Pengorbanan Guru Tri Septiana, Menerjang Ombak Demi Mimpi Anak Pulau Tegal

Di balik mimpi-mimpi besar anak-anak Pulau Tegal, ada sosok Tri Septiana yang setiap hari setia menembus ombak demi mengajar.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 27 Juli 2026, 22:17 WIB
Tri Septiana, rutin mengajar anak-anak di Pulau Tegal. (Liputan6.com/Istimewa).

Liputan6.com, Jakarta - Hampir setiap pagi, sebelum sebagian orang memulai aktivitas, Tri Septiana sudah lebih dulu bersiap menghadapi ombak. Perempuan asal Gebang, Kabupaten Pesawaran, Lampung itu mengendarai sepeda motor menuju bibir pantai, lalu menaiki perahu kecil untuk menyeberang ke Pulau Tegal.

Perjalanan yang memakan waktu sekitar 20 menit saat cuaca cerah itu kerap berubah menjadi perjuangan ketika angin kencang dan hujan mengguyur di tengah laut. Meski demikian, hal tersebut tak pernah membuat langkahnya surut.

Sesampainya di pulau, belasan anak sudah menunggu dengan sapaan yang selalu membuat lelahnya terbayar. "Bu Guru..."

Sudah hampir satu dekade Tri menjalani rutinitas tersebut demi memastikan anak-anak di Pulau Tegal tetap bisa mengenyam pendidikan.

Tak banyak yang mengetahui, sosok sederhana itu merupakan istri Serda Marinir Heri Dwi Santoso, prajurit Yonif 9 Marinir Brigif 4 Marinir/BS.

Namun bagi Tri, identitas itu bukanlah kisah utama. Baginya, yang paling berarti adalah kesempatan melihat anak-anak di pulau terpencil memiliki masa depan yang lebih baik.

Tri Septiana, rutin mengajar anak-anak di Pulau Tegal. (Liputan6.com/Istimewa).

Perjalanan pengabdiannya dimulai pada 2016 ketika masih menjadi guru honorer.

Saat mengikuti kegiatan bakti sosial di Pulau Tegal, dia menemukan kenyataan yang menyentuh hati. Banyak anak usia sekolah tidak memperoleh pendidikan formal karena sulitnya akses menuju sekolah di daratan.

Untuk belajar, mereka harus menyeberangi laut menuju Desa Sidodadi, Kecamatan Teluk Pandan, kemudian melanjutkan perjalanan ke sekolah dengan berjalan kaki atau membayar ojek. Biaya transportasi laut pun menjadi beban tersendiri bagi keluarga nelayan.

"Kalau tidak punya perahu, mereka harus menumpang dan ikut membayar bensin. Tidak semua orang tua mampu," ujar Tri, (27/7/2026).

Kondisi tersebut membuat banyak anak memilih berhenti sekolah. Sebagian lainnya hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung dari warga sekitar yang bersedia mengajar.

Tri Septiana, rutin mengajar anak-anak di Pulau Tegal. (Liputan6.com/Istimewa).

Bertahan Ketika Relawan Lain Mundur

Pada awalnya, Tri tidak berjuang sendirian. Bersama beberapa guru honorer, dia rutin mengajar anak-anak di Pulau Tegal. Namun perjalanan yang berat membuat satu per satu relawan memilih berhenti.

Ada yang takut menghadapi ombak, ada pula yang tidak sanggup menjalani perjalanan laut setiap hari.

Kini, hanya Tri bersama kepala sekolahnya, Uniroh, yang masih setia bertahan. Saat pertama mengajar, muridnya hanya enam orang.

Mereka berasal dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga orang dewasa yang belum bisa membaca. Semua belajar dalam satu ruangan sederhana tanpa pembagian kelas, tanpa seragam, dan dengan fasilitas yang sangat terbatas.

"Yang sudah besar kadang malu karena belajar bersama adik-adiknya. Tapi mereka memang tidak punya pilihan," ujar Tri.

Perjalanan menuju Pulau Tegal juga tak selalu bersahabat. Tri mengaku pernah terjebak hujan deras di tengah laut dengan perlindungan seadanya di atas perahu kecil.

"Kalau hujan di tengah laut, ya basah semua. Tapi mau bagaimana lagi," ujar Tri sambil tersenyum.

Di tengah perjuangan itu, semangatnya sempat goyah. Namun sang suami menjadi sosok yang selalu menguatkan.

"Kasihan anak-anak itu. Anggap saja mereka anakmu sendiri. Kalau anak kita tidak ada yang mengajari, bagaimana?' Itu yang selalu saya ingat," tutur Tri.

Dari Rumah Baca hingga Lahir Mahasiswa Pertama

Perlahan, perjuangan Tri mulai membuahkan hasil. Bersama komunitas Sukarelawan Peduli Pendidikan Pulau Tegal (SP3T), ia menggalang bantuan dari berbagai pihak. Dukungan juga datang dari lingkungan Yonif 9 Marinir tempat suaminya berdinas.

Rumah baca sederhana akhirnya berdiri, disusul pengakuan resmi dari Dinas Pendidikan melalui pembentukan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Kehadiran PKBM memungkinkan anak-anak Pulau Tegal mengikuti pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, hingga Paket C dan memperoleh ijazah resmi.

Kini sekitar 20 anak masih aktif belajar, mulai jenjang TK hingga SMA. Bahkan, tiga alumninya telah berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

"Mereka ada yang mengambil jurusan pendidikan guru sekolah dasar dan olahraga. Harapan saya, suatu saat mereka kembali untuk mengajar adik-adiknya di Pulau Tegal," kata Tri.

Meski hingga kini listrik masih mengandalkan genset dan lampu minyak, serta sinyal internet sering hilang, semangat belajar anak-anak tetap menyala.

Tri Septiana, rutin mengajar anak-anak di Pulau Tegal. (Liputan6.com/Istimewa).

Tokoh masyarakat Pulau Tegal, Samian, mengatakan keberadaan PKBM telah mengubah masa depan generasi muda di pulau tersebut.

"Kalau sekolah ini berhenti, bagaimana nasib anak-anak kami? Alhamdulillah sekarang mereka sudah bisa sekolah sampai Paket C dan mulai berani punya cita-cita," ujar dia.

Menurut Samian, sejak para prajurit Marinir sering datang membantu masyarakat, banyak anak mulai memiliki impian baru.

"Sekarang kalau ditanya cita-citanya, banyak yang ingin menjadi Marinir," kata Samian.

Di balik mimpi-mimpi besar anak-anak Pulau Tegal, ada sosok Tri Septiana yang setiap hari setia menembus ombak demi mengajar. Ada pula dukungan seorang prajurit Marinir yang terus menguatkan langkah istrinya dari kejauhan.

Bagi warga Pulau Tegal, setiap bantuan yang datang bukan sekadar menghadirkan bangunan atau fasilitas pendidikan. Lebih dari itu, bantuan tersebut menjaga mimpi anak-anak agar tidak berhenti di bibir pantai.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya