Liputan6.com, Zagreb - Peraturan karantina pertama disahkan oleh sebuah kota pelabuhan Ragusa (sekarang Dubrovnik), Kroasia, pada tanggal 27 Juli 1377. Hal ini dilakukan di tengah pandemi Bubonic Plague atau Black Death.
Kata quarantine (dalam bahasa Indonesia karantina) diambil dari bahasa Italia quarantino yang berartikan periode 40 hari.
Advertisement
Dikutip dari History.com, Senin (27/7/2026), ketentuan itu tertulis sebagai berikut: “Mereka yang datang dari daerah yang terkena wabah dilarang memasuki Ragusa maupun wilayahnya yang lain kecuali mereka menghabiskan waktu satu bulan di pulau kecil Mrkan atau kota Cavtat untuk tujuan desinfeksi.” Para dokter yang bertugas di masa itu mengamati bahwa penyebaran wabah dapat diperlambat setelah mengisolasi orang-orang tersebut.
Karantina memiliki peran yang besar dalam cara kotra-kota di Amerika pada abad ke-20 untuk menangani pandemi influenza 1918 atau flu Spanyol setelah kembalinya para tentara dari Perang Dunia I.
Selain itu di San Francisco, para pelaut yang baru tiba harus dikarantina sebelum memasuki kota. Di San Francisco dan St. Louis, ada larangan untuk berkumpul, sekolah dan teater juga ditutup. Kemudian, Philadelphia menjadi studi kasus tentang apa yang tidak boleh dilakukan ketika, 72 jam setelah kejadian naas di parade Liberty Loan yang pada bulan September, 31 rumah sakit penuh sesak setelah peristiwa penyebaran tersebut.
Di Italia, virus COVID-19 bukanlah pandemi pertama yang menghantam negara tersebut. Selama masa Wabah Italia (Italian Plague), para warga kaya di Tuscany melakukan cara cerdik untuk menjual isi gudang wine mereka tanpa harus memasuki area-area yang diduga terinfeksi. Jual beli ini dilakukan melalui jendela wine atau buchette del vino.
Jendela-jendela ini dirancang pada rumah-rumah mewah agar penjual wine bisa menyerahkan barang dagangan mereka kepada pelanggan yang menunggu. Desain ini mirip seperti jendela penjualan koktail yang bermunculan di kota-kota seperti New York selama pandemi COVID-19.
Terlebih lagi, para penjual wine di abad ke-17 menggunakan cuka sebagai disinfektan saat menerima uang pembayaran. Ada lebih dari 150 jendela wine di kota Florence, Italia.
Setelah 400 tahun dari tragedi wabah tersebut, jendela-jendela itu digunakan kembali di tengah COVID-19 untuk melayani pelanggan mulai dari wine, kopi, hingga es krim gelato.