Emiten SSIA Kantongi Pendapatan Rp 3,35 Triliun hingga Juni 2026

PT Suryainternusa Semesta Tbk (SSIA) mencatat pertumbuhan pendapatan 58,4% dan meraih laba hingga Juni 2026.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 05 Agustus 2026, 14:07 WIB
PT Surya Internusa Tbk (SSIA) mengumumkan kinerja keuangan semester I 2026 (Foto: Isaac Smith/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - PT Surya Internusa Semesta Tbk (SSIA) mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba hingga semester I 2026. Hal itu didukung dari bisnis kawasan industri dan segmen properti.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (5/8/2026), perseroan mencatat pendapatan Rp 3,35 triliun hingga Juni 2026. Pendapatan tumbuh 58.4% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 2,11 triliun.

Kontribusi pendapatan itu terutama didorong pengakuan penjualan secara akuntansi atau accounting sales recognition yang kuat pada bisnis kawasan industri.

Segmen properti mencatatkan pertumbuhan tertinggi dengan pendapatan mencapai Rp 1,26 triliun, meningkat 274,1% secara tahunan (YoY). Segmen konstruksi tetap stabil dengan pendapatan sebesar Rp 1,7 triliun, dibandingkan Rp 1 triliun pada periode sama tahun sebelumnya. Sementara itu, segmen perhotelan membukukan pendapatan sebesar Rp 471,1 miliar, meningkat 113,3% YoY.

Laba kotor naik 145,9% menjadi Rp 1,086 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 441,8 miliar. Hal itu didukung kinerja kuat dari segmen properti. Segmen properti menyumbang laba bruto sebesar Rp 612,3 miliar, meningkat signifikan 315,4% YoY. Segmen perhotelan juga menunjukkan pertumbuhan yang kuat dengan laba bruto meningkat 152,9% YoY menjadi Rp 279,4 miliar, sementara segmen konstruksi mencatat kenaikan laba bruto sebesar 11,4% YoY menjadi Rp 204,8 miliar.

Sementara itu,  laba usaha perseroan naik 520,44% menjadi Rp 633,07 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 102,03 miliar.

Laba periode berjalan naik 2.170% menjadi Rp 479,87 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 21,13 miliar.

Perseroan mencatat laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 262,55 miliar hingga semester I 2026 dari periode sama tahun sebelumnya rugi Rp 32,34 miliar.

Perseroan mencatat laba per saham dasar Rp 55,80 dari periode sama tahun sebelumnya rugi Rp 6,98.

Ekuitas perseroan naik menjadi Rp 8,48 triliun hingga Juni 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 8,07 triliun.Liabilitas perseroan turun menjadi Rp 4,54 triliun hingga 30 Juni 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 4,63 triliun. Aset perseroan naik menjadi Rp 13,02 triliun hingga Juni 2026 dari Desemebr 2025 sebesar Rp 12,71 triliun. Perseroan kantongi kas dan setara kas Rp 1,09 triliun hingga 30 Juni 2026.

Anak Usaha SSIA Ajak Investor Hong Kong Tanam Modal ke Kawasan Industri RI

Seminar “Indonesia Infrastructure Transformation - Unlocking Cross Border Investment Opportunities” yang diselenggarakan HSBC dan Federation Hong Kong Industries. (Dok SSIA)

Sebelumnya, PT Suryacipta Swadaya (Suryacipta), anak usaha PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), mempromosikan peluang investasi kawasan industri Indonesia dalam forum bisnis internasional bertajuk Indonesia Infrastructure Transformation - Unlocking Cross Border Investment Opportunities di Hong Kong.

Forum yang diselenggarakan oleh HSBC dan Federation Hong Kong Industries pada Rabu, 4 Maret 2026 tersebut menjadi ajang bagi Suryacipta untuk memaparkan perkembangan kawasan industri Indonesia di tengah pergeseran rantai pasok global menuju Asia Tenggara.

Kehadiran Suryacipta dalam forum tersebut dinilai strategis mengingat posisi Hong Kong sebagai salah satu pusat keuangan global sekaligus penghubung utama investasi perusahaan asal Tiongkok daratan ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Saat ini, Hong Kong tercatat sebagai sumber Foreign Direct Investment (FDI) terbesar kedua bagi Indonesia. Dalam periode 2021–2025, kontribusi investasi langsung dari Hong Kong mencapai USD 35,5 miliar.

Selain itu, posisi Hong Kong sebagai hub re-ekspor terbesar di dunia membuat banyak perusahaan manufaktur yang berbasis di wilayah tersebut mulai melirik Indonesia sebagai basis produksi strategis. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi diversifikasi rantai pasok global di tengah dinamika perdagangan internasional.

 

Transformasi Kawasan Industri

Dalam forum tersebut, Chief Commercial Officer Suryacipta Abednego Purnomo memaparkan perubahan mendasar dalam pengembangan kawasan industri di Indonesia.

Menurut dia, kawasan industri modern kini tidak lagi sekadar menyediakan lahan bagi pabrik, tetapi juga menawarkan ekosistem yang terintegrasi.

"Kawasan industri modern tidak lagi sekadar menyediakan lahan, melainkan menawarkan integrasi penuh antara logistik, infrastruktur digital dan transisi energi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (5/3/2026).

Transformasi ini sejalan dengan target nasional untuk menurunkan biaya logistik dari sekitar 23 persen terhadap PDB menjadi 8 persen pada 2045.

Salah satu contoh pengembangan kawasan industri tersebut adalah Subang Smartpolitan di Subang, Jawa Barat.

Kawasan ini terhubung langsung dengan berbagai infrastruktur strategis nasional, termasuk Pelabuhan Patimban, yang diproyeksikan menjadi pelabuhan otomotif terbesar di Indonesia.

Keberadaan pelabuhan tersebut diharapkan mampu memperkuat distribusi logistik internasional dan mendukung aktivitas ekspor industri manufaktur.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya