Liputan6.com, Jakarta - PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPN Syariah) membukukan laba bersih sebesar Rp 655 miliar sepanjang semester I 2026. Kinerja tersebut ditopang kualitas pembiayaan yang tetap sehat, seiring fokus perseroan mendampingi nasabah ultra mikro sekaligus mulai mengembangkan sumber pertumbuhan baru.
Hingga akhir semester pertama 2026, aset BTPN Syariah mencapai Rp 23 triliun, tumbuh 8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/YoY). Sementara itu, penyaluran pembiayaan mencapai Rp 11 triliun, meningkat 9% secara tahunan.
Advertisement
Rasio keuangan perseroan juga tetap solid. Return on Asset (ROA) tercatat sebesar 7,2%, sedangkan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 58,7%.
Direktur BTPN Syariah, Fachmy Achmad, mengatakan perseroan akan terus memperkuat kualitas pembiayaan sekaligus mengembangkan sejumlah inisiatif baru untuk nasabah.
“Memasuki tahun ke-12, kami akan terus memperkokoh fondasi melalui kualitas pembiayaan yang sehat serta bertumbuh lebih beragam melalui pengembangan inisiatif baru bagi nasabah kami. Kami percaya, semakin besar dampak yang kami hadirkan bagi nasabah, semakin kuat pula pertumbuhan berkelanjutan yang dapat kami ciptakan.” tutur Fachmy Achmad dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/7/2026).
Fokus ke Ultra Mikro
BTPN Syariah selama ini memfokuskan bisnisnya pada pemberian akses keuangan dan pendampingan kepada masyarakat ultra mikro. Perseroan menilai kualitas pembiayaan bukan sekadar indikator kesehatan bisnis bank, tetapi juga mencerminkan kemampuan nasabah dalam mengembangkan dan mempertahankan usahanya.
Selama 12 tahun terakhir, BTPN Syariah memberikan akses pembiayaan sekaligus pendampingan kepada segmen ultra mikro. Pendekatan tersebut diarahkan agar nasabah mampu mengembangkan usaha dan meningkatkan taraf hidup keluarganya.
Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah membangun empat perilaku unggul yang disebut BDKS, yakni Berani Berusaha, Disiplin, Kerja Keras, dan Saling Bantu.
Melalui pendampingan secara konsisten, perseroan berharap nasabah tidak hanya memperoleh akses terhadap pembiayaan, tetapi juga memiliki kapasitas dan daya tahan usaha yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai kondisi ekonomi.
Kualitas pembiayaan yang terjaga tersebut pada akhirnya juga menjadi salah satu faktor yang menopang kinerja BTPN Syariah.
Pembiayaan Nonkomunitas
Di tengah fokus pada segmen ultra mikro, BTPN Syariah juga mulai membuka sumber pertumbuhan baru melalui pengembangan pembiayaan nonkomunitas sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang.
Pengembangan tersebut antara lain mencakup pinjaman individu serta pembiayaan kepada lembaga nonkeuangan. Langkah ini dilakukan untuk memperluas segmen pembiayaan sekaligus membuat sumber pertumbuhan perseroan semakin beragam.
BTPN Syariah berharap ekspansi tersebut dapat memperkuat fondasi bisnis dan membuka peluang pertumbuhan berkelanjutan, tanpa meninggalkan fokus utama perseroan dalam melayani masyarakat ultra mikro.
Strategi diversifikasi menjadi semakin penting seiring perkembangan kebutuhan nasabah dan dinamika industri perbankan. Pada saat yang sama, perseroan tetap menempatkan kualitas pembiayaan sebagai fondasi pertumbuhan.
Dengan aset mencapai Rp 23 triliun, pembiayaan Rp 11 triliun, serta CAR sebesar 58,7% pada semester I 2026, BTPN Syariah memiliki ruang permodalan untuk melanjutkan pengembangan bisnis dan memperluas dampak layanan kepada nasabah.