Liputan6.com, Jakarta - Raksasa penerbit game asal Amerika Serikat (AS), Electronic Arts (EA), resmi diambil alih oleh konsorsium investor internasional yang dipimpin Dana Investasi Publik (PIF) Arab Saudi.
Nilai akuisisi fantastis ini mencapai USD 55 miliar (sekitar Rp 982 triliun) dan tercatat sebagai aksi leveraged buyout (akuisisi perusahaan dengan menggunakan dana pinjaman) terbesar dalam sejarah industri hiburan.
Advertisement
Dengan rampungnya kesepakatan ini, pengembang di balik waralaba populer seperti EA Sports FC (dahulu FIFA), The Sims, dan Mass Effect tersebut resmi diprivatisasi.
Diwartakan BBC, Kamis (6/8/2026), seluruh saham publik EA dibeli kembali oleh konsorsium investor, sehingga perusahaan tidak lagi diperdagangkan di bursa saham.
Selain PIF, konsorsium ini turut melibatkan Affinity Partners yang dipimpin oleh Jared Kushner, menantu mantan Presiden AS Donald Trump.
Transaksi ini menjadi akuisisi terbesar kedua sepanjang sejarah industri gaming, tepat di bawah pembelian Activision Blizzard oleh Microsoft senilai USD 69 miliar (sekitar Rp 1.232 triliun).
Bayang-Bayang Utang dan Ancaman PHK
Meski bernilai jumbo, skema akuisisi ini memicu kekhawatiran besar di kalangan analis. Penjualan ini mengandalkan skema leveraged buyout, artinya sebagian besar dana akuisisi berasal dari utang yang nantinya harus ditanggung dan dilunasi oleh EA sendiri.
Untuk menutup transaksi, PIF harus meminjam USD 20 miliar (sekitar Rp 357 triliun) dari bank investasi JPMorgan, melengkapi dana awal sebesar USD 36 miliar (sekitar Rp 643 triliun).
Jurnalis senior Bloomberg, Jason Schreier, menilai beban utang raksasa ini berpotensi memicu efisiensi ekstrem.
"Kondisi ini bisa berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, penerapan strategi monetisasi game yang lebih agresif, hingga pemotongan anggaran secara ketat," ia menguraikan.
Senada dengan hal itu, Pemimpin Redaksi Game Business, Christopher Dring, menyebut perusahaan private equity umumnya menerapkan manajemen agresif demi mengamankan imbal hasil investasi.
Dikhawatirkan Hambat Kreativitas
Sinyal bahaya juga dirasakan pengembang independen. CEO Arrowhead Game Studios (Helldivers 2), Shams Jorjani, mengkhawatirkan pemilik baru EA hanya akan berfokus pada formula aman, seperti terus-menerus memproduksi sekuel dan waralaba besar, alih-alih memberi ruang bagi keragaman katalog game.
Tak hanya isu bisnis, kesepakatan ini juga memantik protes dari komunitas gamer. Kelompok advokasi Players Alliance HQ menyerukan gerakan menolak akuisisi tersebut.
Mereka khawatir keterlibatan pemerintah Arab Saudi dapat memengaruhi keputusan kreatif, terutama terkait kebebasan berekspresi serta isu gender dan LGBTQI+ yang selama ini menjadi bagian dari narasi dalam game seperti The Sims.
Meski dihantam gelombang kritik, CEO EA Andrew Wilson dipastikan tetap memimpin perusahaan. Wilson optimistis era baru ini akan membawa EA menciptakan pengalaman game yang lebih transformatif bagi generasi mendatang.