Ratusan Anak Terlantar di Ceuta, Trauma Saksikan Keluarga Tenggelam

Ratusan anak tanpa pendamping terlantar di Ceuta, wilayah Spanyol di Afrika Utara.

oleh Septian DenyDiterbitkan 04 Agustus 2026, 13:03 WIB
Para migran berusaha menyeberang dari Maroko menuju Ceuta, enklave milik Spanyol. (Dok. AP Photo/Antonio Sempere)

Liputan6.com, Madrid - Ratusan anak tanpa pendamping terlantar di Ceuta, wilayah Spanyol di Afrika Utara, setelah gelombang besar migran Maroko untuk mencapai wilayah tersebut.

Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (4/8/2026), sebagian anak mengalami trauma setelah menyaksikan anggota keluarga mereka tenggelam di Laut Mediterania. Mereka termasuk di antara puluhan ribu orang yang meninggalkan Maroko demi mencari peluang hidup yang lebih baik.

Dari sekitar 60.000 migran yang tiba di Ceuta pada Kamis, diperkirakan sekitar 3.000 hingga 5.000 orang berhasil menghindari deportasi.

Di antara para migran yang masih bertahan, lebih dari 800 orang merupakan anak tanpa pendamping. Masa depan mereka kini diliputi ketidakpastian.

Seorang remaja perempuan berusia 17 tahun asal Tangier mengatakan kepada Associated Press bahwa ia melihat polisi Spanyol mengangkat jenazah adik laki-lakinya yang berusia delapan tahun dari laut setelah dirinya berhasil mencapai pantai. Dalam perjalanan itu, ia juga terpisah dari ibunya.

"Saya melihat orang-orang menginjak mayat," ujarnya melalui seorang penerjemah.

"Sekarang kami adalah anak-anak yang mengemis di jalan."

Setelah mendapati fasilitas pemerintah untuk anak-anak yang membutuhkan sudah penuh, remaja tersebut kini bergantung pada bantuan warga setempat untuk mendapatkan makanan dan tempat berlindung.

Anak di Bawah Umur Wajib Dapat Perlindungan

Menurut hukum Spanyol, migran dewasa dapat mengajukan permohonan suaka. Namun, syarat untuk memperoleh perlindungan kemanusiaan bagi warga Maroko umumnya sangat ketat. Jika permohonan ditolak, mereka akan menghadapi proses deportasi.

Pasal 35 Undang-Undang Hak-Hak Orang Asing Spanyol tahun 2000 menyatakan bahwa ketika polisi menemukan anak-anak dan remaja migran yang tidak didampingi orang dewasa, mereka wajib diberikan perlindungan serta memperoleh "penanganan segera" dari layanan perlindungan anak Spanyol.

 

Menangis dan Memohon Tak Dipulangkan

Barang-barang yang ditinggalkan para migran mengapung di laut setelah mereka menyeberang dari Maroko menuju Ceuta, enklave milik Spanyol. (Dok. AP Photo/Antonio Sempere)

Seorang jurnalis AP menyaksikan tentara Spanyol mengawal seorang anak laki-laki asal Maroko yang menangis dan memohon agar tidak dipulangkan. Setelah mendapat tekanan dari warga setempat yang menegaskan bahwa anak itu masih di bawah umur, ia kemudian diserahkan kepada Garda Sipil Spanyol, bukan langsung dipulangkan ke negara asalnya.

Sebagian besar migran dewasa asal Maroko yang tiba pada pekan lalu telah kembali ke negaranya secara sukarela atau dipulangkan oleh polisi Spanyol.

Sementara itu, di antara mereka yang masih berada di Ceuta terdapat banyak migran dari negara lain, termasuk warga Sudan yang melarikan diri dari perang, warga Palestina dari Gaza, warga Afghanistan, serta pendatang dari sejumlah negara di Afrika.

Pusat penampungan migran di kota itu telah penuh, meski hanya memiliki kapasitas untuk menampung 600 orang. Berdasarkan laporan AP dan AFP, persediaan makanan di kalangan para migran juga semakin terbatas.

Banyak dari mereka terpaksa tidur di ruang terbuka, beristirahat di pantai, atau di perbukitan yang mengelilingi Ceuta. Di kejauhan yang diselimuti kabut, daratan utama Eropa, tujuan akhir yang mereka impikan, terhampar di seberang lautan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya