Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah jajaran direksi PT Indosat Tbk (ISAT) meningkatkan kepemilikan saham ISAT pada akhir Juli 2026. Langkah pembelian saham ISAT dilakukan untuk investasi.
Hal ini yang dilakukan Direktur Utama PT Indosat Tbk Vikram Sinha. Ia membeli 3,08 juta saham ISAT sebanyak tujuh kali transaksi dengan total nilai pembelian saham Rp 5,98 miliar.
Advertisement
“Tujuan transaksi investasi, dengan status kepemilikan langsung,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI ditulis Selasa (4/8/2026).
Setelah transaksi pembelian saham ISAT, Vikram mengenggam 0,0442% saham ISAT. Sebelumnya, ia memiliki 0,00346% saham ISAT atau setara 11,17 juta saham.
Selain itu, Direktur Indosat Irsyad Sahrono membeli 1 juta saham ISAT sebanyak delapan kali transaksi. Nilai pembelian saham Rp 1,92 miliar. Irsyad membeli saham ISAT yang bertujuan untuk investasi jangka panjang dengan status kepemilikan langsung.
Setelah transaksi pembelian saham ISAT, Irsyad memiliki 0,0079% saham ISAT atau 2,54 juta saham ISAT. Sebelumnya, ia mengenggam 0,0048% saham ISAT atau 1,54 juta saham ISAT.
Berdasarkan data Google Finance pada Selasa, 4 Agustus 2026, harga saham ISAT naik 2,89% menjadi Rp 1.960 per saham. Harga saham ISAT berada di level tertinggi Rp 1.955 dan level terendah Rp 1.905 per saham. Total kapitalisasi pasar saham mencapai Rp 62,89 triliun.
Kinerja Semester I 2026
Sebelumnya, PT Indosat Tbk (ISAT) mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba hingga semester I 2026. Kinerja keuangan itu dinilai didukung model bisnis perseroan yang skalabel dan pengelolaan biaya yang disiplin.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (28/7/2026), PT Indosat Tbk meraup pendapatan konsolidasi Rp 30,65 triliun hingga semester I 2026. Pendapatan perseroan tumbuh 13,1% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 27,11 triliun.
Kontribusi pendapatan perseroan itu disumbang dari layanan selular, MIDI dan telekomunikasi masing-masing 83,3%, 15,3% dan 1,4% terhadap pendapatan konsolidasi selama enam bulan pertama 2026.
Pendapatan selular naik 12,2% menjadi Rp 25,52 triliun hingga semester I 2026 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Pendapatan MIDI tumbuh 18,5% menjadi Rp 4,69 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 3,96 triliun. Lalu kontribusi pendapatan dari telekomunikasi tetap naik 8,4% menjadi Rp 431,9 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 398,3 miliar.
Earning Before Interest, Tax, Depreciation and Amortization (EBITDA) Perseroan naik 13,6% menjadi Rp 14,60 triliun, sehingga menghasilkan margin EBITDA yang solid 47,6%.
Laba ISAT
Beban perseroan naik 4,5% menjadi Rp 22,91 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 21,92 triliun. “Kenaikan ini terutama disebabkan oleh kenaikan beban penyelenggara jasa, penyusutan dan amortisasi, karyawan, pemasaran dan beban umum dan administrasi yang diimbangi dengan peningkatan penghasilan (beban) operasional lain-lain bersih,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.
Selain itu, beban lain-lain tercatat Rp 2,12 triliun, naik Rp 25 miliar atau 1,2% dibandingkan semester I 2025. Hal itu disebabkan kenaikan biaya keuangan yang diimbangi dengan peningkatan keuntungan selisih kurs, bersih dan pendapatan bunga.
Seiring hal itu, Indosat meraup laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 84,5% menjadi Rp 4,30 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 2,33 triliun. Kenaikanl aba didorong kenaikan pendapatan dan penghasilan (beban) operasional lain-lain bersih yang diimbangi oleh kenaikan beban penyelengagraan jasa, penyusutan dan amortisasi, karyawan, pemasaran umum dan administrasi.
Aset Perseroan
Aset perseroan tumbuh 16,6% menjadi Rp 138,30 triliun hingga semester I 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 118,62 triliun. Aset lancar perseroan naik 37,1% menjadi Rp 26,06 triliun. Hal itu terutama disebabkan oleh peningkatan kas dan setara yang diimbangi oleh penurunan aset yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual karena monetisasi FiberCo.
Di sisi lain, aset tidak lancar meningkat 12,7% menjadi Rp 112,24 triliun terutama disebabkan oleh kenaikan aset tetap, investasi pada entitas asosiasi dan venturan bersama.
Sementara itu, liabilitas perseroan naik 24,1% menjadi Rp 98,21 triliun hingga Juni 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 79,12 triliun. Liabilitas itu terdiri dari liabilitas jangka pendek yang naik 28,5% menjadi Rp 39,18 triliun terutama disebabkan kenaikan pinjaman jangka pendek, liabilitas sewa, utang pengadaan jangka pendek dan utang pajak. Sementara itu, liabilitas jangka panjang bertambah 21,4% menjadi Rp 59,02 triliun terutama disebabkan oleh kenaikan liabilitas sewa jangka panjang yang diimbangi oleh penurunan liabilitas jangka panjang.