Ancaman Downtime Mengerikan, Industri Mulai Lirik Hybrid Cloud Demi Amankan Bisnis

Bukan sekadar masalah teknis di divisi TI, downtime menjadi pemicu utama lumpuhnya operasional hingga merosotnya finansial perusahaan.

oleh IskandarDiterbitkan 27 Juli 2026, 15:00 WIB
Ilustrasi downtime pada server jaringan. Credit: Geralt/Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - Di era transformasi digital dan smart manufacturing, ketergantungan sektor industri pada sistem digital kian tidak terelakkan.

Namun, di balik kemudahan tersebut, ada ancaman besar yang siap mengintai kapan saja. Salah satunya downtime atau kondisi saat sistem digital, server, maupun jaringan mendadak tidak dapat diakses.

Bukan sekadar masalah teknis di divisi TI, downtime kini menjadi pemicu utama lumpuhnya operasional hingga merosotnya finansial perusahaan.

Laporan The True Cost of Downtime 2024 mengungkap fakta mengejutkan, di mana rata-rata pabrik manufaktur skala besar berpotensi menelan kerugian hingga USD 253 juta (sekitar Rp 4,5 triliun) per tahun akibat unplanned downtime.

Kerugian dahsyat ini berasal dari terhentinya rantai produksi, hilangnya potensi pendapatan, pembengkakan biaya tenaga kerja, perbaikan darurat, hingga rusaknya reputasi akibat keterlambatan pesanan.

“Dalam lingkungan bisnis yang semakin mengandalkan sistem digital, downtime tidak lagi hanya berdampak pada sistem TI, tetapi juga keberlangsungan operasional perusahaan secara keseluruhan,” ujar VP of Marketing Biznet Gio, Hari Syah Agam, dikutip dari Antara, Senin (27/72026).

Untuk menghindari risiko single point of failure, yaitu kelumpuhan total akibat ketergantungan pada satu titik infrastruktur, banyak pelaku industri mulai beralih ke strategi hybrid cloud.

Temuan Flexera 2026 State of the Cloud Report mencatat bahwa 73 persen organisasi global telah mengadopsi hybrid cloud untuk menjaga efisiensi dan kelangsungan bisnis mereka.

 

GIO Hybrid Cloud Infrastructure

Menjawab kebutuhan pasar tersebut, Biznet Gio menggandeng Rainer Server (bagian dari PT Indo Mega Vision/IMV) untuk meluncurkan GIO Hybrid Cloud Infrastructure. Solusi ini menggabungkan fleksibilitas layanan cloud dengan keandalan infrastruktur on-premise dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

Melalui integrasi ini, perusahaan memiliki lapisan redundansi yang kuat untuk mendukung business continuity dan disaster recovery. Ketika terjadi gangguan pada salah satu sistem, operasional tetap berjalan dan proses pemulihan dapat dilakukan secara instan.

Layanan GIO Hybrid Cloud Infrastructure ini dibekali dengan garansi SLA uptime hingga 99,9 persen serta mengantongi sertifikasi standar keamanan internasional seperti ISO 27001, PCI DSS, dan AICPA SOC.

Managing Director Indo Mega Vision, Sugiyanto Sutikno, menekankan fleksibilitas dan kontinuitas infrastruktur merupakan kunci utama bertahan di era digital.

"Melalui kolaborasi Rainer Server dan Biznet Gio, kami menghadirkan solusi hybrid cloud yang menggabungkan keandalan on-premise dengan skalabilitas cloud guna menjamin ketahanan serta efisiensi investasi TI perusahaan," tutur Sugiyanto.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya