Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional (International Air Transport Association/IATA) melaporkan bahwa permintaan penumpang pesawat global pada bulan Juni mengalami penurunan sebesar 1,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama dipicu konflik Timur Tengah serta melemahnya lalu lintas domestik di China, Amerika Serikat, dan Jepang.
Mengutip data IATA dari Anadolu, Jumat (31/7/2026), secara keseluruhan, total kapasitas maskapai yang diukur dalam available seat kilometers berkurang 1,3%, sementara tingkat keterisian penumpang (passenger load factor) terkikis 0,4 poin persentase menjadi 84,2%. Namun, jika data dari kawasan Timur Tengah tidak diperhitungkan, penurunan permintaan global tercatat lebih moderat, yakni sebesar 0,6%.
Advertisement
Lalu lintas penumpang internasional secara global terkoreksi 0,9% dari tahun sebelumnya. Meskipun demikian, angka tersebut justru menunjukkan kenaikan 1,1% apabila kawasan Timur Tengah dikecualikan atau tidak dimasukkan. Di saat yang sama, kapasitas penerbangan internasional menyusut 0,6% dengan tingkat keterisian melandai ke posisi 84,2%.
Di sektor domestik, permintaan tercatat berkontraksi hingga 3%. Kondisi ini sejalan dengan penurunan kapasitas sebesar 2,4% dan tingkat keterisian yang melorot ke angka 84%.
Kinerja paling tertekan dialami oleh maskapai di Timur Tengah. Permintaan internasional di kawasan ini anjlok 14% dan kapasitas penerbangan merosot 11%, sehingga tingkat keterisian penumpangnya tergerus 2,6 poin persentase menjadi 76,3%.
Konflik Iran Jadi Beban Berat
IATA menjelaskan bahwa konflik bersenjata di Iran masih menjadi beban berat bagi lalu lintas udara regional. Kendati demikian, laju penurunannya telah berkurang hingga separuhnya sejak April seiring berangsur normalnya operasional penerbangan.
"Permintaan perjalanan udara secara global pada bulan Juni mengalami penurunan sebesar 1,7% jika dibandingkan dengan tahun 2025," ungkap Direktur Jenderal IATA, Willie Walsh.
Walsh menambahkan bahwa eskalasi ketegangan yang kembali terjadi serta kenaikan harga bahan bakar atau avtur akan menghambat pemulihan di kawasan tersebut, sekaligus berpotensi memicu kenaikan harga tiket pesawat.
Kondisi Maskapai Eropa
Berbeda dengan kawasan lain, maskapai di Eropa justru mencatatkan pertumbuhan permintaan internasional sebesar 1,5%. Bahkan, rute penerbangan Eropa–Asia melonjak hingga 11% dan menjadi pertumbuhan tertinggi di antara seluruh koridor internasional utama.
Sementara itu, maskapai di Asia-Pasifik membukukan kenaikan permintaan tipis sebesar 0,4%, meski kapasitas penerbangannya turun 1,1%. Menurut IATA, lonjakan harga bahan bakar mendorong sejumlah maskapai mengurangi frekuensi penerbangan jarak pendek (short-haul) di kawasan Asia.
Pertumbuhan regional tertinggi berhasil dicapai oleh maskapai asal Afrika dengan kenaikan sebesar 6,7%, disusul oleh maskapai Amerika Latin sebesar 3,5%. Adapun maskapai di Amerika Utara mencatatkan penurunan permintaan internasional sebesar 1%, yang diiringi dengan penyusutan kapasitas sebesar 0,7%.