Liputan6.com, Jakarta - Tren kenaikan harga komponen global mulai berdampak langsung pada kantong konsumen. Setelah terpaksa menaikkan harga jual beberapa lini ponsel pintarnya di sejumlah wilayah, raksasa teknologi asal Korea Selatan, Samsung, kini mengerek tarif perbaikan perangkat.
Berdasarkan laporan media lokal The Chosun, Samsung telah menaikkan harga material perbaikan smartphone di negara asalnya dengan rata-rata kenaikan sebesar 5%.
Advertisement
Tidak hanya menyasar ponsel genggam, kenaikan biaya suku cadang ini juga merembet ke sektor elektronik rumah tangga dengan lonjakan yang lebih tinggi, yakni rata-rata mencapai 9%.
Secara nominal, biaya perbaikan HP rata-rata membengkak sebesar 11.000 Won atau setara dengan sekitar Rp 130.000. Meski angka tersebut sekilas terlihat kecil bagi sebagian orang, kenaikan ini diprediksi tetap akan membebani konsumen dalam jangka panjang.
Mengutip GSMArena, Selasa (14/7/2026), Samsung menegaskan penyesuaian tarif ini murni disebabkan faktor eksternal. Dalam skema biaya perbaikan perangkat, komponen atau suku cadang pengganti memang mendominasi porsi pengeluaran hingga 80%. Sisanya merupakan upah jasa teknisi dan biaya layanan.
"Biaya part telah meningkat, sehingga kenaikan harga tidak dapat dihindari. Namun, untuk upah jasa teknisi dan biaya layanan tetap sama seperti sebelumnya," ujar perwakilan resmi dari Samsung Electronics Service.
Di sisi lain, kompetitor senegaranya, LG Electronics, memilih langkah berbeda dengan menyatakan bakal mempertahankan tarif servis perangkat elektronik rumah tangga mereka untuk saat ini. Seperti diketahui, LG sendiri sudah resmi keluar dari bisnis smartphone sejak beberapa tahun lalu.
Meskipun laporan ini berbasis di Korea Selatan, situasi serupa diproyeksikan bakal terjadi di berbagai belahan dunia mengingat rantai pasok komponen bersifat global.
Bukan Karena Tren AI
Menariknya, lonjakan biaya perbaikan ini bukan disebabkan oleh tren kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang belakangan membuat harga memori (RAM dan penyimpanan) melambung tinggi.
Faktanya, jika terjadi kerusakan pada memori ponsel, teknisi biasanya harus mengganti seluruh papan induk (motherboard), bukan sekadar memperbaiki chip memorinya.
Laporan The Chosun mengungkapkan biang keladi utamanya adalah lonjakan harga bahan baku mentah seperti tembaga dan emas. Kenaikan komoditas ini dipicu oleh ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah serta gangguan rantai pasok global.
Seorang produsen anonim bahkan melaporkan kepada Kementerian Usaha Kecil, Menengah, dan Rintisan Korea Selatan bahwa harga bahan baku telah melonjak hingga 60% pada paruh pertama 2026 akibat kelangkaan pasokan.
Kondisi inilah yang pada akhirnya memaksa produsen elektronik membebankan sebagian biaya operasional kepada konsumen lewat tarif servis.