Hampir 50% Olahan Kakao Asia Berasal dari Indonesia

Tembus 110 ribu ton di Q2 2026, industri pengolahan kakao Indonesia kini kuasai 49% pasar Asia.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 24 Juli 2026, 17:39 WIB
Petani Kakao di Kabupaten Mahakam Ulu mulai memanen kebun kakao hasil dari konsistensi di sektor ini.

 

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah gejolak harga dan dinamika pasar global, industri pengolahan kakao Indonesia mencatatkan kinerja positif. Sepanjang triwulan II 2026, volume pengolahan (grinding) kakao nasional melonjak tajam hingga menyentuh angka 110.410 ton.

Berdasarkan data Grind Statistics Q2 2026, capaian ini melesat 30,1% jika dibandingkan dengan triwulan pertama yang tercatat sebesar 84.844 ton.

Sejalan dengan kenaikan grinding, total produksi olahan kakao juga terkatrol naik 8,2% dibanding triwulan sebelumnya. Performa impresif ini makin memperkuat daya saing Indonesia sebagai salah satu pusat pengolahan kakao utama dunia sekaligus mitra strategis dalam rantai pasok global.

Di kawasan Asia, Indonesia menyumbang sekitar 49% dari total volume industri pengolahan kakao regional. Artinya, hampir separuh olahan kakao di Asia dipasok dari Indonesia.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, pemerintah berkomitmen penuh untuk terus memacu daya saing sektor ini melalui strategi hilirisasi.

"Kemenperin terus mempercepat transformasi industri kakao melalui penguatan hilirisasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan kemitraan antara petani dan industri, penerapan standar mutu, serta akselerasi implementasi prinsip keberlanjutan," ungkap Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (24/7/2026).

'Mutiara Asia' untuk Dunia

Biji Kakao (Fotografer: Dio Pratama/Liputan6.com)

Langkah industri kakao nasional ini juga ditegaskan lewat gelaran Indonesia International Cocoa Conference 2026. Mengusung tema 'The Rise of Indonesian Cocoa: The Pearl of Asia for the World', forum ini menjadi pembuktian bahwa Indonesia tidak sekadar menghasilkan biji kakao, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah tinggi berstandar internasional. 

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika menuturkan, konferensi internasional tersebut menjadi momentum krusial untuk memperkuat kolaborasi global.

Melalui ajang ini, Indonesia berkomitmen mempercepat transformasi industri, meningkatkan produktivitas, memperluas akses pasar, serta membangun sistem produksi kakao yang berkelanjutan dan inklusif demi memberikan manfaat maksimal bagi petani hingga perekonomian nasional.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya