Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris, menyoroti dugaan tenaga kesehatan (nakes) menghina pasien BPJS lantaran mengeluh menunggu rawat kamar inap selama delapan jam. Charles meminta pihak RS memberi sanksi pada nakes nirempati tersebut.
Diketahui, pasien BPJS bernama Yurizal Tri Chaerawan itu dikabarkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026 setelah menunggu di IGD selama 8 jam.
Advertisement
"Saya menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya almarhum. Apa pun penyebab akhirnya, setiap pasien berhak diperlakukan dengan hormat, bermartabat, dan penuh empati ketika sedang berjuang menghadapi sakit," kata Charles Honoris kepada wartawan, Rabu (5/8/2026).
Charles prihatin dengan banyaknya komentar negatif dari tenaga kesehatan terhadap curhatan pasien.
"Saya prihatin. Kritik atau keluhan pasien tidak boleh dibalas dengan ejekan atau penghinaan," ujarnya.
Minta Organisasi Profesi Turun Tangan
Politikus PDIP ini meminta organisasi profesi juga turun tangan dan melakukan pemeriksaan. Dia ingin ada sanksi apabila sejumlah nakes itu terbukti melakukan pelanggaran etik.
"Saya berharap organisasi profesi dan institusi tempat yang bersangkutan bekerja melakukan pemeriksaan secara objektif dan memberikan sanksi apabila memang terbukti terjadi pelanggaran etik," tegasnya.
Saat ini, Charles mengakui Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan mendasar dalam sistem pelayanan kesehatan, di antaranya fasilitas kesehatan, tempat tidur, maupun jumlah tenaga kesehatan.
"Kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah. Penggunaan anggaran negara harus benar-benar diprioritaskan untuk memperkuat pelayanan kesehatan yang langsung dirasakan masyarakat, mulai dari peningkatan fasilitas kesehatan, pemenuhan tenaga kesehatan, hingga perbaikan sistem rujukan," kata Charles.
Curhat Pasien BPJS
Pasien bernama Yurizal Tri Chaerawan meninggal dunia setelah sebelumnya mengaku harus menunggu hingga delapan jam untuk mendapatkan ruang perawatan di sebuah rumah sakit. Pengalaman tersebut sempat dibagikan Yurizal melalui media sosial beberapa hari sebelum wafat.
"8 jam belum dapat ruangan. Enggak mau spill RS-nya soalnya gue pakai BPJS," tulis Yurizal dalam akun Threadsnya pada Rabu (22/7/2026).
Bukannya mendapat simpati, unggahan itu malah diserbu komentar bernada sinis, yang belakangan malah diketahui berasal dari para tenaga kesehatan (nakes) di rumah sakit.
"PP nya kayak orang Have tapi aslinya Haven’t kah? haven’t some brain cells," timpal akun @erudarahaadini, yang diduga kuat seorang nakes.
"Kalo full, mau dipindahkan kemana? mau di lantai? Gk ada hubungannya sama BPJS atau nggak BPJS yang make banyak, otomatis yg dirawat juga banyak, ga cuma u sendiri. Kalo mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong. Ngeselin dah, nakes/RS bahkan pemerintah melalui BPJS berusaha bantuin, masyarakatnya malah gini," tulis akun @bennychrstn.
Setelah ditelusuri warganet, pemilik akun @bennychrstn diduga merupakan alumni Fakultas Kedokteran UI.
Sementara akun @1amdika menuliskan komentar yang menyebut pasien akan lebih cepat mendapatkan penanganan apabila mengalami serangan jantung sehingga langsung ditangani di instalasi gawat darurat (IGD).
Komentar lain yang juga menuai kritik berasal dari akun @nandafadyla_ yang menuliskan kalimat singkat, "Bacot nih pasien."
Usai komentar-komentar nirempati itu viral, Yurizal dikabarkan meninggal dunia. Kabar lelayu soal meninggalnya Yurizal sendiri diumumkan sepupunya, Hilda Aprianti, dalam sebuah unggahan pada Sabtu, 1 Agustus 2026 lalu. Hilda menyebutkan, Yurizal meninggal dunia pada 31 Juli.
"Selamat jalan ya, Wi. Semoga husnul khotimah. Semoga diberikan tempat terbaik di sisi Allah," tulis Hilda.