Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan kenaikan pada perdagangan saham Selasa (21/7/2026). Sebagian besar sektor juga dibuka di zona hijau.
Mengutip data RTI, IHSG hari ini dibuka menguat ke level 6.273,57 dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di angka 6.231,78. Pada pukul 09.02 WIB, IHSG masih melaju ke level 6.273,78.
Advertisement
Pada pukul 09.05 WIB, IHSG konsisten menghijau dengan naik 0,71% atau 43 poin ke level 6.276,74.
Indeks saham LQ45 turut melonjak 0,94% ke level 634,21. Sebagian besar indeks saham acuan kompak bergerak di zona hijau; hanya indeks ABX yang mengalami tekanan.
Pada awal sesi perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 6.282,74 dan level terendah di 6.260,86. Sebanyak 311 saham menguat sehingga mampu mendongkrak IHSG. Sementara itu, 102 saham melemah dan 262 saham stagnan.
Total frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 152.792 kali dengan volume perdagangan mencapai 2,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham menyentuh Rp946 miliar. Di sisi lain, nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah berada di kisaran Rp17.932.
Penguatan IHSG juga ditopang oleh mayoritas sektor saham yang menghijau. Sektor teknologi melaju paling tinggi dengan kenaikan 0,99%, disusul sektor energi yang menguat 0,86%, serta sektor barang baku (basic materials) yang naik 0,78%.
Sementara itu, sektor yang mengalami pelemahan adalah sektor kesehatan yang terkoreksi 0,25% dan sektor transportasi yang melemah 0,11%.
Prediksi IHSG Hari ini
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak terbatas dengan kecenderungan wait and see menjelang hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Analis Pasar Modal Hendra Wardana menilai pelaku pasar akan lebih mencermati arah kebijakan Bank Indonesia dibandingkan keputusan suku bunga acuan semata.
Hendra memperkirakan IHSG bergerak di kisaran 6.000-6.300 selama pekan RDG BI. Menurutnya, pasar akan merespons positif apabila Bank Indonesia tetap menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar rupiah dan pertumbuhan ekonomi.
"Pelaku pasar tidak hanya menanti keputusan mengenai BI Rate, tetapi juga mencermati arah kebijakan Bank Indonesia ke depan. Selama BI tetap mengedepankan keseimbangan antara menjaga stabilitas rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi, reaksi pasar diperkirakan cenderung positif,” kata Hendra kepada Liputan6.com, Selasa (21/7/2026).
Hendra menjelaskan, sinyal pengetatan moneter yang lebih agresif berpotensi menekan sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga. Namun, kebijakan tersebut juga dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.
Untuk jangka menengah, Hendra menilai prospek IHSG hingga akhir 2026 masih positif. Ia memperkirakan IHSG berpeluang bergerak ke kisaran 6.700-6.900, bahkan menguji level psikologis 7.000 apabila arus modal asing terus mengalir, stabilitas rupiah terjaga, dan kinerja emiten membaik pada semester II.
“Masuknya dana asing pada perdagangan akhir pekan lalu dapat menjadi sinyal awal bahwa kepercayaan terhadap pasar domestik mulai membaik. Yang lebih penting adalah apakah arus dana asing tersebut berlangsung secara konsisten dalam beberapa pekan ke depan,” ujarnya.
Rekomendasi Saham
Hendra merekomendasikan investor tetap selektif dengan mengutamakan sektor perbankan, telekomunikasi, komoditas, dan infrastruktur. Menurut dia, valuasi pasar saham Indonesia masih menarik karena price to earnings ratio (PER) IHSG berada di bawah sembilan kali, sehingga strategi buy on weakness dinilai lebih tepat dibandingkan mengejar kenaikan harga saham.
Ia juga merekomendasikan saham BMRI dengan target harga Rp 4.710, BBCA Rp 6.850, BBRI Rp 3.130, dan TLKM Rp 3.030 sebagai pilihan utama di tengah potensi pemulihan pasar saham hingga akhir tahun.