Fakta di Balik Pagar Tinggi di Sejumlah Mal, Benarkah Antisipasi Demonstrasi?

Fenomena pagar tinggi di sejumlah mal memicu spekulasi publik. Pengusaha, pemerintah, hingga polisi buka suara dan memastikan kondisi keamanan tetap kondusif.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 03 Agustus 2026, 06:30 WIB
Pakuwon Mall Surabaya (sumber: pakuwon.com)

Liputan6.com, Jakarta - Pemasangan pagar besi setinggi sekitar 2,5 hingga 3 meter di sejumlah pusat perbelanjaan mendadak menjadi sorotan publik. Fenomena tersebut terlihat di beberapa mal besar, seperti Kota Kasablanka dan Gandaria City di Jakarta, Pakuwon Mall Surabaya, Pakuwon City Mall, Royal Plaza, Tunjungan Plaza, hingga Pakuwon Mall Bekasi.

Kemunculan pagar-pagar tersebut memicu beragam spekulasi di media sosial. Tidak sedikit warganet yang mengaitkannya dengan isu keamanan menjelang Agustus, termasuk dugaan antisipasi terhadap aksi demonstrasi besar seperti yang pernah terjadi pada tahun lalu.

Perbincangan pun semakin meluas setelah foto dan video pagar besi di sejumlah mal beredar di berbagai platform media sosial. Sebagian masyarakat mempertanyakan apakah pemasangan pagar dilakukan karena adanya potensi gangguan keamanan, sementara lainnya menilai langkah tersebut merupakan bagian dari kebijakan masing-masing pengelola pusat perbelanjaan.

Menanggapi berbagai spekulasi yang berkembang, pemerintah, asosiasi pengelola pusat perbelanjaan, aparat kepolisian, hingga pemilik jaringan mal terbesar di Indonesia akhirnya memberikan penjelasan. Mereka memastikan pemasangan pagar bukan mencerminkan kondisi keamanan nasional yang memburuk.

Lantas, apa sebenarnya alasan sejumlah pusat perbelanjaan memasang pagar? Apakah benar berkaitan dengan isu demonstrasi, atau justru ada pertimbangan lain yang menjadi dasar kebijakan tersebut? Jawabannya mulai terungkap melalui penjelasan dari para pengelola mal, asosiasi industri, pemerintah, hingga pelaku usaha ritel nasional.

 

APPBI: Pagar Dipasang Demi Ketertiban, Bukan karena Situasi Darurat

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja dalam acara Gerak Bersama 100 UMKM Lisensi Merek Lokal, Cililitan, Jakarta Timur, Rabu (23/7/2025). (Tira/Liputan6.com)

Di tengah berbagai spekulasi yang berkembang, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menegaskan bahwa pemasangan pagar di sejumlah mal bukanlah kebijakan baru maupun instruksi dari asosiasi.

Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja menjelaskan, banyak pusat perbelanjaan sebenarnya telah dilengkapi pagar sejak pertama kali dibangun. Sementara itu, mal yang baru memasang pagar belakangan ini melakukannya sesuai kebutuhan operasional masing-masing.

"Pemasangan pagar di pusat perbelanjaan bukanlah hal baru. Banyak pusat perbelanjaan yang sejak awal dibangun memang sudah dilengkapi dengan pagar," kata Alphonzus.

Menurut dia, bagi pengelola yang baru memasang pagar, tujuan utamanya adalah menjaga ketertiban kawasan, termasuk mengatur akses keluar masuk pengunjung.

"Jika sekarang ada beberapa pusat perbelanjaan yang baru mulai memasang pagar, hal itu lebih dikarenakan untuk kepentingan ketertiban saja," ujarnya.

Alphonzus menambahkan, terdapat pula pusat perbelanjaan yang berada di kawasan yang kerap menjadi jalur maupun titik aksi demonstrasi. Dalam kondisi tersebut, keberadaan pagar berfungsi sebagai batas atau perimeter yang jelas guna mendukung pengamanan kawasan.

Meski demikian, APPBI menegaskan tidak ada aturan yang mewajibkan seluruh mal memasang pagar. Keputusan tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan masing-masing pengelola sesuai karakteristik lokasi dan kebutuhan operasional.

 

Pemerintah dan Polisi Pastikan Situasi Tetap Kondusif

Menteri Perdagangan Budi Santoso di Kementerian Perdagangan, Selasa (14/7/2026).

Penjelasan serupa juga datang dari pemerintah. Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan tidak ada persoalan serius di balik pemasangan pagar di sejumlah pusat perbelanjaan.

Menurut dia, pemerintah telah berkoordinasi dengan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), serta APPBI. Hasilnya, tidak ditemukan adanya isu yang mengkhawatirkan.

"Oh enggak, enggak ada masalah, enggak ada. Enggak, enggak. Kita dari koordinasi dengan Hippindo, dengan Apindo, dengan APPBI enggak ada masalah kok, enggak ada isu itu," kata Budi.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga menilai kekhawatiran yang muncul sebaiknya tidak berlebihan. Ia bahkan berencana meminta pengelola melepas pagar yang baru dipasang apabila situasi tetap aman.

"Kami akan menjaga Jakarta mudah-mudahan Jakarta selalu aman, nyaman dan membuat kegembiraan bagi siapapun yang ada untuk menikmati Jakarta," ujarnya.

Sementara itu, Polda Metro Jaya menyatakan hingga saat ini belum menerima surat pemberitahuan mengenai aksi massa. Polisi tetap melakukan pemantauan melalui patroli dan analisis intelijen, namun memastikan situasi keamanan masih terkendali.

Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto, berbagai langkah mitigasi telah disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan keamanan tanpa mengganggu aktivitas masyarakat.

 

Pemilik Mal Pastikan Pagar Akan Dibongkar

Alasan Keamanan Pengunjung, Pakuwon Mall Solo Baru Pasang Pagar Besi

Sorotan publik terhadap pagar di sejumlah mal juga mendapat respons langsung dari para pemilik jaringan pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia.

Pendiri Pakuwon Group Alexander Tedja memastikan pagar yang sempat dipasang di Mal Kota Kasablanka akan segera dibongkar. Menurut dia, keputusan tersebut merupakan inisiatif manajemen lokal dan bukan kebijakan perusahaan.

"Itu kebijakan manajemen lokal dan akan segera dibongkar," kata Alex.

Pernyataan senada disampaikan Chairman Lippo Group James Riady. Ia menegaskan seluruh mal di bawah Lippo Group justru telah membongkar pagar dalam beberapa tahun terakhir karena kondisi keamanan dinilai jauh lebih baik dibandingkan masa lalu.

"Dulu semua mal memasang pagar ketika terjadi kerusuhan. Sekarang sudah tidak diperlukan lagi karena situasi sudah tenang," ujar James.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait mengaku telah berbicara langsung dengan Alexander Tedja. Ia mengapresiasi langkah cepat pengelola mal dalam memberikan klarifikasi sehingga tidak menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat.

Menurut Maruarar, penjelasan dari pelaku usaha menunjukkan bahwa pemasangan pagar merupakan kebijakan operasional di tingkat lokal, bukan refleksi dari memburuknya kondisi keamanan nasional.

 

Bisnis Mal Tetap Tumbuh, Pengusaha Optimistis Prospek Cerah

Di balik polemik pagar, para pelaku usaha justru menilai prospek industri pusat perbelanjaan di Indonesia masih sangat positif.

James Riady mengatakan permintaan ruang usaha dari para tenant bahkan lebih besar dibandingkan pasokan ruang yang tersedia di banyak pusat perbelanjaan modern.

"Sekarang justru kekurangan ruang. Permintaan untuk membuka toko lebih besar daripada pasokan ruang di pusat perbelanjaan modern. Ini masa emas bagi bisnis mal," kata James.

Ia mengungkapkan Lippo Group terus melakukan ekspansi karena melihat tingginya minat pelaku usaha membuka gerai baru. Saat ini, grup tersebut mengelola lebih dari 100 pusat perbelanjaan di berbagai kota di Indonesia.

Menurut James, apabila kondisi keamanan tidak kondusif, pengembang tentu tidak akan terus membangun mal baru maupun memperluas jaringan pusat perbelanjaan.

Karena itu, ia menilai pemasangan pagar di beberapa lokasi hanya merupakan kasus yang bersifat terisolasi dan tidak mencerminkan kondisi industri ritel secara keseluruhan.

Rangkaian penjelasan dari APPBI, pemerintah, aparat kepolisian, hingga pemilik jaringan mal pun mengarah pada kesimpulan yang sama. Pemasangan pagar di sejumlah pusat perbelanjaan dilakukan berdasarkan pertimbangan operasional masing-masing pengelola, sementara kondisi keamanan nasional dan iklim bisnis ritel modern dinilai tetap kondusif.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya