Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Jumat. Rupiah naik 89 poin atau 0,49% menjadi 18.022 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di posisi 18.111 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah salah satunya ditopang pergerakan harga minyak mentah yang cenderung turun. Kondisi tersebut terjadi seiring meredanya ketegangan di Timur Tengah dan munculnya tanda-tanda peningkatan arus lalu lintas di Selat Hormuz.
Advertisement
“Selat tersebut yang biasanya menjadi jalur bagi sekitar seperlima pengiriman global minyak mentah dan gas alam cair telah menjadi pusat perhatian pasar minyak karena sebagian besar wilayahnya terblokade sejak dimulainya perang AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Jumat (31/7/2026).
Pergerakan harga minyak menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar karena dapat memengaruhi sentimen terhadap rupiah.
Selain perkembangan di Timur Tengah, pelaku pasar turut mencermati kebijakan moneter Amerika Serikat. Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga, sesuai dengan perkiraan pasar.
Ketua The Fed Kevin Warsh disebut belum memberikan sinyal yang jelas mengenai arah kebijakan bank sentral AS selanjutnya, terutama terkait inflasi dan suku bunga.
Pasar Cermati Kebijakan Suku Bunga The Fed
Meski mempertahankan suku bunga, keputusan The Fed tidak diambil secara bulat. Tiga pembuat kebijakan disebut mendorong kenaikan suku bunga lebih lanjut di tengah inflasi yang masih sulit turun.
Perhatian investor juga tertuju pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS periode Juni yang tercatat lebih rendah dari perkiraan. Kondisi tersebut membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi dan tingginya suku bunga.
PCE menjadi salah satu indikator penting yang digunakan The Fed untuk mengukur perkembangan inflasi dan menentukan arah kebijakan moneter.
“Data ini merupakan indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed. Akan tetapi, indeks inti PCE masih berada jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen, dan pasar terlihat sudah memperhitungkan kemungkinan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga oleh The Fed pada akhir tahun ini," ujar Ibrahim.
Dengan kombinasi sentimen tersebut, rupiah berhasil mengakhiri perdagangan Jumat di zona hijau dan kembali mendekati level 18.000 per dolar AS.