Liputan6.com, Jakarta - Anggapan bahwa teknologi fast charging (pengisian daya cepat) bisa membuat baterai mudah rusak, menyedot perhatian para pembaca di kanal Tekno Liputan6.com, Kamis (16/7/2026).
Berita lain yang juga populer yaitu mengenai dua kemampuan manusia yang tidak akan pernah tergantikan oleh AI sampai kapan pun.
Advertisement
Lebih lengkapnya, simak tiga berita terpopuler di kanal Tekno Liputan6.com berikut ini.
1. Benarkah Fast Charing Bikin Baterai Cepat Rusak? Ini Faktanya
Teknologi fast charging telah merambah berbagai industri. Banyak ponsel pintar, yang kini bisa terisi daya dari hampir kosong, hingga lebih dari 50 persen hanya dalam waktu sekitar setengah jam.
Sementara, beberapa mobil listrik, juga dapat menambah jarak tempuh hingga ratusan kilometer dengan pengisian daya yang singkat.
Namun, baterai bukanlah sesuatu yang sempurna. kapasitasnya bisa menurun seiring waktu. Selain itu, mengingat pengisian daya cepat memberikan daya lebih besar dalam waktu yang singkat, apakah bisa merusak baterai?
Disitat dari Livescience, Kamis (16/7/2026), para ilmuwan berpendapat kalau pengisian baterai cepat memang bisa merusak baterai. Namun, hal tersebut, ternyata lebih rumit dari yang dibayangkan.
Pengisian daya cepat dapat mempercepat beberapa jenis degradasi baterai, tetapi baterai modern dirancang dengan pengamanan untuk membantu membatasi kerusakan.
2. 2 Kemampuan Manusia Ini Tak akan Pernah Tergantikan AI
Di tengah masifnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang mulai mengambil alih berbagai sektor pekerjaan, manusia rupanya tidak perlu sepenuhnya merasa terancam. Teknologi secanggih apa pun dinilai tidak akan pernah bisa menggantikan dua kemampuan fundamental yang melekat pada diri manusia.
Hal tersebut diungkapkan Vice President Customer Engineering Google Cloud Asia Pacific, Moe Abdula. Menurutnya, kemampuan dasar manusia terbukti selalu tetap relevan dalam menghadapi setiap gelombang pergeseran teknologi di masa lalu hingga era AI saat ini.
Kemampuan pertama yang tidak dimiliki oleh mesin adalah empati dan kapasitas untuk membangun koneksi antarsesama.
"Kemampuan memahami emosi, merasakan apa yang dialami orang lain, serta memberikan respons sosial yang tepat adalah aspek murni manusiawi yang sulit direplikasi oleh teknologi," ujar Moe, dikutip dari Antara, Kamis (16/7/2026).
Ia mencontohkan profesi petugas kepolisian yang harus berinteraksi langsung dengan masyarakat di lapangan. Dalam menghadapi berbagai situasi konflik, seorang polisi dituntut memiliki penalaran dan kepekaan emosional yang tinggi.
3. Tak Perlu Scroll Lagi, Google AI Mode Bisa Cari Riwayat Chat di Android
Google kembali meningkatkan pengalaman pengguna AI Mode, dengan menghadirkan fitur baru yang memudahkan pencarian riwayat percakapan di Android. Pembaruan ini memungkinkan pengguna menemukan kembali obrolan lama, tanpa harus menggulir daftar percakapan satu per satu.
Disitat dari 9to5google, Kamis (16/7/2026), fitur tersebut hadir melalui kolom "Search threads" yang kini muncul di bagian atas menu navigasi Google App maupun halaman utama AI Mode.
Selain itu, terdapat ikon roda gigi di samping kolom pencarian, yang dapat digunakan untuk mengakses halaman lengkap My Activity, tempat pengguna mengelola aktivitasnya.
Saat kolom pencarian berbentuk pil tersebut diketuk, pengguna akan dibawa ke tampilan layar penuh yang dirancang lebih sederhana. Lewat antarmuka baru ini, pengguna bisa mencari percakapan sebelumnya dengan lebih cepat, dan melanjutkan diskusi yang pernah dilakukan bersama AI.
Google disebut telah mulai menggulirkan fitur pencarian riwayat chat ini secara luas untuk perangkat Android maupun iPhone. Sebelumnya, kemampuan mencari percakapan AI hanya tersedia melalui versi web, sehingga pembaruan ini menjadi peningkatan yang cukup signifikan bagi pengguna aplikasi seluler.