Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia turun tajam setelah Iran dilaporkan bersedia menghentikan serangan selama Amerika Serikat (AS) juga mempertahankan jeda serangan. Perkembangan ini meredakan kekhawatiran pasar setelah konflik kedua negara meningkat selama hampir dua pekan.
Mengutip CNBC, Selasa (28/7/2026), harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman September anjlok 8,7% dan ditutup pada US$ 88,36 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman September turun 7,5% menjadi US$ 82,61 per barel.
Advertisement
Iran mengindikasikan akan menghentikan serangan selama AS juga menahan diri untuk tidak melakukan serangan.
Jeda serangan tersebut terjadi setelah Washington memutuskan menghentikan sementara kampanye pengebomannya. Keputusan itu diambil setelah para penasihat Presiden AS Donald Trump dilaporkan memperingatkan bahwa militer mulai kehabisan target yang layak diserang.
Selain itu, muncul kekhawatiran bahwa operasi militer berkepanjangan dapat menguras persediaan senjata AS.
Perkembangan tersebut memberikan harapan bahwa eskalasi konflik AS-Iran dapat mereda setelah ketegangan selama hampir dua pekan sebelumnya meningkatkan kekhawatiran terhadap pasar energi global.
Iran Terapkan Prinsip Serangan Dibalas Serangan
Seorang pejabat Iran mengatakan sikap Teheran tetap berpegang pada prinsip serangan akan dibalas dengan serangan. Namun, Iran juga akan menghentikan operasinya apabila AS tidak kembali menyerang.
"Sikap Teheran tetap 'serangan dibalas serangan': jika serangan berhenti, Iran juga akan menghentikan operasinya. Pesan itu telah disampaikan kepada Amerika Serikat," kata pejabat Iran tersebut.
Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, mengatakan kepada Fox News Sunday bahwa Presiden Donald Trump memilih menghentikan sementara serangan untuk memberikan ruang bagi upaya diplomasi.
Jeda serangan kedua negara menjadi perhatian pelaku pasar setelah konflik sebelumnya memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.
Meredanya ketegangan kemudian mendorong harga minyak turun signifikan. Brent bahkan kembali berada di bawah level US$ 90 per barel setelah ditutup di posisi US$ 88,36.
Perkembangan konflik AS-Iran juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor dalam menilai prospek inflasi dan arah kebijakan suku bunga AS.
Harga Minyak dan Suku Bunga The Fed
Analis HSBC, Dhiraj Narula, mengatakan kenaikan harga minyak sebelumnya turut mendorong kembali ekspektasi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Meski harga energi sempat melonjak, menurut Narula, ekspektasi inflasi sejauh ini masih relatif terkendali.
Ia menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari komunikasi yang lebih kuat dari para pejabat The Fed mengenai komitmen mereka menjaga stabilitas harga.
Pesan tersebut membantu mencegah lonjakan harga minyak memengaruhi ekspektasi inflasi dalam jangka panjang.
Dengan demikian, pergerakan harga minyak menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar menjelang arah kebijakan The Fed. Harga energi yang tinggi dapat meningkatkan tekanan inflasi, sedangkan penurunan harga minyak berpotensi meredakan kekhawatiran tersebut.
Kini, pelaku pasar akan mencermati apakah jeda serangan AS-Iran dapat bertahan dan membuka jalan bagi proses diplomasi. Perkembangan konflik kedua negara berpotensi tetap menjadi salah satu penggerak utama harga minyak dunia dalam waktu dekat.