Lonjakan Harga Minyak Bebani Pasar Keuangan Global Sepekan

Konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran memanas sehingga berdampak terhadap lonjakan harga minyak telah mempengaruhi pasar keuangan global.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 26 Juli 2026, 14:37 WIB
Pedagang bekerja di New York Stock Exchange, New York, Amerika Serikat (AS). (AP Photo/Seth Wenig, file)

Liputan6.com, Jakarta - Lonjakan harga minyak seiring konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memanas dan hasil kinerja keuangan yang mengecewakan dari beberapa perusahaan teknologi terbesar di dunia telah mempengaruhi pasar keuangan global. Investor pun kini cenderung hati-hati.

Mengutip riset Ashmore Asset Management Indonesia, ditulis Minggu (26/7/2026), pekan ini, harga minyak menguat 10,90%. Di antara indeks saham acuan global, indeks CSI300 di China mencatat kinerja terbaik dengan menguat 2,65%. Sementara itu, indeks Nasdaq turun 1,5%.

Dalam riset Ashmore menyebutkan, investor menghindari aset berisiko, dan beralih ke safa heven seiring menghadapi guncangan geopolitik dan guncangan kinerja keuangan.

Setelah periode relatif tenang, ketegangan antara AS dan Iran meningkat tajam. Washington melanjutkan serangan udara setiap malam, dan Presiden AS Donald Trump mengatakan, gencatan senjata sebelumnya telah berakhir.

Harga minyak Brent naik di atas US$ 100 per barel, naik dari US$80-an hanya seminggu sebelumnya. “Harga minyak lebih tinggi meningkatkan biaya di seluruh perekonomian, membuat inflasi tetap tinggi, dan mempersulit bank sentral yang berharap untuk memangkas suku bunga,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.

Adapun bagi importir minyak seperti Indonesia, lonjakan minyak yang berkepanjangan menjadi hambatan bagi mata uang, mempengaruhi inflasi dan anggaran pemerintah.

Pada saat yang sama, laporan keuangan perusahaan teknologi besar pada 2026 justru mengeceakan. Alphabet dan Tesla melaporkan hasil laporan keuangan pada Rabu, diikuti Intel pada Kamis pekan ini. “Kekhawatiran bukan tentang keuntungan, melainkan pengeluaran, investor khawatir perusahaan-perusahaan ini menginvestasikan sejumlah besar dana ke dalam kecerdasan buatan tanpa hasil yang jelas,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.

 

Saham Teknologi di AS Melemah

Ilustrasi seorang pedagang efek tengah bekerja di lantai Bursa Efek New York atau Wall Street. (Foto: AP/Richard Drew)

Sementara itu, Alphabet turun 7%, dan saham Tesla melemah, menyeret Nasdaq anjlok lebih dari 2%.

"Setelah kenaikan panjang ke rekor tertinggi, sekadar memenuhi harapan saja tidak lagi cukup. Ini mengapa menyebar investasi di berbagai bidang penting. Selama setahun terakhir, beberapa raksasa yang terkait dengan AI telah menopang pasar global, jadi ketika hanya dua yang mengecewakan, seluruh pasar dapat melemah, bersama saham itu,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.

Di sisi lain, harga komoditas bertahan sejak gencatan senjata secara efektif. Harga minyak Brent naik 36%, dan gas alam Eropa menguat 38%.

Ashmore melihat, sejumlah sektor saham yang diuntungkan dari kondisi pasar saat ini adalah sektor saham minyak dan gas, alih-alih hanya fokus pada teknologi.

Hal ini mengingat sumber energi alternatif dan komoditas lain yakni tembaga, litium, dan nikel juga dapat memperoleh daya tarik jika peningkatan energi konvensional berkelanjutan. “Indonesia adalah contoh bagus lainnya dengan sedikit paparan terhadap saham AI yang mahal, dan ekspor batu bara dan minyak sawit yang kuat yang meredam dampak impor minyak yang lebih mahal,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.

 

Sentimen Domestik

Pengunjung melintas di dekat monitor perkembangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mengejutkan dengan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate 5,75%. Sebelumnya melihat konsensus, ekonom prediksi kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate untuk menjaga rupiah.

"Sebaliknya, BI mempertahankan mata uang melalui instrumen lain, yaitu imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indinesia (SRBI) yang lebih menarik dan intervensi pasar langsung, sambil menarik kembali dana asing,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.

Pilihan ini dinilai tampak lebih berani di tengah lonjakan harga minyak, tetapi rupiah bertahan di bawah Rp 18.000, dan ini mengikuti keputusan S&P bulan ini untuk mempertahankan peringkat dan prospek Indonesia tetap stabil. Hal ini mendukung pasar saham sepanjang minggu, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memperpanjang pemulihannya sebelum sentimen berbalik pada Jumat karena geopolitik dan harga minyak menekan pasar global. IHSG sepekan naik tipis ke 6.196 hingga 24 Juli 2026.

 

Sentimen Pekan Depan

Layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia. (BAY ISMOYO/AFP)

Untuk obligasi pemerintah, suku bunga yang stabil dan mata uang yang lebih tenang merupakan kabar baik bagi investor, meskipun harga minyak tetap menjadi risiko utama.

Di pasar sukuk negara berkembang global, harga minyak yang lebih tinggi merupakan berkah beragam karena memperkuat keuangan penerbit di negara-negara Teluk, tetapi pasar yang bergejolak dan suku bunga global yang lebih tinggi membuat penerbitan baru tetap terkendali.

Secara keseluruhan, harga minyak yang lebih mahal dan kemerosotan di sektor teknologi besar secara bersamaan memukul selera risiko, yang paling terlihat pada aksi jual besar-besaran pada Jumat. Bagi Indonesia, suku bunga yang stabil dan pemulihan ekuitas sebelumnya memberikan dukungan, tetapi pembalikan di akhir pekan merupakan pengingat bahwa lonjakan harga minyak yang berkepanjangan tetap menjadi ancaman terbesar bagi stabilitas. “Kami terus lebih menyukai perusahaan berkualitas tinggi dan likuid,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.

Portofolio yang tersebar di berbagai wilayah dan kelas aset lebih siap untuk menghadapi minggu-minggu seperti ini. Ashmore menilai, hal utama yang perlu diperhatikan minggu depan adalah pertemuan Fed, arah harga minyak, dan pengiriman melalui Selat Hormuz.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya