5 Alasan Inggris Bisa Tetap Tersenyum Meski Kandas di Piala Dunia 2026

Inggris kalah 1-2 dari Argentina di semifinal Piala Dunia 2026, tapi performa, ketajaman lini depan, dan regenerasi menunjukkan prospek yang tetap menjanjikan.

oleh Vincentius AtmajaDiterbitkan 18 Juli 2026, 21:42 WIB
Gelandang Inggris, Jude Bellingham, bereaksi pada pertandingan Grup L Piala Dunia 2026 antara Inggris melawan Ghana di Boston Stadium, Foxborough, pada 23 Juni 2026. (MAURO PIMENTEL / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Timnas Inggris harus mengubur mimpi juara Piala Dunia 2026 setelah disingkirkan Argentina 1-2 di semifinal. Meski begitu, sederet indikator menunjukkan masa depan The Three Lions tetap prospektif di level elite.

Laga di Atlanta Stadium, Kamis (16/7/2026), sempat mengarah ke final ketika Anthony Gordon mencetak gol saat babak kedua baru berjalan 10 menit. Argentina membalikkan keadaan lewat Enzo Fernandez pada menit ke-85 dan Lautaro Martinez di masa tambahan waktu.

Inggris masih menyisakan satu pertandingan, menghadapi Prancis pada perebutan peringkat ketiga. Mengutip BBC, kegagalan ini memperpanjang puasa gelar Piala Dunia sejak 1966, menyusul kegagalan di final Euro 2020 dan 2024.

Di balik kekecewaan tersebut, terdapat lima alasan yang menandai fondasi kuat untuk babak berikutnya: ketajaman duo andalan, konsistensi mencapai fase akhir turnamen, ketahanan di kondisi ekstrem, munculnya debutan yang mengesankan, serta regenerasi yang kaya talenta.


Kane–Bellingham Bersaing Sepatu Emas

Pemain Inggris Harry Kane merayakan gol timnya melawan Kongo selama pertandingan sepak bola babak 32 besar Piala Dunia di Atlanta, (01/07/2026). (AP Photo/Erik S. Lesser)

Harry Kane dan Jude Bellingham menjadi dua nama paling bersinar di Piala Dunia 2026 sekaligus kandidat kuat Sepatu Emas. Untuk turnamen sekelas ini, dua pemain dari satu tim berada dalam pacuan gelar top skor bukanlah capaian biasa.

Kane datang sebagai mesin gol utama. Ia membuka langkah Inggris dengan dua gol ke gawang Kroasia, lalu menambah empat gol lagi sepanjang turnamen sehingga mengoleksi enam gol jelang laga perebutan tempat ketiga.

Bellingham, yang sempat menjalani operasi bahu dan melewati musim yang relatif tidak semoncer dua musim sebelumnya di Real Madrid, justru mampu menyamai torehan enam gol Kane. Keduanya masih berpeluang merebut Sepatu Emas bila melampaui atau menyamai total delapan gol milik dua pemimpin klasemen sementara, Kylian Mbappe dan Lionel Messi.

Kontribusi keduanya juga krusial: dua gol Kane ke gawang RD Kongo menyelamatkan Inggris di babak 32 besar, sementara dua gol Bellingham saat menghadapi Norwegia memastikan tiket ke semifinal.


Torehan Semifinal Tanda Kemajuan

Secara garis besar, kiprah Inggris di turnamen mayor menunjukkan tren menanjak. Meskipun belum berujung trofi, mereka konsisten mencapai fase akhir di Piala Dunia maupun Euro (2020 dan 2024).

Lanjut Baca:

Sebelum semifinal Piala Dunia 2018, Inggris tidak pernah melaju lebih jauh dari perempat final sejak edisi Italia 1990. Catatan itu berubah dalam era terkini, menandai level kompetitif yang lebih tinggi di panggung dunia. Di Eropa, hingga kekalahan di final Euro 2020 melawan Italia, pencapaian terbaik Inggris sejak semifinal Euro 1996 hanyalah perempat final. Menembus semifinal atau final dalam empat dari lima turnamen besar terakhir menjadi indikator peningkatan performa yang signifikan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya