Liputan6.com, Jakarta - PT Ceria Nugraha Indotama (Ceria) memperkuat komitmen dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) pertambangan yang kompeten melalui kolaborasi dengan dunia pendidikan.
Terbaru, perusahaan memfasilitasi penandatanganan Academic Software Licence Agreement antara Micromine Australia Pty Ltd dan Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka, sekaligus menyediakan lisensi perangkat lunak pertambangan senilai sekitar Rp 10 miliar.
Advertisement
Melalui kerja sama ini, USN Kolaka memperoleh 10 lisensi akademik Micromine, perangkat lunak yang banyak digunakan perusahaan tambang global. Software tersebut mendukung berbagai aktivitas pertambangan, mulai dari eksplorasi, pemodelan geologi, estimasi sumber daya, perencanaan tambang, hingga operasi produksi.
Akses terhadap teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat riset, sekaligus memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa dalam menggunakan perangkat lunak yang diterapkan langsung di industri.
Direktur Utama PT Ceria Nugraha Indotama, Abdul Haris Tatang, menegaskan kerja sama ini merupakan bentuk nyata kontribusi perusahaan dalam meningkatkan mutu pendidikan dan pengembangan SDM pertambangan di Kabupaten Kolaka.
"Kolaborasi ini menjadi jembatan penting antara dunia pendidikan dan industri. Kami berharap kerja sama ini dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan dan peningkatan mutu alumni USN Kolaka, khususnya dalam penguasaan teknologi pertambangan modern," ujarnya dalam keterangannya, Senin (20/7/2026).
Selain penyediaan lisensi akademik Micromine, Ceria dan USN Kolaka juga telah bekerja sama dalam bidang penelitian, program magang, pelatihan, serta pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya mencetak talenta pertambangan Indonesia yang siap bersaing di tingkat global.
Terus Kembangkan Program Magang
Sementara itu, Rektor USN Kolaka Nur Ihsan mengapresiasi dukungan yang diberikan Ceria. Menurutnya, meningkatnya investasi sektor pertambangan di Sulawesi Tenggara membuat kebutuhan industri terhadap lulusan yang menguasai teknologi semakin tinggi.
Ia mengatakan mahasiswa teknik pertambangan tidak hanya dituntut memahami geologi dan ilmu pertambangan, tetapi juga harus memiliki kemampuan analisis data geospasial, menguasai perangkat lunak industri, serta mampu memimpin dan bekerja dalam tim.
"Kontribusi yang diberikan PT Ceria kepada USN Kolaka sebagai perguruan tinggi kebanggaan masyarakat Kolaka merupakan sesuatu yang sangat kami apresiasi. Dukungan ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di kampus," ungkapnya.
Nur Ihsan menambahkan, USN Kolaka terus mengembangkan program magang dan penelitian berbasis studi kasus bersama perusahaan pertambangan agar kemampuan mahasiswa selaras dengan kebutuhan industri.
Tiga Faktor Penentu
Sementara itu, perwakilan Micromine Australia Pty Ltd, Fransiskus Nugroho, mengatakan masa depan industri pertambangan Indonesia akan ditentukan oleh tiga faktor utama, yakni pemanfaatan data secara real-time, penerapan kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi, serta praktik pertambangan yang berkelanjutan.
"Software pertambangan kini bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan otak operasional yang menghubungkan seluruh proses, dari eksplorasi hingga produksi," ujarnya.
Ia menjelaskan penggunaan teknologi Micromine mampu memangkas waktu perencanaan tambang dari sekitar dua pekan menjadi hanya dua hari, sehingga ahli geologi dapat lebih fokus melakukan analisis dan interpretasi data.