Liputan6.com, Jakarta - Menurut sebuah analisis, menghabiskan waktu secara online dikaitkan dengan tingkat stres yang tinggi, suasana hati yang buruk, serta terbengkalainya berbagai aktivitas harian.
Penelitian dari Universitas Duisburg-Essen yang diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE melakukan survei terhadap 900 orang dewasa di Jerman pada 2025. Seluruh responden pernah melakukan aktivitas secara online, mulai dari bermain game hingga berbelanja setidaknya satu kali dalam setahun terakhir.
Advertisement
Penggunaan internet mereka dikategorikan menjadi penggunaan yang bersifat patologis, berisiko, atau tidak bermasalah. Penggunaan dalam kategori bermasalah didefinisikan sebagai penggunaan aplikasi online secara berlebihan hingga menyebabkan gangguan fungsi harian atau tekanan psikologis.
Dikutip dari The Guardian, Senin (3/8/2026), para partisipan melakukan asesmen setiap malam selama dua minggu. Mereka melaporkan suasana hati, tingkat stres, besarnya keinginan membuka internet, serta total durasi online. Selain itu, asesmen juga mengukur tingkat kepuasan dari penggunaan internet dan apakah ada aktivitas lain yang terabaikan.
Partisipan dengan tingkat penggunaan internet bermasalah cenderung memiliki suasana hati yang lebih buruk, tingkat stres yang lebih tinggi, durasi penggunaan yang lebih lama, serta lebih sering mengabaikan aktivitas lain.
Studi ini juga menemukan bahwa godaan menjadi faktor utama yang membuat seseorang kecanduan internet. Sementara itu, perasaan senang dan lega muncul sebagai faktor yang memperkuat kebiasaan ini sehingga semakin sulit dihentikan.
Andreas Oelker, salah satu penulis studi tersebut, mengatakan bahwa bukan sekadar rasa stres atau suasana hati saja, melainkan godaan mengakses internet yang menjadi penentu utama seseorang melakukan aktivitas online.
Catatan Penting dari Peneliti
Memahami individu yang berisiko mengalami penggunaan internet berlebih sangat penting dilakukan guna mencegah dan menangani hal tersebut. Temuan kami mengisyaratkan bahwa membantu orang mengenali dan mengelola kemunculan godaan jauh lebih efektif daripada sekadar berfokus pada stres atau suasana hati, ujar Oelker.
Hasil studi menunjukkan bahwa rasa stres, suasana hati, dan godaan dapat digunakan untuk memprediksi penggunaan internet seseorang setiap harinya. Faktor-faktor tersebut kemudian memengaruhi rasa senang, lega, serta terbengkalainya aktivitas lain.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa tidak semua jenis penggunaan internet memiliki dampak negatif, melainkan hanya penggunaan yang berlebihan dan bermasalah.
Peneliti lainnya, Silke M. Muller, menyebutkan bahwa hanya sebagian kecil orang yang mengalami kecanduan pada tingkat tinggi. Menggunakan internet tetap memberikan kegembiraan, kesenangan, dan kelegaan dari stres selama aktivitas lain tidak terabaikan.
Perubahan Kimiawi Otak
Ia menambahkan, aktivitas penting yang dimaksud tidak hanya mencakup tugas dan tanggung jawab utama, tetapi juga kegiatan berdampak positif seperti berolahraga, menghabiskan waktu di luar ruangan, atau berkumpul bersama teman-teman.
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa anak muda yang kecanduan internet mengalami perubahan pada kimiawi otak yang dapat memicu ketergantungan lebih lanjut.