AS Cabut Visa Duta Besar Brasil sebagai Balasan Diplomatik

Amerika Serikat (AS) mencabut visa Duta Besar Brasil untuk AS usai Negeri Samba tersebut menolak memberikan visa kepada dua diplomat AS.

oleh Septian DenyDiterbitkan 05 Agustus 2026, 14:00 WIB
Ilustrasi. Amerika Serikat (AS) mencabut visa Duta Besar Brasil untuk AS, Maria Luiza Ribeiro Viotti. (Photo by Agus Dietrich on Unsplash)

Liputan6.com, Washington - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mencabut visa Duta Besar Brasil untuk AS, Maria Luiza Ribeiro Viotti. Hal ini sebagai langkah balasan setelah Brasil menolak memberikan visa kepada dua diplomat Amerika Serikat dan menunda persetujuan terhadap calon duta besar Washington.

Hal tersebut disampaikan juru bicara Departemen Luar Negeri AS kepada Anadolu pada Selasa.

"Ini merupakan tindakan timbal balik. Jika duta besar tersebut meninggalkan negara ini, ia harus mengajukan kembali permohonan visa," kata juru bicara tersebut.

Menurutnya, pemerintah AS telah berkomunikasi secara berkelanjutan dengan pemerintah Brasil selama beberapa pekan dan memberikan kesempatan agar persoalan tersebut dapat diselesaikan.

"Kami telah berkomunikasi terus-menerus dengan pemerintah Brasil selama berminggu-minggu dan memberikan setiap kesempatan kepada mereka untuk melakukan hal yang benar. Namun, mereka terus menunda dan mengaburkan persoalan ini," ujarnya.

Juru bicara tersebut menegaskan bahwa pencabutan visa belum sampai pada tahap menyatakan duta besar Brasil sebagai persona non grata. Meski demikian, Washington mengisyaratkan masih memiliki opsi diplomatik lain apabila Brasil terus menunda atau menolak memberikan agrément, yakni persetujuan resmi dari negara penerima terhadap penunjukan seorang duta besar atau diplomat asing sebelum mereka menjalankan tugasnya.

"Ini bukan status persona non grata, tetapi masih ada opsi diplomatik lain yang dapat dipertimbangkan apabila pemerintah Brasil terus menunda atau menolak memberikan agrément," katanya.

Ia juga menegaskan bahwa Presiden Donald Trump memiliki hak untuk menentukan siapa yang mewakili rakyat dan kepentingan Amerika Serikat di seluruh dunia.

"Kami menolak segala upaya negara asing untuk mencampuri proses domestik kami," tambahnya.

 

Awal Perselisihan Diplomatik

Perselisihan diplomatik ini bermula setelah Brasil pada bulan lalu menolak memberikan visa kepada Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Ketenagakerjaan, Riley Barnes, serta Deputi Asisten Menteri Samuel Samson.

Brasil menyatakan kekhawatiran bahwa keduanya dapat melakukan campur tangan dalam pemilihan presiden yang akan digelar pada Oktober.

Washington membantah tuduhan tersebut. Pemerintah AS menyatakan kedua pejabat itu berencana membahas integritas pemilu, kebebasan beragama, dan kebebasan berekspresi bersama pejabat pemerintah Brasil serta perwakilan masyarakat sipil.

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva dijadwalkan menghadapi Senator Flavio Bolsonaro, putra sulung mantan Presiden Jair Bolsonaro, dalam pemilihan presiden Brasil yang akan berlangsung pada 4 Oktober.

Hingga berita ini disampaikan, pihak berwenang Brasil belum memberikan tanggapan atas langkah yang diambil pemerintahan Trump tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya