Menaker Dorong Generasi Muda Jadi Penggerak Inovasi

Ia mengakui, Indonesia kerap ditempatkan di posisi bawah dalam pemeringkatan indeks inovasi dunia.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 04 Agustus 2026, 17:00 WIB
Menteri Ketenagakerjaan Prof. Yassierli (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Ketenagakerjaan Prof. Yassierli menggarisbawahi pentingnya spirit dan kompetensi inovasi. Semangat dan kecakapan berinovasi harus dimiliki terutama oleh generasi muda.

Ia mengakui, Indonesia kerap ditempatkan di posisi bawah dalam pemeringkatan indeks inovasi dunia. Seperti direkam Global Innovation Index 2025, kecakapan Indonesia dalam melahirkan inovasi terlempar ke ranking 55. Peringkat ini kalah dari capaian negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Vietnam.

Kendati demikian, Yassierli tetap optimistis Indonesia mampu menjadi bangsa inovatif alias innovation nation berbarengan dengan terwujudnya Indonesia Emas 2045. Keyakinan ini tak lepas dari lahirnya anak-anak muda yang dibekali berbagai kompetensi inovasi, sehingga siap menjadi pemimpin, pemangku kepentingan, dan para profesional di masa depan.

“Inovasi menjadi satu kata yang menjadi tantangan kita dan tidak banyak didiskusikan. Ini harus dibicarakan terutama pada para leader yang lahir di sini yang saya yakin punya kompetensi inovasi. Adik-adik Tanoto Scholar (penerima beasiswa Tanoto Foundation) memiliki peran menjadi leaders yang berkontribusi untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045,” ujar Menaker di depan ratusan Tanoto Scholar di salah satu sesi Tanoto Scholars Gathering, di Pangkalan Kerinci, Riau, 22 Juli.

Menggali Spirit Inovasi

Inovasi bukan berarti menghasilkan produk baru. Inovasi adalah kemampuan dalam menghasilkan suatu nilai baru. Bukan hanya dalam bentuk barang atau komoditas, melainkan juga bisa jasa atau model. Pengembangan suatu inovasi memang memerlukan pengetahuan, teknologi, dan kreativitas.

Namun yang paling penting, Yassierli menekankan, inovasi berangkat dari spirit dan prinsip-prinsip sederhana tapi mendasar dalam kehidupan.

Yang pertama, inovasi berangkat dari rasa empati untuk memecahkan persoalan. Dari negeri sendiri, contohnya pengembangan aplikasi transportasi daring. Inovasi ini lahir karena rasa empati melihat orang-orang kesulitan mencari moda transportasi. Di sisi lain, para pengemudi ojek juga terlalu lama menanti pelanggan. Aplikasi ini kemudian mempertemukan dua kebutuhan itu.

“Dengan empati, kita punya perhatian dan perasaan yang sama dengan orang-orang ketika menghadapi masalah. Inovasi-inovasi yang lahir dan sekarang menjadi produk dan layanan besar berangkat dari empati,” tuturnya.

Seiring dengan rasa empati ini adalah spirit untuk menjadikan segala sesuatunya lebih baik. Berbagai platform baru pun terus bermunculan untuk menjadikan aktivitas manusia lebih mudah.

“Sekarang ditambah adanya AI (artificial intelligence). Ini semua inovasi dan setiap bangsa saat ini berlomba-lomba untuk menghasilkan inovasi-inovasi terbaik,” ujar Yassierli.

Tak ada yang abadi selain perubahan itu sendiri. Inovasi juga menganut prinsip terus berkembang. Berbagai elemen dalam suatu ekosistem terhubung (connecting more dots) dan aneka kebutuhan terus dipenuhi melalui tambahan fitur yang berbeda dan unik. Di sisi lain, prinsip tumbuh dan berkembang ini juga memacu sang inovator di balik inovasi itu sendiri.

“Jangan hanya menjadi user (pengguna). Setelah jadi user kemudian anda jadi developer, orchestrator, sampai jadi leader,” ujarnya.

Pada titik inilah, Yassierli melihat generasi muda Indonesia harus terus didorong untuk memiliki cara pandang inovasi (innovation mindset) sebagai syarat menjadi pemimpin masa depan.

“Cara pandang inovatif itu berarti Anda berpikir dan melihat dengan material yang berbeda, teknologi yang berbeda, hingga proses dan cara kerja yang berbeda. Itulah innovation mindset,” tandasnya.

Menumbuhkan Growth Mindset

Di kesempatan yang sama, Ia mengajak generasi muda untuk menghindari fixed mindset, yakni saat seseorang hanya belajar di bidang yang telah dikuasainya. Mereka menghindari tantangan, mudah menyerah, melihat upaya sebagai sesuatu yang sia-sia, bahkan merasa terancam oleh keberhasilan orang lain.

Sebaliknya, yang harus dipupuk adalah growth mindset, yang mendorong orang untuk terus menguasai hal-hal baru, pantang menyerah, dan siap menghadapi berbagai tantangan. Orang-orang dengan cara pandang ini percaya bahwa pengetahuan dan kemampuan mereka dapat terus berkembang layaknya otot jika terus dilatih. Yassierli pun membeberkan rahasia untuk memiliki dan mempertahankan growth mindset pada diri anak muda.

“Belajarlah dan carilah mentor atau coach sebagai role model. Lihat bagaimana mereka bisa survive, lihat bagaimana mereka berkembang, siap menghadapi tantangan, dan pantang menyerah saat menghadapi hambatan,” ungkapnya.

Selain mentor yang hadir secara langsung, Yassierli juga mengajak Tanoto Scholar mengambil inspirasi dari para tokoh yang dianggap sebagai the greatest of all time (GOAT)—mereka yang paling hebat—sebagai model. Kisah hidup, sepak terjang, dan berbagai gagasan serta inovasi dapat dibaca di buku biografi mereka.

“Para pemimpin dan inovator itu hadir untuk memberikan solusi kepada masyarakat. (Mereka) ingin orang-orang dan user menjadi lebih mudah. (Mereka) tidak mau menghasilkan sesuatu yang buruk. Itu lah mentalitas inovatif, mentalitas seorang inovator,” tandasnya.

Menuju Bangsa Inovatif

Menurut Yassierli, saat ini hanya 14 persen dari total 155 juta angkatan kerja yang memperoleh kesempatan emas untuk menempuh pendidikan tinggi. Sementara itu, ada 86 persen angkatan kerja yang pendidikan hanya setingkat SMA atau SMK. Berbagai upaya pun telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas angkatan kerja nasional. Salah satunya adalah program pemagangan nasional yang digagas Kemenaker dengan kuota sebanyak 150 ribu fresh graduates. Mereka menjalani magang di perusahaan terkemuka selama satu tahun.

“Sebelum masa magang selesai, sebanyak 30 persen peserta magang sudah ditawari kerja. Ini adalah bentuk bagaimana kita ingin memberikan satu impact dan kontribusi kepada bangsa,” ujarnya.

Upaya meningkatkan kualitas angkatan kerja perlu dukungan semua pihak. Seperti halnya langkah Tanoto Foundation, di mana para peraih beasiswa TELADAN dibekali dengan pelatihan kepemimpinan, pengembangan diri, dan peningkatan kapasitas untuk melengkapi kemampuan akademik dari kampus.

“Saya mengamati bagaimana mahasiswa-mahasiswa saya menjadikan beasiswa Tanoto sebagai salah satu harapan. Saya pernah melihat bagaimana bahagianya seseorang, bahagianya satu keluarga, ketika beasiswa itu hadir; memberikan (harapan) kepada mereka bahwa mereka bisa menggapai mimpi,” kata Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Melalui beasiswa ini, Yassierli melihat Tanoto Foundation memiliki spirit inovasi, serta berkomitmen untuk menghasilkan pemimpin dan inovator. Dukungan ini menjadi modal penting untuk mewujudkan bangsa inovatif di masa mendatang.

“Pada 2045, Indonesia menjadi negara besar hanya kalau kita menjadi innovation nation. Kalau inovasi itu terbangun akan memecahkan permasalahan terkait dengan keterbatasan lapangan kerja,” ujarnya.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya