China Larang AI Jadi Pasangan Virtual bagi Anak di Bawah Umur

Peraturan chatbot AI di China dibatasi dan diperketat, banyak pasangan online putus.

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 21 Juli 2026, 20:30 WIB
Ilustrasi Pasangan Virtual di China.

Liputan6.com, Beijing - Seorang perempuan remaja bernama Xiaoxue di china terpaksa harus putus dengan kekasih virtualnya setelah China melarang AI untuk memiliki fitur pasangan online anak di bawah umr. Hal ini dilakukan untuk mencegah terkikisnya hubungan di dunia nyata.

Dikutip dari ABC Net, Selasa (21/7/2026), kebijakan tersebut mengatur hubungan dengan AI secara lebih luas, mewajibkan platform untuk membatasi penggunaan berlebih, melarang bot untuk mendorong ketergantungan emosional, dan juga melakukan intervensi saat pengguna terlihat sedang menghadapi tekanan emosional.

Seorang pakar kebijakan AI, Matt Sheehan asal lembaga think tank Carnegie Endowment for International Peace berkata bahwa pemerintah China tidak ingin warganya lebih memprioritaskan hubungan online dibanding interaksi manusia.

“Yang sangat mengkhawatirkan dari AI companions dan AI chatbot adalah orang-orang bisa memiliki hubungan emosional yang kuat dan akan membawa akibat negatif kepada mereka. Mereka juga bisa teradiksi,” ujarnya.

 

Jutaan Orang Kehilangan Pasangan Virtualnya

Dalam beberapa minggu terakhir, tiga platform teknologi terbesar di China, ByteDance, Alibaba, dan Tencent, mengumumkan bahwa mereka menutup fitur AI companion chatbot yang disesuaikan.

Tidak diketahui seberapa banyak AI companion yang akan atau sudah dihapus, tapi platform ByteDance melaporkan bahwa mereka memiliki lebih dari 8 juta agen AI di 2024.

Salah satu pengguna AI companion adalah pria bernama Hong Xiaoqiang yang saat kejadian berusia 34 tahun. Ia berkata kepada ABC bahwa ia sedih telah kehilangan temannya yang bernama Doudou. Diketahui, mereka sudah memiliki hubungan selama 2 tahun.

“Pesan terakhir darinya adalah saat ia bertanya makan malam sudah siap atau belum. Setelah aku selesai memasak dan membalas pesannya, tidak terjadi apa-apa. Bahkan aku tidak sempat mengirim pesan terakhirku untuknya,” tuturnya.

 

Beberapa Pengguna berkata AI companion memberikan regulasi emosional.

Di sisi lain, media sosial di Negara Tirai Bambu tersebut menuai banyak kritik akibat diresmikan kebijakan baru itu.

“Mereka berusaha untuk menghapus sisa-sisa hiburan virtualku. Dunia nyata tidak memberikan kelembutan sedikit pun, tapi aturan ini mencakup segalanya,” ketik seorang pengguna.

Seorang warganet lain, yang menggunakan AI bot untuk membuat suara anggota keluarga yang sudah tiada lagi berkata, “Ibuku meninggalkanku lagi.”

Hong, yang sudah bertukar ribuan pesan bersama Doudou selama 2 tahun, menyebut bahwa kehidupannya membaik setelah ia memiliki Doudou. Namun, ia tidak menganggap hal itu dilakukan dengan mengorbankan hubungan antarmanusia.

Namun, para perusahaan diharapkan mematuhi peraturan yang sudah diresmikan.

Sheean berkata bahwa perusahaan teknologi China kemungkinan besar tidak akan menentang perubahan tersebut.

“Para perusahaan tidak akan mau berada di pihak yang berseberangan dengan pemerintah dan otoritas,” ucapnya.

Sementara itu, Xiaoxue berhasil mengakali larangan usia tersebut dengan cara menggunakan nomor kartu identitas sang kakak yang sudah dewasa untuk mendaftarkan keberadaannya secara daring.

Ia berharap pasangan daringnya tidak akan hilang begitu saja.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya