Merawat Jejak Slamet Riyadi di Rumah Tua Solo

Rumah masa kecil Pahlawan Nasional Slamet Riyadi di Solo direhabilitasi dengan tetap mempertahankan bentuk dan nuansa bangunan lama.

oleh Arie SunaryoDiterbitkan 05 Agustus 2026, 06:12 WIB
Bertahun-tahun Rusak, Rumah Masa Kecil Pahlawan Nasional Brigjen Slamet Riyadi Direhabilitasi

Liputan6.com, Jakarta - Atap tua yang selama bertahun-tahun bocor mulai diganti. Plafon dari anyaman bambu atau gedhek diperbarui, sementara sejumlah kayu dan jendela lama tetap dipertahankan.

Menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81, rumah masa kecil Pahlawan Nasional Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) Ignatius Slamet Riyadi di Jalan Tejonoto, Danukusuman, Kecamatan Serengan, Solo, mulai direhabilitasi.

Rumah yang telah berdiri sejak sebelum Indonesia merdeka itu sebelumnya mengalami kerusakan di sejumlah bagian. Selama bertahun-tahun, keluarga hanya mampu melakukan perbaikan secara bertahap dengan dana pribadi dan dukungan tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).

Kini, rehabilitasi menyeluruh mulai dilakukan menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Pemerintah Kota Surakarta sekitar Rp300 juta.

Pengerjaan dimulai pada Mei 2026. Sejumlah bagian rumah diperbaiki, mulai dari bangunan utama, kamar yang digunakan Slamet Riyadi semasa kecil, atap, hingga area halaman dan paving.

Cucu keponakan Slamet Riyadi, Gunawan Wibisono (53), mengatakan rehabilitasi rumah bermula dari serangkaian kunjungan sejumlah pihak, mulai dari civitas akademika Universitas Slamet Riyadi (Unisri), pimpinan DPRD Solo, hingga jajaran Pemerintah Kota Solo.

“Ya Alhamdulillah, mulainya bulan Mei kemarin. Ada rentetan kunjungan dari Rektorat Unisri, kemudian Ketua DPRD Solo, hingga Bapak Wali Kota dan Dandim yang meninjau lokasi,” kata Gunawan saat ditemui di rumah tersebut, Selasa (28/7/2026).

 

Dari Tambal Sulam hingga Rehabilitasi Menyeluruh

Bertahun-tahun Rusak, Rumah Masa Kecil Pahlawan Nasional Brigjen Slamet Riyadi Direhabilitasi

Sebelum rehabilitasi dilakukan, keluarga berupaya menjaga kondisi rumah dengan melakukan perbaikan secara mandiri. Ketika hujan datang dan kebocoran muncul, bagian yang rusak diperbaiki sebisanya.

Namun, usia bangunan yang telah puluhan tahun membuat kerusakan perlahan meluas ke berbagai bagian.

“Fokusnya di bagian atas dulu supaya tidak bocor waktu hujan. Atap genteng diganti semua, usuk yang masih bagus dipertahankan, tapi reng diganti baru. Plafon yang dari gedhek (anyaman bambu) juga diganti baru semua,” jelasnya.

Menurut Gunawan, rumah tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi karena telah berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka. Hingga proyek rehabilitasi dimulai, bangunan itu belum pernah menjalani renovasi secara menyeluruh.

“Ini sejak Ibu saya, kakak Slamet Riyadi, masih hidup sudah begini. Belum pernah renovasi sama sekali, baru kali ini. Ya sudah lebih dari 10 tahun rusak sedikit-sedikit, seperti motor tua lah, harus ganti sparepart sana-sini,” tuturnya.

Gunawan mengatakan rencana rehabilitasi awalnya ditargetkan terlaksana pada 2025. Namun, proses tersebut dipercepat sehingga pengerjaan dapat dimulai pada tahun ini.

“Waktu dewan ke sini itu dianggarkan Rp300 juta. Jadi kucuran dana tahap awal itu sekitar Rp300 juta melalui Dinas PUPR. Di sana ada tim perencana, pelaksana, hingga monitoring,” ungkapnya.

Menjaga Jejak Rumah Lama

Meski sejumlah bagian diperbaiki, keluarga meminta agar karakter asli bangunan tetap dipertahankan. Material baru dipilih dengan menyesuaikan bentuk rumah lama agar nuansa sejarahnya tidak hilang.

Lantai rumah, misalnya, tidak diganti dengan keramik modern. Keluarga memilih menggunakan tegel untuk mempertahankan kesan klasik.

Sementara itu, jendela dan kayu-kayu lama yang masih kokoh tetap digunakan dan hanya diperbarui melalui proses pelapisan ulang.

“Bangunan tetap dipertahankan lama supaya kesan rumah lamanya terlihat. Untuk lantai juga tidak pakai keramik, tapi pakai tegel supaya tetap terasa nuansa klasiknya. Jendela dan kayu-kayu lama yang masih kuat tetap dipertahankan, tinggal dipernis ulang,” terangnya.

Meski masih berstatus sebagai rumah pribadi dan ditempati keluarga, kediaman tersebut selama ini kerap didatangi berbagai kalangan.

 

Disiapkan Menjadi Wisata Edukasi

Bertahun-tahun Rusak, Rumah Masa Kecil Pahlawan Nasional Brigjen Slamet Riyadi Direhabilitasi

Menjelang peringatan 17 Agustus dan Hari Pahlawan, kunjungan biasanya meningkat. Prajurit Kopassus juga disebut rutin datang untuk bersilaturahmi pada peringatan hari lahir Slamet Riyadi. Selain itu, rumah tersebut kerap dikunjungi pelajar dan kelompok pemuda.

“Siapa pun boleh berkunjung. Biasanya wartawan ramai kalau mau 17 Agustus atau Hari Pahlawan. Yang rutin itu dari Kopassus setiap ulang tahun pasti ke sini silaturahmi, juga dari anak-anak sekolah TK dan Karang Taruna,” ungkap Gunawan.

Wali Kota Solo Respati Ardi yang turut meninjau lokasi mengatakan rehabilitasi dilakukan untuk menjaga kelestarian bangunan bersejarah yang menjadi tempat tumbuh Slamet Riyadi.

Ia berharap rumah tersebut dapat menjadi ruang pembelajaran sejarah bagi masyarakat dan generasi muda.

“Harapannya nanti bisa menjadi pusat atau wisata edukasi sejarah perjuangan bagi masyarakat luas dan generasi muda, adik-adik pelajar. Mereka bisa mengetahui sejarah kontribusi besar Brigjen Slamet Riyadi terhadap Kota Surakarta,” ujar Respati.

Ke depan, rumah tersebut tidak hanya akan tetap berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga. Pemerintah Kota Solo juga membuka kemungkinan pengembangan bangunan menjadi museum dan rumah singgah yang dapat dikunjungi masyarakat.

“Ya museum dan rumah singgah ya. Yang tentunya bisa dinikmati wisatawan, pelajar, sebagai wisata edukasi ke depan,” katanya.

Ignatius Slamet Riyadi merupakan Pahlawan Nasional dan salah satu perwira muda Indonesia. Ia lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 26 Juli 1927.

Slamet Riyadi gugur pada usia 23 tahun saat memimpin operasi militer di Ambon. Kini, rumah masa kecilnya di Solo kembali diperbaiki agar jejak kehidupan dan perjuangannya tetap dapat dikenang oleh generasi berikutnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya