapat membangun rekam jejak transaksi, merapikan pencatatan keuangan, memperkuat tata kelola internal, hingga mengelola dokumen operasional dalam satu platform yang terintegrasi dengan teknologi digital.

Lanjut Baca:

"Saat kedisiplinan dan transparansi finansial terbentuk, sistem perbankan dapat mengukur tingkat kelayakan kredit (creditworthiness) secara presisi. Semakin kuat dan rapi tata kelola usahanya, semakin besar peluang serta fleksibilitas pembiayaan produktif yang dapat disalurkan," ujar Josua. Lewat pendekatan ini, pihak Amar Bank optimistis industri film tidak hanya terus tumbuh dan menghasilkan karya yang semakin kompetitif. Pada akhirnya, diyakini akan tercipta multiplier effect bagi seluruh rantai pasok industri mulai dari rumah produksi hingga UMKM pendukungnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya