Polisi Ungkap Misteri Penyebab Kematian Dokter PPDS Siak

Sebelumnya seorang dokter PPDS ditemukan meninnggal di semak belukar di samping pagar RSUD Tengku Rafian Siak, pada Selasa, 14 Juli 2026.

oleh Tim RegionalDiterbitkan 05 Agustus 2026, 06:55 WIB
Dokter PPDS ditemukan tewas di samping RSUD Siak

Liputan6.com, Siak - Pihak kepolisian akhirnya mengungkap penyebab kematian tidak wajar Alex Cristo Loris, seorang dokter Residen Anastesi Program Pendidikan Dokter Spesialis Universitas Riau di Rumah Sakit Umum Daerah Tengku Rafian, Siak.

Kapolres Siak AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar mengatakan, penyebab kematian korban adalah akibat perbuatan korban sendiri. Temuan itu berdasarkan rangkaian penyelidikan ilmiah, hasil autopsi, pemeriksaan laboratorium forensik, digital forensik, serta psikologi forensik, penyidik menyimpulkan bahwa penyebab kematian korban akibat korban sendiri.

"Penyidik Satreskrim Polres Siak menyimpulkan bahwa tidak ditemukan fakta yang mengarah pada tindak pidana pembunuhan. Penyebab kematian almarhum dr Alex Cristo Loris disimpulkan sebagai akibat dari perbuatannya sendiri," kata Sepuh Ade Irsyam, Selasa (4/8/2026).

Sebelumnya jasad dokter tersebut ditemukan di semak belukar di samping pagar RSUD Tengku Rafian Siak, pada Selasa, 14 Juli 2026 sekitar pukul 11.30 WIB.

Menurut Sepuh Ade Irsyam, sejak laporan penemuan mayat diterima, penyidik segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), mengamankan barang bukti, memeriksa rekaman CCTV, meminta keterangan para saksi, serta melibatkan sejumlah ahli guna memastikan penyebab kematian secara objektif dan profesional.

Dari hasil olah TKP diketahui korban ditemukan dalam posisi terlentang di semak belukar sekitar lima meter dari pagar luar RSUD Tengku Rafian Siak.

Di dekat korban ditemukan tas berisi berbagai perlengkapan medis, antara lain stetoskop, obat anestesi Propofol, ampul Lidocaine, spuit yang berisi Fentanyl Citrate dan Rocuronium Bromide, serta sejumlah jarum suntik.

Selain itu, rekaman CCTV yang diambil dari dua sumber menunjukkan korban berjalan seorang diri menuju lokasi kejadian pada malam sebelum ditemukan meninggal dunia dan tidak terlihat adanya orang lain yang mendampingi korban.

"Hasil autopsi menyatakan terdapat bekas suntikan pada punggung tangan kiri korban yang diduga sebagai jalur masuk obat 'Rocuronium' ke dalam tubuh. Pemeriksaan toksikologi menemukan kandungan Rocuronium pada sampel urine, darah, dan ginjal korban," ungkapnya.

Oleh karena itu ahli forensik menyimpulkan kematian korban disebabkan efek "Rocuronium" yang mengakibatkan kelumpuhan total otot pernapasan sehingga korban mengalami mati lemas (asfiksia).

Sementara itu, memar pada kepala korban tidak menjadi penyebab kematian, sedangkan luka-luka lain pada tubuh merupakan luka pasca kematian akibat aktivitas serangga.

"Pemeriksaan Laboratorium Forensik Polda Riau juga menguatkan bahwa bercak darah pada jarum suntik identik dengan DNA korban, sehingga menunjukkan jarum tersebut digunakan oleh korban sendiri dan mengandung Rocuronium," ujarnya.

 

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya