Prajogo Pangestu Dikabarkan Akuisisi Raksasa Energi Filipina Rp 89 Triliun

Siapkan dana US$ 5 miliar, Prajogo Pangestu lewat Barito Renewables dikabarkan siap akuisisi raksasa panas bumi Filipina.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 16 Juli 2026, 12:36 WIB
Prajogo Pangestu, salah satu orang paling kaya di Indonesia.

Liputan6.com, Jakarta - Barito Renewables Energy, perusahaan milik salah satu orang terkaya di Indonesia, Prajogo Pangestu dikabarkan sedang bersiap mencaplok Energy Development Corp (EDC). Nilai akuisisi untuk perusahaan geotermal terbesar di Filipina ini ditaksir mencapai angka fantastis, yaitu US$ 5 miliar atau sekitar Rp 89 triliun (kurs hari ini Rp 18.006 per US$).

Kabar ini datang dari First Gen Corp selaku pemegang saham mayoritas EDC yang berbasis di Manila. Dalam pernyataan resminya, mereka menyebut penawaran dari Barito masih bersifat awal dan belum mengikat (non-binding), serta masih harus melewati proses pemeriksaan data (due diligence) dan persetujuan resmi. Sementara itu, pihak Barito Renewables sendiri belum memberikan komentar terkait kabar ini.

"Hingga saat ini, belum ada diskusi yang terjadi di antara kedua belah pihak, dan tidak ada perjanjian yang ditandatangani," tulis manajemen First Gen mengutip laman Forbes di Jakarta, Kamis (16/7/2026).

First Gen merupakan perusahaan yang dikendalikan oleh konglomerat Federico Lopez dan keluarganya. Mereka juga menegaskan belum menyewa penasihat keuangan mana pun untuk urusan ini.

Sebagai informasi, EDC dulunya adalah perusahaan pelat merah milik pemerintah Filipina sebelum akhirnya dibeli oleh Lopez Group pada tahun 2007. Saat ini, EDC mengoperasikan 16 pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di Filipina dengan total kapasitas jumbo mencapai 1.302,78 megawatt.

Tak hanya panas bumi, mereka juga punya pembangkit listrik tenaga air, surya, dan angin dengan kapasitas hampir 300 megawatt.

Ekspansi Tanpa Henti Prajogo Pangestu

Prajogo Pangestu

Prajogo Pangestu memang sedang gencar-gencarnya membesarkan kerajaan bisnis energinya sejak 2023 lalu. Langkahnya dimulai saat membawa dua perusahaannya melantai di bursa saham (IPO), yaitu Petrindo Jaya Kreasi di bidang batu bara, dan Barito Renewables Energy.

Barito Renewables merupakan induk dari Star Energy Geothermal Group, yang saat ini memegang status sebagai produsen panas bumi terbesar di Indonesia dengan kapasitas 886 megawatt yang tersebar di tiga proyek di Jawa Barat.

Di tahun 2024, Prajogo juga sempat menggandeng ACEN, perusahaan milik taipan Filipina Jaime Augusto Zobel de Ayala, untuk patungan membangun proyek kincir angin di Indonesia.

Kiprah Bisnis Prajogo Pangestu

Kiprah bisnis Prajogo juga merambah hingga ke Singapura. Pada April 2025, lewat kerja sama Chandra Asri Pacific dan raksasa komoditas Glencore, mereka sukses membeli kilang minyak dan aset petrokimia milik Shell di sana.

Lima bulan setelahnya, Chandra Asri kembali beraksi dengan mencaplok jaringan pom bensin Esso di Singapura.

Mengacu pada data terkini dari Forbes, kekayaan bersih Prajogo Pangestu diperkirakan menembus US$ 15,4 miliar, menjadikannya salah satu orang paling tajir di Indonesia.

Padahal, ia memulai bisnisnya dari industri kayu lewat Barito Pacific, sebelum akhirnya disulap menjadi raksasa energi dan petrokimia seperti sekarang.

Sekilas Tentang Keluarga Lopez

Di pihak penjual, keluarga Lopez merupakan salah satu dinasti bisnis terkaya di Filipina dengan total kekayaan sekitar US$ 285 juta. Selain di sektor energi, mereka juga bermain di bisnis properti dan media lewat ABS-CBN, mantan raksasa televisi Filipina yang terpaksa berhenti mengudara karena izin siarnya tidak diperpanjang oleh parlemen setempat pada 2020 lalu.

Efek dari rumor akuisisi ini langsung membuat pasar saham heboh. Saham First Gen Corp langsung melonjak dan ditutup menguat 18,4% di bursa Manila, setelah sempat meroket hingga 33,3% di awal perdagangan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya