Hilirisasi Batu Bara Modal Besar Tapi Profit Minim, BKPM Cari Teknologi Murah

BKPM menilai nilai tambah turunan batu bara tak sebanding dengan investasi jumbo yang dibutuhkan. Pemerintah kini fokus mencari teknologi efisien.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 30 Juli 2026, 09:20 WIB
Direktur Hilirisasi Mineral dan Batu Bara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rizwan Aryadi Ramadhan. (Liputan6.com/Christian)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menilai pengembangan hilirisasi batu bara masih menghadapi tantangan berat karena nilai tambah yang dihasilkan belum setinggi komoditas mineral. Kondisi tersebut membuat proyek hilirisasi batu bara membutuhkan investasi besar dengan tingkat keuntungan yang relatif lebih rendah.

Direktur Hilirisasi Mineral dan Batu Bara BKPM, Rizwan Aryadi Ramadhan, mengatakan bahwa pemerintah telah menyusun peta jalan hilirisasi batu bara. Namun, secara keekonomian, produk turunan batu bara dinilai belum sekompetitif hilirisasi nikel maupun bauksit.

"Kalau dilihat dari nilai tambah, memang untuk turunan batu bara ini tidak terlalu besar dibandingkan dengan komoditas mineral seperti nikel atau bauksit. Nilai tambahnya tidak lebih dari 10 kali lipat dari batu baranya sendiri," ujar Rizwan usai penandatanganan MoU BEC dan KPC di Ritz-Carlton Hotel Kuningan, Jakarta, dikutip Kamis (30/7/2026).

Menurutnya, proyek hilirisasi batu bara seperti pemrosesan metanol membutuhkan modal yang sangat besar. Salah satunya adalah proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol yang nilainya diperkirakan mencapai US$ 2,3 miliar.

 

Ada Negara Minat Hilirisasi Batu Bara

Direktur Hilirisasi Mineral dan Batu Bara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rizwan Aryadi Ramadhan. (Liputan6.com/Christian)

Rizwan menjelaskan bahwa besarnya kebutuhan investasi tersebut mendorong pemerintah untuk terus mencari teknologi yang lebih efisien dan terjangkau agar proyek hilirisasi batu bara memiliki nilai komersial yang lebih tinggi.

"Usahanya terlalu besar dibandingkan dengan keuntungan yang mungkin akan kita dapatkan. Makanya, kita perlu teknologi yang bisa lebih efisien dan lebih murah," tegasnya.

Meski demikian, Rizwan mengungkapkan bahwa sudah ada sejumlah negara yang menyatakan minat untuk berinvestasi pada proyek hilirisasi batu bara. Selain proyek metanol, pemerintah juga akan mengawal rencana investasi proyek dimethyl ether (DME) agar dapat menjadi bukti bahwa industrialisasi batu bara layak secara komersial.

"Harapannya, ini bisa memberikan gambaran bahwa industrialisasi batu bara punya nilai komersial yang lebih baik dari sebelumnya," pungkas Rizwan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya