Liputan6.com, New Delhi - Hamparan putih seluas 350 acre di Negara Bagian Rajasthan, India barat, sekilas tampak seperti lanskap musim dingin yang diselimuti salju. Gugusan putih yang berkilau itu bahkan kerap disamakan dengan pegunungan di Swiss atau Santorini di Yunani.
Namun, pemandangan tersebut bukanlah keajaiban alam. Hamparan putih itu merupakan lokasi pembuangan limbah lumpur marmer yang dihasilkan fasilitas pengolahan marmer di kawasan Kishangarh.
Advertisement
Dikutip dari Channel News Asia, Selasa (4/8/2026), dalam beberapa tahun terakhir, tempat ini justru menjelma menjadi destinasi wisata yang menarik ribuan pengunjung setiap hari. Sebagian besar wisatawan datang dari berbagai wilayah di India untuk mengabadikan foto dengan latar pemandangan yang tidak biasa.
"Saya sudah beberapa kali mendengar tentang tempat ini dari anak saya. Dia bilang tempat ini sangat indah dan meminta saya datang," kata Jameel Ahmad Abdul Hameed Moomin, yang datang bersama keluarganya dari Maharashtra untuk melihat langsung lokasi pembuangan limbah marmer tersebut.
Popularitas tempat ini mulai melejit setelah komedian Kapil Sharma menjadikannya lokasi syuting film komedi pada 2015. Sejak saat itu, hamparan putih di Kishangarh kerap muncul dalam berbagai film Bollywood maupun video musik.
Lokasi tersebut bahkan terdaftar di Google Maps sebagai objek wisata dengan nama "Dumping Yard Kishangarh". Tempat itu memperoleh rating 4,4 bintang dari lebih dari 6.800 ulasan. Banyak pengunjung memuji pemandangannya yang unik sekaligus membagikan waktu terbaik untuk berkunjung.
Popularitasnya juga semakin terdongkrak berkat unggahan para kreator konten dan fotografer di media sosial.
Melihat tingginya minat wisatawan, sejumlah pelaku usaha lokal mulai menawarkan paket pemotretan pranikah di lokasi tersebut. Beberapa di antaranya bahkan menyediakan pengalaman berkuda sebagai bagian dari paket yang ditawarkan.
Di Balik Keindahan, Ancaman Pencemaran Mengintai
Di balik panorama putih yang memikat, lokasi ini menghadapi sorotan terkait pencemaran lingkungan, kualitas air tanah, dan dampaknya terhadap desa-desa di sekitarnya.
Setiap hari, hampir 2 juta liter limbah lumpur marmer diangkut menggunakan ratusan truk dan dibuang ke lokasi tersebut.
Meski demikian, para wisatawan tetap berdatangan. Banyak di antaranya berfoto saat truk masih membuang limbah baru, bahkan ada yang berbaring langsung di atas tumpukan limbah marmer demi mendapatkan hasil foto yang menarik.
Para peneliti mengingatkan bahwa debu halus marmer dapat memicu penyakit pernapasan dan berbagai gangguan kesehatan lainnya. Selain itu, limbah tersebut juga berpotensi mengubah kawasan sekitar menjadi lahan yang tidak lagi layak dihuni.
Kepala Departemen Ilmu Lingkungan di Maharshi Dayanand Saraswati University, Subroto Dutta, mengatakan kadar kalsium karbonat di kawasan itu meningkat secara signifikan.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat lahan kehilangan kesuburan dan menjadi tandus. Air di kawasan itu juga memiliki kadar Total Dissolved Solids (TDS) yang tinggi sehingga tidak layak dikonsumsi.
Warga dan Pekerja Hadapi Risiko Kesehatan
Bagi Kota Kishangarh, keindahan hamparan putih itu harus dibayar dengan risiko yang tidak kecil.
Studi Central University of Rajasthan pada 2022 menunjukkan lebih dari 200.000 pekerja industri dan warga di sekitar lokasi secara rutin terpapar pencemaran dari limbah tersebut.
Seorang warga setempat, Mona Gujjar, mengatakan kandungan fluoride dalam air di desanya cukup tinggi. Menurutnya, kondisi itu membuat tanah menjadi semakin keras, hasil panen menurun, serta memicu masalah kesehatan pada anak-anak dan warga lanjut usia.
Penelitian lain yang diterbitkan pada Februari 2025 terhadap lokasi pembuangan limbah marmer serupa di Rajasthan juga mengungkap potensi paparan asbes.
Asbes merupakan mineral berserat alami yang dapat beterbangan di udara selama proses pengolahan marmer. Menghirup debu yang mengandung asbes dapat menimbulkan risiko kesehatan serius, termasuk kanker paru-paru.
Di lokasi pembuangan Kishangarh, para pekerja umumnya menutupi wajah dengan handuk atau masker serta menggunakan kacamata hitam untuk melindungi mata. Sebaliknya, wisatawan, termasuk anak-anak, banyak yang berkeliling tanpa mengenakan pelindung.
Para peneliti menilai lokasi pembuangan tersebut belum memiliki langkah pengamanan yang memadai untuk melindungi kesehatan manusia maupun lingkungan. Mereka juga menyoroti minimnya papan peringatan yang memberi tahu wisatawan mengenai potensi bahaya di kawasan tersebut.
Sementara itu, Kishangarh Marble Association menyatakan belum menerima laporan keluhan terkait kesehatan dan menegaskan bahwa lokasi pembuangan limbah tersebut tidak berdampak pada lahan pertanian di sekitarnya.
Pemerintah Negara Bagian Rajasthan belum memberikan tanggapan khusus terkait kekhawatiran tersebut. Namun, kepada CNA, pihak berwenang menyatakan sedang menyusun pedoman baru untuk mencegah pembuangan limbah yang tidak terkendali serta akan mengambil tindakan terhadap pelanggaran yang ditemukan.
Selain pengetatan regulasi, para pakar lingkungan dan warga juga mendorong agar limbah cair dari proses pemotongan marmer dan granit diolah serta didaur ulang, alih-alih dibuang ke lokasi pembuangan terbuka.