Kisah Unik Jepang, Punya Shindo untuk Ukur Intensitas Guncangan Gempa

Teknologi kebencanaan Jepang bisa memprediksi nilai Shindo dalam hitungan detik untuk mengirim peringatan ke HP sebelum guncangan gempa tiba.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 29 Juli 2026, 07:00 WIB
Foto udara memperlihatkan sebuah jembatan yang runtuh sebagian akibat gempa di Yatsushiro, Prefektur Kumamoto, Jepang, Selasa (28/7/2026). (Dok. Kyodo News via AP)

Liputan6.com, Tokyo - Kisah unik kali ini datang dari Jepang, negara yang menggunakan skala khusus bernama shindo untuk mengukur seberapa kuat guncangan gempa dirasakan di suatu lokasi.

Skala yang digunakan Badan Meteorologi Jepang atau Japan Meteorological Agency (JMA) tersebut berkisar dari angka 0 hingga 7. Secara keseluruhan, shindo memiliki 10 tingkat karena kategori 5 dan 6 masing-masing dibagi lagi menjadi tingkat "bawah" (lower) dan "atas" (upper).

Shindo berbeda dengan magnitudo.

Magnitudo menggambarkan besarnya energi yang dilepaskan dari sumber gempa. Sementara itu, shindo menunjukkan intensitas guncangan di suatu wilayah serta dampak yang mungkin ditimbulkan.

Karena diukur berdasarkan kondisi di lapangan, tingkat shindo dari satu peristiwa gempa dapat berbeda-beda antarwilayah. Semakin tinggi angkanya, semakin kuat pula guncangan dan dampak yang ditimbulkan.

Dampak Guncangan Berdasarkan Shindo

  • Shindo 7: Orang tidak mungkin bertahan dalam posisi berdiri dan dapat terpental akibat kuatnya guncangan. Perabot yang tidak terpasang kokoh kemungkinan besar roboh atau terlempar, sedangkan dinding dari blok beton yang diperkuat dapat runtuh.
  • Shindo 6 Atas: Orang tidak mungkin tetap berdiri dan terpaksa merangkak untuk bergerak. Sebagian besar perabot yang tidak terpasang kokoh akan roboh, serta bangunan dengan ketahanan gempa rendah dapat mengalami kerusakan berat hingga roboh.
  • Shindo 6 Bawah: Sangat sulit untuk berdiri tegak. Benda-benda berat dan lemari pakaian yang tidak terpasang kuat kemungkinan besar roboh, serta pintu dapat tersangkut hingga sulit dibuka.
  • Shindo 5 Atas: Orang kesulitan bergerak dan berjalan tanpa berpegangan pada benda yang stabil. Piring-piring di dalam lemari berjatuhan.
  • Shindo 5 Bawah: Benda-benda yang tergantung berayun dengan keras.
  • Shindo 4: Dirasakan oleh sebagian besar orang, termasuk yang sedang berjalan. Guncangan ini dapat membangunkan orang tidur serta membuat benda tergantung berayun cukup kuat.
  • Shindo 3: Dirasakan oleh sebagian besar orang di dalam bangunan. Piring di dalam lemari dapat bergetar hingga menimbulkan bunyi.
  • Shindo 2: Dirasakan oleh banyak orang yang sedang diam di dalam bangunan dan membuat benda tergantung berayun ringan.
  • Shindo 1: Hanya dirasakan oleh sebagian kecil orang yang sedang diam di dalam bangunan.
  • Shindo 0: Tidak dapat dirasakan oleh manusia dan hanya bisa dideteksi oleh alat pengukur.

 

 

Catatan Sejarah Gempa Jepang

Pada peristiwa Gempa Tohoku tanggal 11 Maret 2011—yang memicu tsunami raksasa hingga bencana nuklir Fukushima—guncangannya dirasakan hampir di seluruh Jepang. Saat itu, intensitas guncangan mencapai shindo 7 di sebagian wilayah Prefektur Miyagi dan shindo 5 atas di sejumlah kawasan Tokyo. Sebaliknya di Kyushu, guncangannya hanya mencapai shindo 1 dan nyaris tidak terasa.

Tingkat Shindo 7 sendiri resmi ditambahkan ke dalam sistem JMA pada tahun 1949. Sejak saat itu, tingkat tertinggi yang tercatat antara lain pada:

  • Gempa Kobe (1995)
  • Gempa Chuetsu (2004) – yang menyebabkan kereta peluru Shinkansen keluar dari rel
  • Gempa Besar Jepang Timur (2011)
  • Gempa Kumamoto Pertama (14 April 2016)
  • Gempa Kumamoto Kedua (16 April 2016)
  • Gempa Hokkaido Iburi Timur (2018)
  • Gempa Semenanjung Noto (2024)

Daftar peristiwa gempa dengan intensitas guncangan ekstrem tersebut kini resmi bertambah menyusul penetapan skala Shindo 7 oleh JMA terhadap gempa dangkal yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Pulau Kyushu pada Selasa (28/7/2026). Kantor berita Anadolu melaporkan bahwa Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) semula mencatat gempa itu magnitudo 7,1, tetapi kemudian merevisinya menjadi magnitudo 6,8.

Gempa dilaporkan berpusat di daratan Kota Uki dengan kedalaman sangat dangkal, yaitu hanya 10 kilometer di bawah permukaan tanah.

 

Evolusi Pengukuran Otomatis dan Peringatan Dini

Sebelum April 1996, tingkat shindo ditentukan secara manual berdasarkan intensitas guncangan yang dirasakan oleh petugas JMA dan kerusakan di sekitar lokasi pengamatan. Namun sejak April 1996, JMA sepenuhnya beralih menggunakan alat pengukur intensitas seismik (seismic intensity meters) secara otomatis.

Alat-alat tersebut tersebar di berbagai wilayah Jepang untuk mengukur guncangan riil. Hasil pengukurannya dikirimkan secara otomatis sehingga informasi intensitas gempa dapat segera dipublikasikan.

Pengukuran shindo pasca-gempa ini berbeda dengan perkiraan yang digunakan dalam Sistem Peringatan Dini Gempa (Earthquake Early Warning).

Sistem peringatan dini bekerja dengan menganalisis gelombang awal atau gelombang P (P-wave) yang merambat lebih cepat tetapi bergetar lebih lemah. Komputer JMA mengolah data tersebut untuk memperkirakan pusat gempa, magnitudo, estimasi tingkat shindo, serta waktu kedatangan guncangan utama (gelombang S / S-wave).

Berdasarkan perkiraan kilat tersebut, peringatan langsung disebarkan melalui ponsel, TV, radio, hingga sistem otomatis untuk menghentikan kereta cepat, mengendalikan lift, dan mengamankan fasilitas pabrik. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya