Banyuwangi Entaskan Ribuan Anak Rentan Putus Sekolah Lewat Berbagai Bantuan Pendidikan

Pemkab Banyuwangi mengentaskan ribuan anak rentan putus sekolah melalui berbagai skema bantuan pendidikan demi memastikan akses belajar tetap terbuka.

oleh Gilar RamdhaniDiterbitkan 16 Juli 2026, 21:17 WIB
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah. (Sumber: Humas Banyuwangi)

Liputan6.com, Banyuwangi - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus memperkuat upaya menekan angka putus sekolah melalui berbagai program bantuan pendidikan. Berkat sejumlah skema yang dijalankan, ribuan anak yang masuk kategori rentan putus sekolah kini dapat melanjutkan pendidikan mereka.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan, pemerintah daerah berkomitmen memastikan setiap anak memperoleh hak yang sama untuk mengenyam pendidikan hingga jenjang SMA atau sederajat.

"Bagi kami, tidak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan apapun persoalannya. Setiap anak berhak mendapatkan haknya untuk bersekolah melalui berbagai skema bantuan," ujar Ipuk, Kamis (16/7/2026).

Berbagai skema telah disiapkan, mulai dari bantuan perlengkapan sekolah, bantuan uang saku, pendidikan kesetaraan, hingga pendampingan bagi anak yang sempat putus sekolah agar kembali ke bangku sekolah.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah. (Sumber: Humas Banyuwangi)

Salah satu upaya yang dijalankan adalah Program Rintisan Desa Tuntas Wajib Belajar 12 Tahun (Rindu Bulan). Program ini mengoptimalkan kolaborasi berbasis desa dan kelurahan untuk mendata sekaligus mengembalikan Anak Tidak Sekolah (ATS) ke jalur pendidikan, baik melalui sekolah formal maupun pendidikan kesetaraan.

Program tersebut melibatkan banyak stakeholder, mulai dari desa/kelurahan, satuan pendidikan, Kementerian Agama, Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, hingga Baznas. 

"Penyisiran kami lakukan dari lingkup desa. Kalau kita kunci dari wilayah terkecil, penanganannya akan lebih tepat sasaran karena penyebab anak putus sekolah berbeda-beda sehingga bentuk bantuannya juga harus disesuaikan," kata Ipuk.

Lebih dari 3.200 Anak Kembali Mengenyam Pendidikan

Sejak diluncurkan pada 2023, Rindu Bulan telah berhasil mengembalikan 3.259 Anak Tidak Sekolah (ATS) ke bangku pendidikan.

"Tidak sekadar mengembalikan mereka ke sekolah, kami juga terus mendampingi, baik dari sisi prestasi maupun kebutuhan pendidikannya hingga lulus," kata Ipuk.

Selain melalui pendataan, Ipuk juga rutin turun langsung mendatangi rumah anak-anak yang teridentifikasi berisiko putus sekolah, untuk memberikan motivasi kepada mereka beserta keluarganya agar tetap melanjutkan pendidikan.

"Dengan kolaborasi banyak pihak, kami berharap semakin banyak anak Banyuwangi yang bisa menyelesaikan pendidikannya. Pendidikan merupakan salah satu kunci memutus rantai kemiskinan," ujar Ipuk.

Ditambahkan Plt. Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Alfian,  proses pendampingan diawali dengan verifikasi dan validasi data anak rentan putus sekolah.. Selanjutnya, tim melakukan kunjungan langsung ke rumah anak untuk mengetahui penyebab mereka tidak bersekolah.

"Anak-anak yang memang benar berstatus ATS akan kami visitasi untuk mengetahui akar persoalannya. Dari situ kami menentukan afirmasi atau bantuan yang paling sesuai, baik mengembalikan ke sekolah formal, pendidikan kesetaraan, maupun memfasilitasi akses berbagai bantuan pendidikan yang tersedia," kata Alfian.

Program SAS Bangun Kepedulian Antar Siswa

Pemkab Banyuwangi melakukan penyisiran terhadap anak-anak yang berpotensi putus sekolah hingga ke tingkat desa. 

Banyuwangi juga memiliki program SAS (Siswa Asuh Sebaya), siswa diajak menyisihkan uang sakunya untuk membantu teman sekolahnya yang kurang mampu. Dari program ini  memberikan bantuan kebutuhan siswa kurang mampu seperti sepeda, kacamata, perlengkapan sekolah, uang saku, dan bantuan kebutuhan pendidikan lainnya. 

Gerakan ini menanamkan empati sekaligus menjadi jaring pengaman sosial di lingkungan sekolah.

 

(*)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya