Data Neraca Dagang hingga Pengangguran AS jadi Perhatian Pekan Ini

Pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah berlawanan arah di tengah sentimen the Fed tahan suku bunga acuan.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 03 Agustus 2026, 21:03 WIB
Ilustrasi wall street (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah sentimen mempengaruhi pasar keuangan domestik pada pekan lalu.  Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlawanan arah di tengah sentimen eksternal dan internasl. Salah satunya sentimen bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed).

Mengutip riset Syailendra Capital, Senin (3/8/2026), dari eksternal, bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) mempertahankan suku bunga di level 3,5%-3,75% dengan tiga perbedaan pendapat terbanyak sejak September 2016. Ketua the Fed Kevin Warsh tetap konsisten menolak memberikan forward guidance dengan pernyataan resmi yang sangat pendek. Akan tetapi, ia menegaskan komitmen menurunkan inflasi.

Selain itu, Jepang dan Korea Selatan diduga melakukan intervensi terkoordinasi bersama Amerika Serikat untuk menguatkan mata uang kedua negara di pasar terbuka. Setelah intervensi dilakukan, indeks dolar AS turun dari level 100,2 ke 99,9.

Di sisi lain, realisasi penerimaan pajak bersih 2025 tercatat sebesar Rp 1.917,9 triliun atau susut 0,71% YoY. Tingginya angka restitusi dan moderasi harga komoditas global ini membuat defisit anggaran negara melebar menjadi Rp 670,3 triliun.

 Terbaru, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan rencana serangan militer AS ke Iran setelah kesepakatan kerangka kerja yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian ancaman nuklir Iran.

Seiring sentimen itu, nilai tukar rupiah melemah 0,325 ke level 18.029 per dolar Amerika Serikat pekan lalu. Selain itu, indeks dolar AS turun 1,53% ke level 99,8.

Di pasar obligasi, surat utang pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun tercatat turun tipis ke level 7,34% yang diikuti aliran dana investor asing yang masuk sebesar Rp 829 miliar pada pekan lalu. Di sisi lain, obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun bergerak naik dari 4,68% ke 4,71%.

Sedangkan di pasar saham, IHSG menguat 0,64% ke level 6.236 dengan aliran dana asing masuk sebesar Rp 7,33 triliun. Sementara itu, dua indeks saham AS di wall street menguat pekan lalu. Indeks Dow Jones naik 1% dan indeks S&P 500 bertambah 0,4%. Namun, indeks saham Nasdaq melemah 0,1%.

Lalu apa yang dicermati pekan ini:

3 Agustus 2026: Purchasing Managers Index (PMI), inflasi neraca dagang di Indonesia

3 Agustus 2026: PMI di AS

4 Agustus 2026: Neraca Dagang di AS

7 Agustus 2026: Tingkat Pengangguran di AS

 

Kinerja IHSG pada 27-31 Juli 2026

Seorang pria melihat ponselnya di depan layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (BAY ISMOYO/AFP)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan saham 27-31 Juli 2026. Kenaikan IHSG sepekan didorong sejumlah faktor internal dan eksternal termasuk the Federal Reserve (the Fed).

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (2/8/2026), IHSG naik 0,64% ke level 6.236,12 dari pekan lalu di posisi 6.196,43. Kapitalisasi pasar BEI juga bertambah 0,48% menjadi Rp 10.923 triliun dari Rp 10.870 triliun pada pekan lalu.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG naik 0,64% selama sepekan. Dari sisi sentimen, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi IHSG. Pertama, bank sentral Amerika Serikat atau the Federal Reserve (the Fed) masih mempertahankan suku bunga di 3,5%-3,75% pada Federal Open Market Committee (FOMC), meskipun ada beberapa pernyataan yang cenderung hawkish.

Kedua, rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS yang lebih rendah dibandingkan dengan harapan serta inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) AS yang melandai. Ketiga, investor masih mencermati akan kondisi geopolitik Timur Tengah yang cenderung mereda, sehingga mendorong penurunan harga minyak dan meredakan kekhawatiran inflasi global.

“Keempat musim rilis laporan keuangan emiten kuartal kedua 2026,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Kelima, Herditya menuturkan, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS secara mundurnya Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Selain itu, rata-rata nilai transaksi harian terpangkas 21,86% menjadi Rp 15,44 triliun dari Rp 19,76 triliun pada pekan lalu. Rata-rata volume transaksi harian BEI juga merosot 31,23% menjadi 30,04 miliar saham dari 43,68 miliar saham pekan lalu.

Tak hanya itu, rata-rata frekuensi transaksi harian juga melemah 31,88% menjadi 1,82 juta kali transaksi dari 2,,67 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Selama sepekan, aksi beli investor asing mencapai Rp 7,10 triliun. Kondisi ini berbeda dari pekan lalu yang tercatat aksi jual Rp 3,37 triliun.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya