Liputan6.com, Tokyo - Gempa yang kembali mengguncang Prefektur Kumamoto mengingatkan bahwa Jepang masih hidup berdampingan dengan ancaman aktivitas seismik. Di negara yang berada di salah satu kawasan paling rawan gempa di dunia itu, para arsitek, insinyur, dan perencana kota selama puluhan tahun terus mengembangkan berbagai cara agar bangunan mampu bertahan saat bumi berguncang.
Di Jepang, terdapat sebuah prinsip yang sudah lama dikenal dalam dunia rekayasa bangunan: 'gempa bumi bukanlah penyebab utama jatuhnya korban jiwa, melainkan bangunan yang runtuh'.
Advertisement
Berangkat dari pemahaman tersebut, teknologi konstruksi terus berkembang, mulai dari penggunaan peredam raksasa yang bekerja layaknya bandul di dalam gedung pencakar langit, hingga sistem pegas dan bantalan khusus yang memungkinkan bangunan bergerak terpisah dari fondasinya saat terjadi gempa.
Dikutip dari CNN, Kamis (30/7/2026), meski teknologi semakin canggih sejak Gempa Besar Kanto menghancurkan sebagian besar Tokyo dan Yokohama lebih dari seabad lalu, sebagian besar inovasi tersebut tetap bertumpu pada satu konsep sederhana yang telah lama dipahami, yakni bangunan yang lentur memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dibanding bangunan yang kaku.
Profesor Arsitektur dan Urbanisme Massachusetts Institute of Technology (MIT), Miho Mazereeuw, mengatakan banyak bangunan penting di Jepang, seperti rumah sakit dan fasilitas vital lainnya, dibangun di atas bantalan karet sehingga bangunan dapat bergoyang mengikuti pergerakan tanah.
"Pada dasarnya, konsepnya selalu sama. Alih-alih melawan pergerakan bumi, bangunan justru dibiarkan bergerak mengikuti guncangan," ujarnya.
Prinsip tersebut sebenarnya telah diterapkan di Jepang selama berabad-abad. Salah satu contohnya adalah pagoda kayu tradisional yang mampu bertahan dari berbagai gempa besar, meski banyak bangunan modern di sekitarnya runtuh. Pagoda Toji setinggi sekitar 55 meter di dekat Kyoto, misalnya, tetap berdiri kokoh saat Gempa Hanshin Besar atau Gempa Kobe pada 1995, sementara banyak bangunan di sekitarnya roboh.
Secara umum, arsitektur tradisional Jepang memiliki kemiripan dengan Korea dan China. Namun, karena lebih sering dilanda gempa, Jepang mengembangkan sejumlah penyesuaian yang membuat bangunannya lebih tahan terhadap guncangan.
Salah satu rahasianya terletak pada penggunaan shinbashira, yaitu tiang utama yang dibuat dari batang pohon utuh dan telah digunakan selama sedikitnya 1.400 tahun.
Tiang tersebut dapat dipasang dengan berbagai cara, baik ditanam ke tanah, bertumpu pada balok, maupun digantung dari bagian atas bangunan. Saat gempa terjadi, tiang akan melentur sementara setiap lantai bergerak ke arah yang berlawanan. Gerakan menyerupai ular itu membantu meredam energi gempa, didukung oleh sambungan kayu yang saling mengunci, struktur penyangga yang longgar, serta atap lebar yang menambah kestabilan bangunan.
Belajar dari Setiap Gempa
Jika bangunan tradisional menjadi inspirasi, gedung pencakar langit modern Jepang menerapkan prinsip yang sama dalam skala berbeda.
Hingga 1960-an, Jepang membatasi tinggi bangunan maksimal 31 meter karena kekhawatiran terhadap bencana alam. Setelah berbagai teknologi tahan gempa berkembang, aturan tersebut dilonggarkan dan pembangunan gedung tinggi mulai berkembang pesat.
Kini Jepang memiliki lebih dari 270 bangunan dengan tinggi di atas 150 meter, menjadikannya salah satu negara dengan jumlah gedung tinggi terbanyak di dunia.
Bangunan-bangunan tersebut menggunakan rangka baja yang lebih fleksibel dibanding beton konvensional. Selain itu, banyak gedung dilengkapi peredam berukuran besar dan sistem base isolation berupa bantalan karet yang berfungsi sebagai penyerap guncangan.
Perusahaan pengembang gedung tertinggi di Jepang yang dibuka di kawasan Azabudai Hills, Tokyo, pada Juli tahun lalu bahkan mengklaim sistem tahan gempanya memungkinkan aktivitas bisnis tetap berjalan meski terjadi gempa sekuat Gempa Tohoku 2011 berkekuatan magnitudo 9,1.
Namun, ketahanan terhadap gempa di Jepang tidak hanya diterapkan pada gedung pencakar langit. Di banyak wilayah seperti Wajima, perlindungan justru difokuskan pada bangunan sehari-hari, mulai dari rumah, sekolah, perpustakaan, hingga pusat perbelanjaan.
Keberhasilan Jepang dalam meningkatkan ketahanan bangunan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga kebijakan pemerintah.
Mazereeuw menjelaskan bahwa sekolah-sekolah arsitektur di Jepang sejak lama menggabungkan pendidikan arsitektur dengan teknik struktur.
"Berbeda dengan banyak negara lain, sekolah arsitektur di Jepang selalu mengajarkan arsitektur dan teknik struktur secara bersamaan," katanya.
Selain itu, pemerintah Jepang juga terus mempelajari setiap gempa besar yang terjadi. Para peneliti melakukan survei kerusakan secara rinci, kemudian hasilnya digunakan untuk memperbarui regulasi bangunan.
Upaya tersebut sudah berlangsung setidaknya sejak abad ke-19. Kehancuran bangunan bata dan batu bergaya Eropa saat Gempa Mino-Owari pada 1891 dan Gempa Besar Kanto 1923 mendorong lahirnya aturan baru mengenai tata kota dan standar konstruksi.
Perubahan aturan terus berlanjut sepanjang abad ke-20 hingga akhirnya pada 1981 Jepang memperkenalkan standar bangunan tahan gempa baru yang dikenal sebagai shin-taishin. Aturan tersebut disusun sebagai respons atas Gempa Miyagi yang terjadi tiga tahun sebelumnya.
Standar baru itu memperketat kemampuan bangunan menahan beban serta meningkatkan toleransi terhadap pergerakan antarlantai saat gempa.
Efektivitas aturan tersebut terlihat jelas ketika Gempa Hanshin Besar melanda pada 1995. Data Global Facility for Disaster Reduction and Recovery menunjukkan sebanyak 97 persen bangunan yang runtuh dibangun sebelum standar 1981 diberlakukan.
Peristiwa itu kemudian mendorong pemerintah melakukan program besar-besaran untuk memperkuat bangunan lama agar memenuhi standar baru, termasuk melalui berbagai skema subsidi.
Inovasi Terus Berlanjut
Inovasi bangunan tahan gempa di Jepang terus berkembang hingga saat ini.
Arsitek Jepang seperti Shigeru Ban dan Toyo Ito misalnya, mengembangkan penggunaan cross-laminated timber (CLT), material kayu rekayasa yang diyakini dapat menjadi alternatif pembangunan gedung bertingkat di masa depan.
Kemajuan teknologi komputer juga memungkinkan para insinyur mensimulasikan berbagai skenario gempa sebelum bangunan didirikan.
Meski demikian, sebagian besar rancangan tersebut belum pernah benar-benar diuji oleh gempa dengan skala paling ekstrem.
Profesor Universitas Tokyo, Robert Geller, mengatakan banyak gedung tinggi memang telah dirancang berdasarkan simulasi komputer agar mampu bertahan saat gempa.
"Tetapi kita baru benar-benar mengetahui apakah simulasi itu akurat ketika gempa besar benar-benar terjadi. Jika satu saja gedung tinggi runtuh, dampaknya bisa sangat besar," ujarnya.
Karena itu, pertanyaan yang hingga kini masih menjadi perhatian para ahli gempa dan insinyur di Jepang tetap sama, yakni bagaimana jika gempa besar benar-benar menghantam kota seperti Tokyo.
Menurut Geller, Tokyo kemungkinan cukup aman, tetapi belum ada yang bisa memastikan sepenuhnya.
"Tidak ada cara untuk mengetahui dengan pasti sampai gempa besar berikutnya benar-benar terjadi," katanya.