Liputan6.com, Jakarta - PT BUMA Internasional Grup Tbk membukukan kinerja operasional yang lebih efisien pada semester I 2026. Perseroan mencatat EBITDA sebesar US$ 69 juta, naik 8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 64 juta, dengan total pendapatan mencapai US$ 693 juta.
Peningkatan EBITDA tersebut ditopang oleh optimalisasi tenaga kerja, peningkatan keandalan armada, alokasi modal yang lebih disiplin, serta strategi pengelolaan aset yang berhasil memeperbaiki margin operasional.
Advertisement
Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim, mengatakan berbagai langkah efisiensi yang dijalankan sejak 2025 mulai memberikan hasil nyata.
“Peningkatan EBITDA, perbaikan margin, dan penguatan arus kas bebas menunjukkan bahwa berbagai langkah yang telah kami jalankan selama setahun terakhir di seluruh area operasional—termasuk optimalisasi tenaga kerja dan pemeliharaan—telah memberikan hasil, bahkan di tengah penurunan pendapatan dan lonjakan harga bahan bakar yang signifikan,” ujar Iwan di Jakarta, Minggu (2/8/2026).
Kinerja Operasional dan Produktivitas Armada
Secara operasional, volume pengupasan lapisan tanah penutup (overburden removal) selama semester I 2026 mencapai 186 juta bank cubic meter (BCM), turun 11% dibandingkan tahun lalu. Produksi batu bara juga turun 16% menjadi 32 juta ton.
Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh berakhirnya kontrak di tambang Binungan milik Berau Coal, tambang IBP milik Resource Alam Indonesia, serta tambang Burton milik Bowen Coking Coal di Australia. Selain itu, beberapa lokasi tambang juga telah memasuki fase penurunan produksi (ramp-down).
Namun, di luar kontrak yang telah berakhir, operasi inti BUMA justru mencatatkan pertumbuhan. Volume overburden removal meningkat sekitar 9% secara tahunan, sementara produksi batu bara naik 4% yang didukung oleh peningkatan keandalan armada serta kondisi cuaca yang lebih bersahabat.
Memasuki kuartal II 2026, perseroan juga mencatat peningkatan produktivitas. Volume overburden naik 10% dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi 97 juta BCM, sedangkan produksi batu bara meningkat 20% menjadi 17 juta ton.
Keandalan armada pun ikut membaik. Waktu henti (downtime) turun 11% dibandingkan kuartal sebelumnya dan berkurang 22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, waktu perbaikan alat (mean time to repair/MTTR) turun menjadi 7,5 jam, dan kemampuan alat beroperasi sebelum mengalami gangguan (mean time between stops/MTBS) terus meningkat.
Pengendalian Biaya dan Perbaikan Profitabilitas
Di sisi biaya, kenaikan harga bahan bakar masih menjadi tantangan utama. Biaya bahan bakar per BCM meningkat karena harga solar naik sekitar 29% sepanjang tahun berjalan. Meski demikian, konsumsi bahan bakar per BCM justru berhasil ditekan berkat perbaikan kondisi jalan angkut dan penerapan pengawasan operasional yang lebih ketat.
Perseroan juga berhasil menekan biaya tenaga kerja per BCM sebesar 7% dibandingkan tahun lalu dan 13% dibandingkan kuartal sebelumnya sebagai hasil dari program efisiensi yang dijalankan sejak 2025.
Dari sisi profitabilitas, rugi bersih berhasil dipangkas menjadi US$ 50 juta dari US$ 80 juta pada semester I 2025. Perbaikan tersebut didukung oleh kenaikan EBITDA, keuntungan dari penjualan aset lahan Atlantic Carbon Group (ACG), penurunan beban depresiasi dan amortisasi, serta keuntungan selisih kurs. Namun, hasil tersebut masih terbebani oleh kerugian investasi di 29Metals sebesar US$ 14,5 juta.
Arus kas menunjukkan perbaikan signifikan. Arus kas bebas (free cash flow) mencapai US$ 39 juta, melonjak tajam dari US$ 5 juta pada semester I 2025. Sementara itu, belanja modal (capital expenditure) turun drastis 67% menjadi US$ 37 juta seiring optimalisasi penggunaan armada dan pengalihan aset dari lokasi tambang yang telah selesai beroperasi.
Prospek Semester II dan Komitmen Keberlanjutan
Memasuki semester II 2026, perseroan akan melanjutkan fokus pada efisiensi operasional, pengendalian biaya, serta pengelolaan risiko harga bahan bakar demi menjaga penguatan arus kas.
“Kemajuan tersebut semakin menguat sepanjang kuartal kedua, ditandai dengan keandalan armada yang lebih baik, produktivitas yang lebih tinggi, serta peningkatan produksi. Memasuki semester kedua, prioritas kami adalah melanjutkan momentum operasional ini, menjaga disiplin biaya dan modal, serta mengelola eksposur harga bahan bakar seiring upaya kami memperkuat perolehan arus kas,” kata Iwan.
Di bidang keberlanjutan (sustainability), intensitas emisi Grup turun 4% dibandingkan kuartal I 2026. Selain itu, sekitar 20% pendapatan BUMA saat ini telah berasal dari batu bara nontermal. Perseroan juga memperluas program vokasi melalui PT BISA Ruang Nuswantara (BIRU), yang membuka peluang bagi tenaga kerja Indonesia untuk bekerja di Jepang melalui skema Specified Skilled Worker.