Di Balik Kemudahan Belanja Pakai AI, Asia Pasifik Jadi Target Utama Hacker

Sektor e-commerce menyumbang 38 persen dari total lalu lintas bot AI lintas industri di Asia Pasifik.

oleh IskandarDiterbitkan 25 Juli 2026, 10:07 WIB
Ilustrasi Belanja Online, e-Commerce, eCommerce, Online Marketplace, Bisnis Online

Liputan6.com, Jakarta - Pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) di sektor perdagangan digital Asia Pasifik (APAC) kini menjadi magnet baru bagi para pelaku kejahatan siber (hacker).

Laporan keamanan terbaru Akamai bertajuk 'State of the Internet (SOTI): Securing the Agentic Storefront: Attacks on Commerce' mencatat lonjakan aktivitas bot berbahaya sebesar 63 persen pada 2025. Angka ini merupakan peningkatkan tertinggi di dunia.

Laporan tersebut juga menyoroti bahwa sepanjang Juli hingga Desember 2025, sektor e-commerce menyumbang 38 persen dari total lalu lintas bot AI lintas industri di APAC.

Kondisi ini didorong oleh masifnya integrasi AI dan chatbot oleh pelaku ritel, industri perjalanan, dan perhotelan untuk mempersonalisasi layanan serta memangkas angka transaksi yang batal.

Namun, pemanfaatan otomatisasi ini justru mengaburkan batas antara lalu lintas yang sah dan ancaman seperti credential stuffing, scraping, hingga penyalahgunaan Application Programming Interface (API).

"Sektor perdagangan di APAC bergerak cepat menuju masa depan yang semakin terotomatisasi dan didukung AI, seiring perusahaan memanfaatkan chatbot GenAI dan berbagai layanan berbasis AI untuk menghadirkan pengalaman yang lebih personal sekaligus mengurangi hambatan dalam perjalanan pelanggan," ujar Reuben Koh, Director of Security Technology and Strategy APJ Akamai, dikutip Sabtu (25/7/2026).

Ia menambahkan, setiap interaksi digital menghadirkan titik masuk baru yang wajib diamankan.

"Perusahaan perlu menerapkan pendekatan keamanan berbasis risiko yang mampu mengidentifikasi aktivitas berbahaya yang tersembunyi di balik otomatisasi berskala besar yang sah, tanpa mengganggu kenyamanan pengalaman pelanggan," tutur Reuben.

 

Industri Travel Paling Rentan

Selain ritel, sektor perjalanan dan perhotelan di Asia Pasifik menjadi area yang sangat rentan. Hal ini dipicu oleh ekosistem platform yang terfragmentasi, tingginya ketergantungan pada aplikasi ponsel, program loyalitas yang populer, serta lonjakan pemesanan saat musim liburan seperti Tahun Baru Imlek, Golden Week, Diwali, dan libur akhir tahun.

Sektor perjalanan sendiri mencatat 22 persen dari total serangan web terhadap perdagangan digital di APAC, di mana 25 persen di antaranya secara khusus menyasar API.

API yang menghubungkan pembayaran, inventaris, hingga sistem logistik kini menjadi pintu masuk favorit para peretas.

 

Serangan DDoS

Di sisi lain, tekanan serangan Distributed Denial of Service (DDoS) pada lapisan aplikasi (Layer 7) juga meningkat 39 persen sepanjang 2025, dari 260 miliar menjadi 361 miliar kejadian.

Sektor ritel menanggung porsi terbesar serangan DDoS Layer 7 berbasis API yaitu 51 persen, disusul perhotelan (28 persen) dan perjalanan (21 persen).

Menghadapi ancaman ini, Akamai menekankan bahwa ketahanan siber harus dijadikan sebagai strategi utama bisnis.

Perusahaan diimbau untuk memetakan rantai pendapatan yang terhubung dengan API, mengelola otomatisasi secara fleksibel berdasarkan tingkat risiko, serta memperkuat kapasitas infrastruktur guna mengantisipasi lonjakan lalu lintas saat puncak musim belanja dan liburan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya