JPMorgan Ungkap Prospek Bitcoin Mulai Membaik, Ada Sinyal Positif dari Strategy

JPMorgan melihat prospek Bitcoin mulai membaik setelah Strategy meningkatkan cadangan kas menjadi US$ 3 miliar dan permintaan investor institusi menguat.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 18 Juli 2026, 14:00 WIB
Aset digital kripto Bitcoin. (Foto by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Prospek Bitcoin (BTC) dinilai mulai menunjukkan perbaikan. Analis JPMorgan melihat sejumlah sinyal positif yang dapat mendukung pergerakan aset kripto terbesar di dunia tersebut, mulai dari meningkatnya cadangan kas milik Strategy hingga menguatnya permintaan investor institusi di pasar kontrak berjangka (futures).

Dikutip dari CoinMarketCap, Sabtu (18/7/2026), tim analis JPMorgan yang dipimpin Managing Director Nikolaos Panigirtzoglou menyebut kondisi pasar Bitcoin mulai menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah peningkatan cadangan kas Strategy dari US$ 2,55 miliar menjadi US$ 3 miliar atau sekitar Rp 53 triliun (asumsi kurs Rp 17.911 per dolar AS).

Menurut JPMorgan, jumlah tersebut cukup untuk menutup pembayaran dividen saham preferen perusahaan selama sekitar 20 bulan. Posisi itu dinilai lebih kuat dibandingkan beberapa bulan sebelumnya ketika bantalan likuiditas perusahaan masih lebih terbatas.

Sebelumnya, JPMorgan sempat menyarankan Strategy memiliki cadangan kas yang mampu menutup kewajiban dividen selama dua hingga tiga tahun. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko perusahaan harus menjual kepemilikan Bitcoin guna memenuhi kewajiban kepada pemegang saham preferen.

 

Investor Institusi Mulai Masuk ke Bitcoin

Aset digital kripto Bitcoin. (Foto by AI)

Selain mencermati kondisi keuangan Strategy, JPMorgan juga menyoroti aktivitas perdagangan Bitcoin di pasar derivatif.

Analis mencatat arus dana pada Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin spot masih berfluktuasi dalam beberapa pekan terakhir. Setelah sempat mencatat arus masuk dana, ETF tersebut kembali mengalami arus keluar sehingga membebani pasar selama Juni.

Namun, kondisi berbeda terlihat pada pasar kontrak berjangka Bitcoin. JPMorgan menilai aktivitas di Chicago Mercantile Exchange (CME) maupun kontrak perpetual menunjukkan peningkatan permintaan yang lebih banyak berasal dari investor institusi.

Menurut JPMorgan, kondisi tersebut cukup menggembirakan karena terjadi di saat ETF Bitcoin spot justru mengalami arus keluar dana.

Analis menilai pergerakan di pasar futures umumnya lebih mencerminkan strategi investasi jangka panjang investor institusi dibandingkan sentimen jangka pendek investor ritel. Karena itu, peningkatan aktivitas tersebut dianggap sebagai indikasi adanya akumulasi Bitcoin secara bertahap oleh pelaku pasar berskala besar.

Meski demikian, JPMorgan mengakui masih sulit memastikan apakah peningkatan cadangan kas Strategy benar-benar telah mengubah sentimen investor Bitcoin secara keseluruhan.

 

Strategy Tegaskan Tetap Agresif Borong Bitcoin

Presiden sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Strategy, Phong Le, menegaskan perusahaan belum memiliki rencana mengurangi pembelian Bitcoin.

"Kami tidak akan ke mana-mana."

Pernyataan tersebut disampaikan untuk meredam spekulasi bahwa Strategy akan mengurangi eksposurnya terhadap Bitcoin setelah sempat menjual 32 Bitcoin pada Mei lalu. Penjualan dalam jumlah kecil tersebut sempat memicu kekhawatiran investor dan membuat harga saham perusahaan mencatatkan pelemahan mingguan terdalam dalam beberapa tahun terakhir.

Phong Le juga menyatakan kondisi neraca keuangan perusahaan masih tergolong aman. Menurutnya, risiko terkait utang baru akan menjadi perhatian apabila harga Bitcoin turun hingga kisaran US$ 8.000 sampai US$ 10.000.

Selain itu, Strategy berencana menerbitkan lebih banyak saham preferen STRC setelah kembali ke nilai nominal US$ 100 per saham. Dana yang diperoleh dari aksi korporasi tersebut akan digunakan untuk membeli lebih banyak Bitcoin sekaligus memperbesar cadangan kas perusahaan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya