Korea Selatan Gagal di Piala Dunia 2026, Petinggi Sepak Bola Dicecar Parlemen

Sidang Komite Olahraga membongkar dugaan nepotisme alumni universitas hingga maladministrasi internal federasi sepak bola Korea Selatan.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 31 Juli 2026, 10:07 WIB
Gelandang Timnas Korea Selatan, Park Jin-seob, bersama rekan-rekannya bereaksi setelah kalah dalam pertandingan Grup A Piala Dunia 2026 antara Afrika Selatan melawan Korea Selatan di Monterrey Stadium, Guadalupe, Meksiko, pada 24 Juni 2026. (Yuri CORTEZ / AFP)

Liputan6.com, Seoul - Mantan Presiden Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) dan mantan pelatih tim nasional putra Korea Selatan dicecar dalam sidang parlemen pada Kamis (30/7/2026).

Para anggota parlemen meminta penjelasan mereka atas berbagai persoalan yang melanda sepak bola nasional.

Chung Mong-gyu, yang baru-baru ini mundur dari jabatan Presiden KFA, dan Hong Myung-bo, yang meletakkan jabatan sebagai pelatih Korea Selatan setelah timnya tersingkir lebih awal dari Piala Dunia 2026, termasuk di antara para saksi yang dipanggil oleh Komite Olahraga Majelis Nasional.

Komite yang dipimpin Lee Jae-jung, anggota parlemen dari Partai Demokrat (DP) yang berkuasa, menggelar sidang tersebut untuk meminta keterangan dari Chung, Hong, dan sejumlah pihak lain terkait pengelolaan KFA yang dinilai tidak transparan serta penyebab Korea Selatan tersingkir pada fase grup Piala Dunia.

Korea Selatan hanya mencatat satu kemenangan dan dua kekalahan di Grup A sehingga gagal melaju ke babak 32 besar.

"Sepak bola sejak lama telah memberikan begitu banyak kegembiraan dan kebanggaan kepada masyarakat kita. Bagi kita, sepak bola bukan sekadar olahraga," kata Lee Jae-jung seperti dilaporkan kantor berita Yonhap.

"Belakangan ini, muncul berbagai dugaan terkait proses pemilihan pelatih dan transparansi di KFA. Masyarakat juga masih mengkhawatirkan cara KFA dikelola secara keseluruhan."

"Kami tidak berada di sini hanya untuk memperdebatkan mengapa tim nasional bermain begitu buruk. Sidang ini akan mengusut berbagai dugaan yang diarahkan kepada KFA sekaligus mencari jalan agar organisasi tersebut dapat dikelola dengan lebih baik. Kami juga akan meninjau tata kelola sepak bola secara keseluruhan."

Chung, yang mengundurkan diri pada awal Juli setelah memimpin KFA selama 13 tahun, meminta maaf atas hasil buruk Korea Selatan di Piala Dunia.

"Selama berada di KFA, saya telah berusaha sebaik mungkin untuk mendorong perkembangan sepak bola Korea. Saya meminta maaf atas serangkaian persoalan yang menimbulkan kontroversi dan atas hasil yang tidak memuaskan di Piala Dunia," tutur Chung, yang menjabat pula sebagai Ketua HDC Hyundai Development Co., salah satu perusahaan konstruksi besar di Korea Selatan.

"Mulai sekarang, saya akan berfokus mengelola perusahaan dan berusaha memberikan kontribusi kepada masyarakat."

 

Proses Penunjukan Hong Dipertanyakan

Hong, yang mengundurkan diri tak lama setelah Korea Selatan dipastikan tersingkir, turut menyampaikan permintaan maaf.

"Saya bertanggung jawab penuh karena tidak mampu memenuhi harapan para pendukung," kata Hong.

"Saya akan menyampaikan fakta sejauh yang saya ketahui dan tidak akan menghindar dari tanggung jawab."

KFA sebelumnya menjalani pemeriksaan menyeluruh oleh Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata pada 2024. Saat itu, federasi tersebut dituding tidak menjalankan proses penilaian dan prosedur yang semestinya ketika menunjuk Hong sebagai pelatih kepala.

Chung, Hong, dan sejumlah petinggi KFA lainnya pernah dipanggil dalam audit parlemen pada 2024 untuk menjawab pertanyaan para anggota Komite Olahraga. Banyak persoalan yang dibahas ketika itu kembali diangkat dalam sidang.

Lee Jae-jung, selaku ketua komite, turut mempertanyakan penyebab Korea Selatan gagal mencapai fase gugur Piala Dunia, meski sebelumnya menegaskan bahwa sidang tersebut tidak semata-mata membahas hasil pertandingan.

Anggota parlemen dari DP, Lim O-kyeong, menanyakan kepada Chung soal anggapan bahwa alumni Korea University mendapat perlakuan istimewa di lingkungan KFA. Chung juga merupakan lulusan universitas yang berlokasi di Seoul tersebut.

"Dari 25 pelatih tim nasional putra yang ditunjuk selama saya menjabat, hanya satu orang yang merupakan lulusan Korea University. Dari sekitar 20 pelatih tim nasional putri, tidak ada satu pun yang berasal dari universitas tersebut," jawab Chung.

"Namun, saya tetap meminta maaf karena masyarakat memiliki kesan seperti itu terhadap KFA."

Bae Hyun-jin dari Partai Kekuatan Rakyat (PPP) menilai Hong ditunjuk tanpa melalui wawancara yang semestinya. Menurut Bae, Lee Lim-saeng, yang ketika itu menjabat Direktur Teknik KFA meski tidak memiliki kewenangan mengangkat pelatih, hanya menawarkan posisi tersebut kepada Hong di sebuah toko roti dekat rumahnya.

Ketika Bae bertanya apakah Hong tidak merasa malu dengan proses pengangkatannya, mantan pelatih itu menjawab, "Ketika menerima tawaran tersebut, saya mengira semua prosedur yang diperlukan sudah dijalankan. Masyarakat mungkin menilai prosesnya tidak transparan, tetapi saya tidak pernah sekalipun meminta perlakuan khusus."

Lee Lim-saeng, yang telah meninggalkan jabatannya di KFA dan kini bekerja untuk sebuah klub di Kamboja, tidak menghadiri sidang.

"Saya perlu menegaskan bahwa ketidakhadiran mereka dalam sidang ini bukan berarti para saksi tersebut terbebas dari tanggung jawab," ungkap Lee Jae-jung.

 

KFA Didesak Berbenah Usai Kegagalan di Piala Dunia

Seorang pria memegang spanduk bertuliskan "Hong Myung-bo! Ludahkan uangnya dan keluar! Bubarkan KFA" sambil menunggu kedatangan pelatih kepala Timnas Korea Selatan, Hong Myung-bo, yang telah mengumumkan pengunduran dirinya setelah timnya tersingkir di babak penyisihan grup Piala Dunia FIFA 2026, di Bandara Internasional Seoul-Incheon, Incheon pada 30 Juni 2026. Kekalahan telak Korea Selatan di babak pertama Piala Dunia telah memicu kemarahan di dalam negeri dan seruan untuk perombakan total di pucuk pimpinan belum mereda setelah pengunduran diri pelatih. Pelatih Korea Selatan mengundurkan diri pada 28 Juni 2026, sehari setelah timnya tersingkir dari babak penyisihan grup Piala Dunia dan setelah mendapat kecaman dari presiden negara tersebut. (JADE GAO/AFP)

Setelah Korea Selatan tersingkir dari Piala Dunia, kementerian olahraga membentuk Komite Inovasi K-Football. Komite tersebut bertugas membahas berbagai langkah untuk memperbaiki tata kelola KFA dan persoalan lain dalam sepak bola negara itu.

Dua ketua bersama komite baru itu, mantan kapten Korea Selatan Park Ji-sung dan Presiden Komite Olahraga dan Olimpiade Korea Ryu Seung-min, dipanggil sebagai saksi ahli dalam sidang. Namun, hanya Ryu yang hadir.

Dalam sesi berikutnya, Kim Jin-kyu, yang menjadi asisten Hong pada Piala Dunia, membantah kabar mengenai perselisihan antara Hong dan sejumlah pemain selama turnamen.

Anggota parlemen dari DP, Choi Min-hee, mengatakan sebagian pendukung menduga Hong sengaja mencadangkan dua pemain senior, kapten Son Heung-min dan gelandang Lee Jae-sung, pada awal pertandingan terakhir Grup A melawan Afrika Selatan karena persoalan pribadi.

Ketika Choi menyebut sebagian pendukung menilai absennya kedua pemain itu sejak awal turut menyebabkan Korea Selatan kalah 0-1, Kim mengatakan dirinya dan jajaran pelatih tidak sependapat dengan penilaian tersebut.

Choi kemudian kembali mendesak Kim menjelaskan alasan Korea Selatan kalah dari tim yang tidak diunggulkan itu.

"Sulit bagi saya untuk mengatakan mengapa kami kalah," jawab Kim.

Choi pun menimpali, "Sikap seperti inilah yang membuat sepak bola kita mengalami berbagai persoalan, padahal kita memiliki banyak pemain hebat."

Dalam sesi sidang pada sore hari, para anggota komite mendesak KFA mencabut banding atas putusan pengadilan yang mendukung tuntutan Kementerian Olahraga agar Chung dan sejumlah petinggi KFA lainnya dikenai sanksi disiplin.

Kementerian sebelumnya meminta KFA menjatuhkan sanksi kepada Chung dan sejumlah pejabat lainnya atas berbagai penyimpangan yang ditemukan dalam audit pada 2024.

KFA kemudian memperoleh putusan sela pengadilan yang menangguhkan sementara tuntutan pemberian sanksi tersebut. Putusan itu membuka jalan bagi Chung untuk terpilih menjalani masa jabatan keempat sebagai Presiden KFA pada Februari 2025.

Ketika kementerian kembali meminta KFA mengambil tindakan pada awal tahun ini, federasi tersebut justru memilih melanjutkan proses hukum.

Anggota parlemen dari PPP, Yun Yong-keun, mengatakan KFA seharusnya mengakui kesalahannya dan mencabut banding sebagai bukti kesediaan organisasi itu untuk berbenah.

Namun, Wakil Presiden KFA Lee Yong-soo, yang saat ini menjalankan tugas sebagai pemimpin sementara federasi, menolak desakan tersebut.

"Bukan berarti kami menolak menerima seluruh temuan. Kami menilai masih ada beberapa hal yang perlu diperdebatkan," beber Lee Yong-soo.

"Dalam rapat dewan, kami telah memutuskan untuk melanjutkan perkara ini ke persidangan berikutnya dan kemudian menerima dengan lapang dada apa pun hasilnya. Tidak tepat apabila kami kembali menggelar rapat dewan hanya untuk mencabut banding."

"Apabila pemimpin dan jajaran dewan yang baru nantinya memutuskan untuk mencabut banding, keputusan itu menjadi kewenangan mereka."

Lee Yong-soo membantah tudingan Lee Jae-jung bahwa dirinya bersikap keras kepala.

"Kami mengambil langkah ini karena ada beberapa bagian dari temuan kementerian yang belum dapat kami terima," ujarnya.

Di tengah polemik tersebut, Menteri Olahraga Chae Hwi-young mengatakan kementeriannya tengah mempersiapkan satu lagi audit khusus terhadap KFA.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya