Kebakaran Gunung Bromo Terus Meluas, 80 Hektare Savana Hangus

Faktor alam jadi kendala utama pemadaman.

oleh Hermawan ArifiantoDiterbitkan 06 Agustus 2026, 18:55 WIB
​ Kebakaran Gunung Bromo terus meluas (Foto: Hermawan Arifianto/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan wisata Gunung Bromo terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo melaporkan bahwa area savana yang hangus terbakar kini diperkirakan telah mencapai 80 hektare.

​"Data dari Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) hingga Rabu malam mencatat area terdampak sekitar 80 hektare. Luasan ini berpotensi terus bertambah mengingat titik api belum sepenuhnya padam," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, Kamis (6/8/2026)

Ancaman karhutla ini pertama kali terdeteksi pada Selasa melalui sistem pemantauan SiPongi+ milik Kementerian Kehutanan yang mengolah data satelit NASA-MODIS. Setelah temuan hotspot diverifikasi via ground check di lapangan, tim gabungan langsung dikerahkan untuk memblokir pergerakan api.

"​Kebakaran ini melahap vegetasi khas Bromo, mulai dari savana, cemara gunung, pakis, hingga semak belukar,"tambahnya 

 

Kendala Pemadaman

Upaya pemadaman di lapangan menghadapi kendala berat. Angin kencang, vegetasi kering yang mudah terbakar, serta minimnya sumber air di ketinggian diperparah oleh topografi lereng dan perbukitan yang terjal. Untuk menyiasati keterbatasan air, armada truk tangki dikerahkan secara bertahap menuju titik-titik yang masih terjangkau jalur darat.

​Operasi pemadaman melibatkan ratusan personel gabungan dari BPBD Probolinggo, BPBD Jatim, TNBTS, Perhutani, TNI/Polri, relawan, hingga masyarakat setempat. Guna mempercepat penanganan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turut mengoperasikan satu unit helikopter water bombing yang didatangkan khusus dari Palangka Raya.

​Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, Bambang Setyo Antoko, menegaskan bahwa strategi pemadaman terus disesuaikan secara dinamis.

​"Api masih aktif dan situasi bergerak cepat. Focus kami saat ini adalah menyekat sektor-sektor dengan potensi rambatan tertinggi agar kebakaran tidak meluas, sambil tetap memprioritaskan keselamatan personel," tegas Bambang.

​Langkah respons cepat dan kolaborasi lintas instansi ini sejalan dengan arahan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang menempatkan perlindungan kawasan konservasi sebagai prioritas utama, baik melalui penguatan sistem deteksi dini SiPongi+, patroli intensif, maupun penegakan hukum terkait penyebab kebakaran.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya