Menkeu Scott Bessent Sebut AS Punya Cadangan Emas Terbesar di Dunia

Amerika Serikat (AS) bergantung pada minyak untuk nilai mata uang, kondisi geopolitik diprediksi guncang stabilitas dolar AS.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 24 Juli 2026, 07:00 WIB
Suara Senat Amerika Serikat mengonfirmasi Scott Bessent sebagai Menteri Keuangan AS dalam pemerintahan Presiden Donald Trump. (Foto dok. Associated Press/Ben Curtis)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent, mengatakan, cadangan emas AS sebesar lebih dari US$ 600 miliar, atau Rp 10,7 kuadriliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.937) tidak lagi berpengaruh signifikan terhadap nilai dolar AS, lantaran minyak sekarang jadi patokan mata uang, alih-alih emas.

Akibat kondisi geopolitik yang tidak stabil, Perancis dan Kanada mengambil langkah strategis untuk mengurangi dependensi terhadap dolar AS.

Melansir Yahoo! Finance, Jumat (24/7/2026), Scott Bessent menjamin, cadangan emas AS tersimpan di Fort Knox, sebuah pangkalan militer yang kemudian dijadikan tempat penyimpanan logam mulia. Namun, dia juga mengatakan, hal itu tidak lagi signifikan terhadap nilai mata uang dolar AS.

Pada Mei lalu, Presiden AS Donald Trump berencana membuka brankas Fort Knox untuk memastikan cadangan emas ada di sana. Ini adalah usahanya untuk mengusut konspirasi emas tersebut telah dicuri bersama mantan kepala Departemen Efisiensi Pemerintahan (DOGE), Elon Musk.

"Seluruh cadangan emas telah teridentifikasi dan tercatat dengan lengkap. Amerika Serikat memiliki cadangan emas terbesar di dunia, dengan nilai pasar saat ini melebihi satu triliun dolar AS," ujar Bessent pada Fox News.

Namun, cadangan emas tersebut tidak lagi jadi tanda kemakmuran dolar AS.

"Tadinya kita ditunjang oleh perak, terkadang emas, lalu pada tahun 70-an kita beralih ke mata uang fiat, di mana kita tidak perlu menyimpan emas atau perak,” lanjutnya.

 "Namun, jika masih diperlukan, perak dan emas masih ada di Fort Knox untuk diambil, itupun jika perlu," ia menambahkan.

Minyak Sebagai Pengganti Emas

Pernyataan Bessent menjadi refleksi transformasi nilai dolar AS di ekonomi global semasa pemerintahan Trump. Pada 1934, Undang-Undang Cadangan Emas AS membuahkan Bretton Woods System, yang kemudian mematok nilai tukar mata uang dengan dolar AS melalui harga emas. 

Harga emas kala itu dibanderol sebesar US$ 35, atau Rp 627,8 ribu per ons. Dengan begitu, ekonomi global dapat menyeimbangkan nilai mata uang dan memfasilitasi perdagangan.

 

 

Dolar AS jadi Poros

Karyawan bank menunjukkan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Namun, pada 1960, saat Perang Vietnam, inflasi di AS meroket, dan AS kehabisan cadangan emas untuk menopang arus masuk uang tunai.

Negara lain sadar cadangan emas AS menipis. Prancis secara diam-diam memulangkan cadangan emasnya antara tahun 1963 dan 1966 karena khawatir utang AS akan menyebabkan devaluasi dolar. Ini mendorong keputusan Nixon untuk mengakhiri sistem tersebut pada 1971, sekaligus mengakhiri standar emas.

Akhir dari standar emas ini melahirkan petrodollar, yang juga mematok mata uang lain ke dolar AS, tetapi kali ini melalui harga minyak. 

Pada 1974, AS melakukan kerja sama dengan Arab Saudi saat terjadinya krisis minyak. Kesepakatannya adalah: Arab Saudi hanya menjual minyak menggunakan dolar AS, dan AS menyediakan bantuan militer.

Kesepakatan ini sejalan dengan tujuan Nixon sebelumnya, yakni menjadikan dolar AS sebagai pusat perekonomian global, lantaran minyak adalah kebutuhan utama hampir setiap industri. 

Saat negara-negara penghasil minyak mencari tempat untuk menempatkan cadangan dolar AS, mereka beralih ke obligasi pemerintah AS, sehingga mengukuhkan posisi dolar AS sebagai poros perdagangan internasional.

 

 

Era Baru Menggeser Dolar AS

(Foto: Ilustrasi dolar AS, investasi, uang. Dok Unsplash/Pepi Stojanovski)

Standar emas maupun petrodollar, keduanya membantu menstabilkan perdagangan global, namun tekanan geopolitik kini berpotensi mengikis kekuatan dolar AS. Pangsa dolar AS dalam cadangan devisa global terus menurun selama beberapa dekade, hingga mencapai angka terendah dalam 25 tahun terakhir, yaitu 57%, dibandingkan dengan 71% pada 1999.

Dengan ditutupnya Selat Hormuz pada akhir Februari lalu, pakar industri mengatakan beberapa kapal dapat melewati titik krusial asalkan membayar dengan yuan China.

Ini adalah bagian dari tren negara Teluk yang secara diam-diam melakukan diversifikasi mitra dagang dan mata uang mereka, menyusul serangkaian sanksi yang telah diberlakukan sebelum pemerintahan Trump.

Sedangkan, dari Juli 2025 hingga Januari tahun ini, Perancis mengambil seluruh emasnya yang disimpan di Bank Sentral Federal New York, yakni sebanyak 129 ton. Emas tersebut kemudian disimpan di Paris. Perancis menghasilkan US$ 15 miliar, atau Rp 269 triliun melalui penjualan persediaan lamanya. Namun, pejabat Prancis membantah adanya motif politik di balik langkah tersebut.

Analis pasar EBC Financial Group, Sana Ur Rehman, memaparkan Mei lalu bahwa Kanada juga mengambil langkah dengan membentuk dana kekayaan negara sebesar US$ 25 miliar, atau Rp 448,3 triliun. Ini dilakukan agar ekonominya tidak bergantung pada nilai dolar AS.

Hal ini menjadi penanda pergantian era, di mana sekutu AS kini semakin tidak bergantung pada mata uang AS. Tarif dan ketidakpastian perdagangan lain adalah sebagian alasan dari gejolak kepercayaan terhadap dolar AS.

"Ini bukan langkah seorang musuh. Ini adalah langkah mitra dan sekutu yang telah menyaksikan AS memanfaatkan sistem ekonomi berbasis dolar, dan memutuskan bahwa mereka harus mengurangi keterlibatannya di sana," ujar Ur Rehman.

“Perubahan yang dilakukan oleh sekutu dan bukan musuh, adalah hal yang menonjolkan bahwa momen ini berbeda dari apapun yang terjadi di 80 tahun sejarah dominasi dolar AS.”

 

 

 

 

Fort Knox

Tempat Penyimpanan Cadangan Emas Amerika Serikat di Fort Knox, Kentucky, pada tahun 1974. (Foto AP, Arsip)

Fort Knox didirikan di Kentucky pada 1918 sebagai pangkalan militer pada kedua Perang Dunia dan Perang Vietnam. Kemudian, Gudang Emas Fort Knox ditambahkan pada 1937 untuk menampung sekitar 147,3 juta ons, senilai sekitar US$ 608 miliar, atau Rp 10,9 kuadriliun menurut perusahaan percetakan uang AS.

Pada kala itu, Fort Knox dan sekuritas militernya yang tinggi jadi tonggak stabilitas mata uang AS setelah Undang-Undang Cadangan Emas pada 1934. Namun, setelah mantan Presiden Richard Nixon menghapuskan standar emas pada tahun 1971, pasokan logam di AS kehilangan fungsi praktis utamanya, sebuah fakta yang dijelaskan oleh Bessent.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya