Liputan6.com, Jakarta - Petisi agar laga semifinal Piala Dunia 2026 Prancis vs Spanyol diulang mengumpulkan dukungan luas, seperti dilansir dari Give Me Sport. Inisiatif ini lahir dari kekecewaan pendukung Les Bleus yang menilai keputusan wasit krusial di babak pertama keliru.
Prancis tersingkir setelah kalah 0-2 dari Spanyol di Dallas Stadium, Rabu (15/7/2026). Gol pembuka hadir dari titik putih sebelum Pedro Porro menambah keunggulan La Roja di paruh kedua.
Advertisement
Agenda turnamen berlanjut: Prancis bertemu Inggris pada perebutan tempat ketiga, Minggu (19/7/2026) dini hari WIB. Adapun Spanyol melaju ke final dan berhadapan dengan Argentina sehari kemudian.
Petisi Tuding Penalti untuk Spanyol Keliru
Kontroversi bermula pada menit ke-20 ketika Lucas Digne keliru membaca situasi bertahan dan menyapu kaki Lamine Yamal di kotak terlarang. Setelah pemeriksaan VAR singkat, Mikel Oyarzabal mengeksekusi penalti yang membawa tim asuhan Luis de la Fuente unggul lebih dulu.
Spanyol kemudian memainkan tempo dengan lebih konservatif dalam penguasaan bola dan mengamankan hasil lewat penyelesaian Pedro Porro yang menaklukkan Mike Maignan di babak kedua.
Para penggemar Prancis mempersoalkan keputusan itu. Mereka meyakini bola sempat mengenai lengan Yamal sebelum kontak terjadi, sehingga hadiah penalti dinilai tidak semestinya diberikan. Dari sinilah tuntutan pertandingan diulang muncul melalui sebuah petisi daring.
"Saat penalti diberikan kepada Spanyol, Lamine Yamal melakukan handball lebih dahulu," bunyi petisi tersebut seperti dilansir dari Give Me Sport.
"Prancis seharusnya tidak kebobolan gol pembuka itu, yang benar-benar mengubah jalannya pertandingan. Olahraga harus dimainkan sesuai aturan, dan malam ini aturan tersebut tidak diindahkan."
Penjelasan Christina Unkel dan Posisi FIFA
Argumen pendukung Prancis bertumpu pada dugaan sentuhan bola ke lengan Yamal yang, secara teori, bisa membatalkan penalti. Di sisi lain, penilaian teknis dari otoritas perwasitan memberikan tafsir berbeda.
Mantan wasit FIFA sekaligus pakar aturan, Christina Unkel, menjelaskan alasan insiden tersebut tidak dikategorikan handball.
"Titik kontak yang sebenarnya terjadi pada bagian lengan baju Yamal sehingga hal itu tidak dianggap sebagai pelanggaran," jelas Christina Unkel.
Dari aspek penyelenggaraan, FIFA tidak dapat mengabulkan permintaan laga ulang karena kendala logistik—termasuk jadwal final yang tinggal sehari lagi—serta pertimbangan teknis olahraga. Selain itu, disebutkan bahwa pemberian penalti yang dinilai meragukan pada menit ke-22 tidak cukup menjadi dasar untuk mengambil langkah ekstrem seperti mengulang pertandingan.
Walau jumlah dukungan petisi besar, dorongan tersebut tidak memberi kekuatan formal untuk mengubah hasil. Permintaan pertandingan ulang disebut sangat kecil kemungkinannya dikabulkan.