Liputan6.com, Jakarta - 2.500 bibit mangrove spesies Rhizophora stylosa dan Rhizophora mucronata ditanam di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, aksi ini menjadi investasi ekologis jangka panjang untuk mencegah abrasi di kawasan pesisir.
Penanaman dilakukan menggunakan metode rumpun, yakni teknik yang dirancang untuk meningkatkan tingkat keberhasilan tumbuh bibit di kawasan pesisir.
Advertisement
Selain membantu menahan abrasi dan meredam gelombang, mangrove juga memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Vegetasi pesisir ini menjadi habitat bagi berbagai biota laut sekaligus penyerap karbon biru (blue carbon) yang berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim.
Pulau Pramuka dipilih sebagai lokasi penanaman karena memiliki posisi strategis sebagai pusat aktivitas masyarakat di Kepulauan Seribu. Di sisi lain, kawasan tersebut juga rentan terhadap abrasi serta kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim.
Penanaman 2.500 bibit mangrove tersebut digagas PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia. Untuk menjaga keberlanjutan program, BTN menggandeng komunitas penggerak mangrove setempat.
Kolaborasi tersebut mencakup pendampingan dan perawatan bibit setelah proses penanaman selesai. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan tingkat keberhasilan rehabilitasi ekosistem pesisir dalam jangka panjang.
Mendorong Pemberdayaan Masyarakat
Corporate Secretary sekaligus Penanggung Jawab Program TJSL BTN, Ramon Armando mengatakan, penanaman mangrove merupakan implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Program ini tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga mendorong pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi.
"BTN bersama komunitas penggerak lingkungan bergerak bersama membangun benteng alami untuk membantu mencegah abrasi. Di sisi lain, mangrove juga menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut yang mendukung keberlanjutan mata pencaharian masyarakat pesisir, khususnya nelayan di Kepulauan Seribu," kata Ramon, Senin (27/7/2026).
Melalui program ini, BTN berharap rehabilitasi mangrove di Pulau Pramuka dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan maupun masyarakat pesisir. Inisiatif tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi Perseroan dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Tujuan 13 tentang penanganan perubahan iklim dan Tujuan 14 mengenai pelestarian ekosistem laut.
"Keberhasilan restorasi lingkungan tidak hanya ditentukan oleh penanaman, tetapi juga oleh perawatan yang berkelanjutan. Karena itu, kolaborasi dengan masyarakat lokal menjadi kunci agar mangrove yang ditanam hari ini dapat terus tumbuh, memberikan manfaat ekologis, sekaligus membuka peluang ekonomi melalui pengembangan ekowisata," tutup Ramon.