5 Cara Ajak Anak Belajar Soal Uang

Simak rekomendasi ahli agar dapat mengajarkan keuangan kepada anak.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 29 Juli 2026, 18:00 WIB
Ilustrasi mengajari anak mengenal keuangan (Foto: Kris Len/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Para ahli menyatakan topik keungan, yang sebelumnya dianggap sulit oleh orangtua, sekarang tak lagi demikian, karena sekarang telah tersedia banyak produk perbankan yang dapat membantu orang tua untuk menuntun anak-anak dalam mengatur keuangan.

Melansir The Associated Press, Rabu (29/7/2026), seorang profesional cybersecurity asal Texas, Jamie Corum mengatakan, dia dan istrinya memprioritaskan edukasi finansial kepada anak mereka dengan aktivitas yang menarik, agar mereka tertarik dengan menabung dan menyusun anggaran.

Contohnya, di pasar swalayan, Corum memberi waktu dua menit untuk anaknya yang berusia 10 tahun untuk melihat-lihat, dan waktu 10 menit untuk memilih apa yang akan dibeli sambil memikirkan dana dan pajak yang harus dibayar.

"Tujuan saya adalah agar mereka memiliki hubungan sehat dengan uang tanpa rasa rendah diri," ujar dia.

Sementara itu, direktur bidang pendidikan di Greenlight, sebuah aplikasi keuangan pribadi untuk keluarga, Jennifer Seitz, mengatakan generasi ini mulai sadar akan pentingnya edukasi keuangan.

"Generasi ini sangat berkomitmen untuk memberi yang terbaik untuk anak mereka, walau sebagian besar merasa belum mampu," kata Seitz.

Hal ini ditunjang oleh perkembangan produk perbankan, seperti kartu debit yang dapat digunakan oleh anak-anak di bawah pengawasan orangtua, serta aplikasi yang menerapkan unsur game pada uang agar ramah dengan anak.

Selain itu, beberapa orang justru mulai belajar saat mereka jadi orangtua, contohnya seorang perawat yang menjadi pembuat konten keuangan, Naseema McElroy. Saat putrinya berusia satu tahun, dia terinspirasi untuk belajar tentang keuangan pribadi demi membayar hutang. Setelahnya, dia membagikan ilmu tersebut kepada temannya dan audiens daring.

"Awalnya saya hanya ingin membagikan ilmu keuangan yang saya pelajari dengan teman-teman saya, karena saya merasa kami telat mempelajarinya, lalu kami semua punya anak," kata dia. 

Seitz mengatakan, banyak orangtua yang ingin mulai mengajarkan keuangan kepada anak-anaknya karena dahulu dia tidak mendapatkan itu. 

Inilah beberapa rekomendasi ahli agar dapat mengajarkan keuangan kepada anak-anak:

1. Sering-Sering Obrolkan Keuangan

Ilustrasi mengajarkan anak soal uang (Foto: Andryko Podilnyk/Unsplash)

Pakar keuangan pribadi dan pendiri WorkMoney, sebuah organisasi nirlaba di bidang keuangan pribadi, Carrie Joy Grimes, mengatakan percakapan tentang keuangan terasa sulit jika tidak terbiasa, namun jika ingin anak-anak memiliki hubungan sehat dengan uang, membicarakannya adalah hal terbaik yang bisa dilakukan.

“Bicarakan keuangan di depan anak-anakmu untuk membiasakannya,” ujar Grimes.

Contohnya, di keluarga Corum, topik keuangan sudah menjadi keseharian mereka. "Kami mengatakan bahwa di rumah ini ada batasan anggaran, dan semua yang saya dan ibunya bawa pulang ada pekerjaannya,” tuturnya.

Cara terbaik untuk memulai adalah dengan membicarakan harga, ujar CEO dan pendiri KidVestors, sebuah platform literasi finansial untuk anak-anak, Courtney Pettway. Coba tanya hal seperti: Harga barang ini berapa? Kenapa kamu mau barang ini? Apakah ini kebutuhan atau keinginan?

Jika mereka mendapat uang saku, coba tanya: Berapa lama kamu harus menabung untuk beli barang ini?

Pelajaran keuangan dapat dilakukan di meja makan, di pasar swalayan, di pusat perbelanjaan, dan dalam keadaan sehari-hari apapun.

2.Ajarkan Anak-anak untuk Membuat Keputusan Finansial

"Aspek utama keuangan pribadi adalah kemampuan membuat keputusan finansial. Ini dapat diajarkan dengan memberi anak-anak sedikit uang dan membiarkan mereka memilih cara membelanjakannya," ujar Grimes.

Saat memberikan kesempatan untuk memilih, orang tua seharusnya tidak menilai keputusan anak-anak, ujar pakar keuangan konsumen di BadCredit.org, sebuah situs keuangan pribadi, Bobbi Rebell. 

Saat pilihannya dianggap sebagai preferensi pribadi dibanding salah-benar, anak-anak akan merasa lebih percaya diri dalam membuat keputusan, lanjutnya.

3.Ajarkan Cara Membuat Tujuan Finansial

Ilustrasi sebuah keluarga menabung bersama sang anak. (Tomwang/Depositphotos.com)

Bagi sebagian besar anak-anak, akses uang pertama mereka adalah melalui uang saku. Mau menabung untuk video game baru ataupun sepeda, menetapkan tujuan untuk uang mereka dapat menjadi cara bagus untuk mengajarkan nilai menabung.

“Menyadari perkembangannya, melihat seberapa dekat mereka dengan tujuannya, membayangkan tujuannya, kemudian merayakan saat mencapai tujuan tersebut dapat mengajarkan mereka bahwa mereka dapat membuat tujuan jadi kenyataan,” ujar Seitz.

Salah satu cara untuk memantau perkembangan adalah dengan toples tabungan. Sediakan tiga jenis toples, yakni ‘tabungan’, ‘investasi’, dan ‘sumbangan’. Saat anak-anak melihat toplesnya mulai penuh, mereka akan terdorong untuk memasukkan lebih banyak uang.

Selain itu, melibatkan anak-anak secara aktif dalam perencanaan masa depan juga dapat bermanfaat, demikian saran terapis keuangan dan pendiri Mind Money Balance, sebuah layanan kesejahteraan keuangan, Lindsay Bryan-Podvin. 

Misalnya, jika anak ingin mengikuti perkemahan olahraga musim panas yang mahal, doronglah mereka untuk menabung sebagian biayanya dari uang saku atau penghasilan tambahan.

4.Biarkan Mereka Buat Kesalahan

Membuat kesalahan saat mempelajari keuangan adalah hal mutlak. Namun, ini bisa jadi kesempatan untuk mempelajari pelajaran penting yang berguna di masa depan, ujar Rebell.

Dia juga berpendapat anak-anak harus menghadapi kesalahan tersebut sendiri, alih-alih orangtua terus menyelesaikan masalah mereka. “Jika terus-terus ditolong, mereka tidak akan belajar cara mengaturnya,” kata Rebell.

Bryan-Podvin juga menyarankan untuk tidak merespon kesalahan secara negatif. Menunjukkan frustasi berlebih maupun amarah dapat merusak kepercayaan anak dan membuat mereka ragu untuk cerita dengan orang tua mereka saat membuat kesalahan biasa.

“Bantu mereka mengatur emosi, bantu mereka mencari solusi lain,” tambahnya.

 

5.Tingkatkan Kreativitas

Uang bisa terkesan membosankan, jadi membuatnya menyenangkan, menarik, dan menghibur adalah kunci untuk menarik perhatian anak-anak.

Contohnya, saat berbelanja peralatan sekolah, Corum menetapkan biaya dari tabungannya untuk digunakan anaknya memilih barang yang diinginkan. Namun, saat membeli mainan atau barang non-kebutuhan lainnya, Corum memberi anaknya sebagian uang saku atau uang yang didapatkan setelah mengerjakan tugas.

Corum memberikan anak-anaknya kartu debit dan menggunakan aplikasi keuangan keluarga untuk mendistribusikan uang saku dan memonitor pengeluaran mereka. Anak-anaknya juga memiliki akses ke kartu debit mereka melalui portal aplikasinya di mana mereka bisa melihat pengeluaran, tabungan, investasi, dan mempelajari topik keuangan lainnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya