Tren Twibbon MPLS Siswa Baru Rawan Kejahatan Siber, Ini Risiko Paling Fatal

Tren unggahan foto menggunakan twibbon oleh siswa baru selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di media sosial dinilai sangat berbahaya.

oleh IskandarDiterbitkan 20 Juli 2026, 12:00 WIB
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Kota Bandung. (Pemkot Bandung).

Liputan6.com, Jakarta - Tren unggahan foto menggunakan bingkai digital atau twibbon oleh siswa baru selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di media sosial tengah menjamur.

Meski dinilai positif untuk membangun kebersamaan dan rasa bangga, kebiasaan ini menyimpan risiko serius terhadap keamanan data pribadi jika tidak disikapi dengan bijak.

Pengamat keamanan siber sekaligus Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha, mengingatkan informasi pribadi siswa yang diunggah secara terbuka sangat rentan diakses, disalin, dan dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab.

Menurut Pratama, unggahan yang mencantumkan foto wajah, nama lengkap, domisili, hingga asal sekolah memang tidak selalu langsung berbahaya.

Namun, ancaman meningkat ketika seluruh informasi tersebut tersebar secara publik. Pelaku kejahatan siber dapat dengan mudah mengumpulkannya melalui teknik Open Source Intelligence (OSINT).

"Teknik ini memungkinkan berbagai informasi yang tersebar di internet dikumpulkan, dikorelasikan, dan disusun menjadi profil digital seseorang tanpa harus meretas akun miliknya," ujar Pratama, dikutip dari Antara, Senin (20/7/2026).

Semakin banyak data yang dibagikan secara sukarela, kian mudah pula identitas seseorang dipetakan oleh pelaku kriminal.

Informasi dasar yang bocor ini dapat menjadi senjata bagi pelaku kejahatan untuk melancarkan aksi social engineering (rekayasa sosial).

 

Modus Penipuan hingga Manipulasi AI

Dengan mengantongi nama sekolah, orang tua, atau teman korban, pelaku bisa menyamar menjadi pihak sekolah atau kerabat untuk melakukan penipuan dengan komunikasi yang sangat meyakinkan.

Tak hanya penipuan, Pratama membeberkan sejumlah risiko fatal lainnya, antara lain:

  • Penyalahgunaan Foto: Foto wajah berisiko dimanipulasi menggunakan teknologi kecerdasan artifisial (AI) atau digunakan untuk membuat identitas palsu.
  • Keamanan Fisik dan Daring: Meningkatnya potensi perundungan digital (cyberbullying), penguntitan (stalking), hingga pengawasan aktivitas harian anak karena pelaku dapat memperkirakan lokasi korban.

"Hal tersebut sangat berbahaya terutama bagi anak dan remaja yang umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengenali berbagai modus manipulasi digital," ucapnya menambahkan.

 

Batasi Data dan Edukasi

Guna mengantisipasi bahaya tersebut, Pratama mendorong pihak sekolah dan orang tua untuk lebih masif memberikan edukasi literasi digital sejak dini. Anak-anak perlu memahami pentingnya menjaga data pribadi dan konsekuensi dari jejak digital mereka.

Sebagai langkah konkret, informasi yang dicantumkan dalam twibbon MPLS sebaiknya dibatasi. Sekolah disarankan hanya mewajibkan pencantuman nama depan atau nama panggilan saja tanpa data sensitif lainnya.

Pratama menegaskan bahwa tren ini tidak perlu dihentikan, melainkan harus diimbangi dengan kesadaran keamanan yang tinggi.

"Twibbon MPLS bukan sesuatu yang harus dihindari. Yang perlu dibangun adalah budaya literasi digital yang lebih baik sehingga semangat memperkenalkan diri tetap bisa dilakukan tanpa mengorbankan keamanan data pribadi," ia memungkaskan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya