Liputan6.com, Teheran - Iran menolak usulan Oman untuk mengawasi Selat Hormuz secara bersama-sama. Iran kemudian mengajukan usulan tandingan saat kedua negara masih membahas rincian kesepakatan akhir mengenai pengelolaan jalur pelayaran penting tersebut.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan dalam siaran televisi pemerintah pada Selasa (28/7/2026) bahwa usulan Oman belum cukup menjawab kekhawatiran Iran mengenai kendali atas Selat Hormuz.
Advertisement
Menurut dia, usulan tandingan Iran akan memberi pihaknya kendali lebih besar atas jalur perairan tersebut.
Selat Hormuz menjadi salah satu pokok utama konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sejak serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari.
Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair atau LNG dunia dari negara-negara produsen di kawasan Teluk dikirim melalui selat sempit tersebut.
Tak lama setelah perang pecah, Iran menutup Selat Hormuz sehingga memicu gangguan pasokan energi dunia. AS kemudian membalas dengan memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Berdasarkan MoU yang ditandatangani Iran dan AS pada 17 Juni, Selat Hormuz seharusnya dibuka kembali untuk pelayaran tanpa pungutan selama sedikitnya 60 hari.
Namun, rumusan dalam MoU itu tidak cukup jelas sehingga memicu perselisihan mengenai pihak yang memiliki kendali utama atas selat tersebut. Selat Hormuz berada di wilayah perairan Iran dan Oman. Kedua pihak juga berbeda pendapat mengenai rute yang harus dilalui kapal.
Perselisihan tersebut membuat AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Teheran kemudian membalas dengan menyerang aset militer dan infrastruktur AS di kawasan.
Pertempuran antara AS dan Iran terhenti pada akhir pekan lalu. Namun, perundingan mengenai masa depan Selat Hormuz masih terus berlangsung.
Berikut usulan yang diajukan Oman dan Iran mengenai pengelolaan Selat Hormuz:
Apa yang Diusulkan Oman?
Gharibabadi mengungkapkan bahwa Oman mengusulkan mekanisme bersama di tingkat kawasan yang membagi kendali atas Selat Hormuz secara seimbang antara Iran dan Oman.
Dalam skema tersebut, Iran akan mengatur jalur pelayaran di sisi wilayahnya, sedangkan Oman mengelola jalur yang berada di sepanjang pesisirnya.
"Oman mengusulkan kepada kami pembentukan sebuah rute di Selat Hormuz, dengan 50 persen berada di wilayah perairan kami dan 50 persen lainnya di wilayah perairan Oman. Kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz dapat masuk melalui perairan kami dan keluar melalui wilayah perairan Oman," kata Gharibabadi kepada televisi pemerintah.
Oman juga mengusulkan agar kapal-kapal yang melintas membayar biaya sukarela yang hasilnya akan diberikan kepada kedua negara.
Usulan tersebut diyakini mencontoh pengaturan yang berlaku di Selat Malaka, jalur laut yang menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.
Dalam pengaturan itu, Indonesia, Malaysia, dan Singapura meminta kapal-kapal yang melintas memberikan kontribusi secara sukarela. Dana tersebut digunakan untuk membiayai sarana navigasi, perlindungan lingkungan, serta operasi pencarian dan penyelamatan.
Usulan Oman dilaporkan mendapat dukungan dari negara-negara di kawasan.
Namun, Gharibabadi mengatakan Iran akhirnya menolak usulan Oman karena dinilai belum memenuhi kepentingan keamanan nasional Teheran.
Apa yang Diusulkan Iran?
Menurut Gharibabadi, usulan tandingan Iran akan membuat Iran mengatur pelayaran di jalur yang berada di sisi wilayahnya. Sementara itu, Muscat hanya akan mengelola sebagian jalur di sisi seberang, bukan seluruhnya.
"Usulan kami adalah satu rute sepenuhnya berada di wilayah perairan Republik Islam Iran. Sebagian dari rute lainnya juga melewati wilayah perairan Iran sehingga Iran dapat secara efektif mengawasi lalu lintas kapal yang masuk maupun keluar," kata Gharibabadi.
Ia memperingatkan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup apabila Oman menolak rencana tersebut.
Gharibabadi menegaskan bahwa pengaturan di Selat Hormuz tidak dapat kembali seperti sebelum perang, ketika kapal-kapal dapat melintas tanpa membayar pungutan apa pun.
Wartawan Al Jazeera Resul Serdar Atas melaporkan dari Teheran bahwa Oman kini mempertimbangkan usulan lain yang dapat mencakup tiga jalur pelayaran.
Satu jalur akan melewati wilayah perairan Iran, satu jalur melewati perairan internasional, dan satu jalur lainnya melewati wilayah perairan Oman.
Belum diketahui bagaimana Teheran akan menanggapi usulan tersebut.
"Sumber-sumber kami mengatakan Iran menunjukkan sejumlah kelonggaran," lapor Serdar.