Liputan6.com, Jakarta - Spesifikasi dan harga Samsung Galaxy A27 5G yang baru saja meluncur di pasar ponsel Indonesia, membuat penasaran para pembaca di kanal Tekno Liputan6.com, Senin (13/7/2026) kemarin.
Berita lain yang juga populer datang dari bos keamanan OpenAI yang kembali mengundurkan diri.
Advertisement
Lebih lengkapnya, simak tiga berita terpopuler di kanal Tekno Liputan6.com berikut ini.
1. Spesifikasi dan Harga Samsung Galaxy A27 5G di Indonesia
Samsung Galaxy A27 5G resmi diluncurkan di Indonesia, Senin (13/7/2026), dengan mengusung desain lebih segar dan peningkatan performa yang signifikan.
Galaxy A27 5G dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan produktivitas dan hiburan generasi muda, seperti mahasiswa dan first jobber.
Peningkatan paling mencolok dari generasi sebelumnya (Galaxy A26 5G) terlihat pada sektor visual melalui layar Super AMOLED 6,7 inci beresolusi Full HD+ dengan refresh rate 120Hz.
Perbedaan lainnya, Samsung kini mengadopsi desain kamera depan Infinity-O (punch-hole) dan bezel lebih tipis, memberikan kesan tampilan yang lebih luas dan premium.
“Secara keseluruhan, tampilannya menjadi lebih borderless. Perangkat sudah menggunakan Infinity-O Display dan memiliki bezel lebih tipis. Karena itu, ketika digunakan anak-anak muda, Galaxy A27 terlihat lebih stylish,” kata MX Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia, Annisa Maulina, saat sesi hands-on produk di Jakarta.
Di sektor performa, HP Samsung baru ini ditenagai chipset Snapdragon 6 Gen 3 dengan fabrikasi 4nm yang menjanjikan efisiensi daya lebih baik.
Kinerjanya disokong pilihan RAM LPDDR5X 6GB atau 8GB, serta kapasitas penyimpanan internal 128GB atau 256GB yang masih dapat diperluas hingga 2TB menggunakan kartu microSD.
2. Bos Keamanan OpenAI Mundur Lagi, Ada Apa?
OpenAI kembali menghadapi gelombang 'eksodus' di jajaran petingginya. Johannes Heidecke, yang menjabat sebagai Head of Safety Systems, menyatakan mundur dari posisinya.
Pengunduran diri Heidecke menambah daftar hitam bongkar-pasang kepemimpinan di divisi keamanan OpenAI. Fenomena ini memicu pertanyaan besar di industri teknologi: apa yang sebenarnya terjadi di balik 'pintu laboratorium' pencipta ChatGPT tersebut?
- Mei 2024: Jan Leike, pemimpin tim Superalignment, mengundurkan diri yang berujung pada pembubaran tim tersebut.
- Oktober 2024: Miles Brundage, kepala kesiapan AGI (Artificial General Intelligence), menyusul hengkang.
- Oktober 2025: Andrea Vallone, yang memimpin riset keselamatan terkait kesehatan mental, turut angkat kaki.
- Februari 2026: Tim Mission Alignment—penerus tim Superalignment—resmi dibubarkan. Sang pemimpin, Josh Achiam, dialihkan menjadi Chief Futurist.
- Juli 2026: Hanya berselang empat hari setelah Achiam memutuskan mundur sepenuhnya dari OpenAI, Johannes Heidecke kini menyatakan hengkang.
Menurut laporan Wired, dikutip dari Gizmodo, Senin (13/7/2026), kekosongan yang ditinggalkan Heidecke akan diambil alih oleh Mia Glaese, selaku VP sekaligus Head of Alignment.
3. Waspada Phishing Berbasis AI, Ini Cara Mengenali Tautan Jebakan
Maraknya aksi penipuan digital membuat pengguna internet harus semakin waspada setiap kali menerima tautan (link) dari email, SMS, atau pesan instan.
Para pelaku kejahatan siber saat ini memanfaatkan berbagai cara, termasuk kecerdasan buatan (AI), untuk membuat pesan palsu yang terlihat sangat meyakinkan agar korban tanpa sadar mengeklik tautan berbahaya tersebut.
Menurut laporan BGR, dikutip Senin (13/7/2026), sebagian besar tautan jebakan sebenarnya dapat dikenali jika pengguna tidak terburu-buru dalam mengambil tindakan.
Kunci utamanya adalah tetap tenang, berpikir logis, dan memeriksa setiap detail secara saksama sebelum menekan sebuah link. Modus penipu biasanya mengandalkan rasa panik, ketakutan, atau iming-iming hadiah besar agar korban segera bertindak tanpa berpikir panjang.
1. Verifikasi Identitas Asli Pengirim
Langkah berikutnya yang sangat krusial adalah memastikan identitas pengirim pesan. Bila email yang masuk mengatasnamakan bank, sekolah, perusahaan, atau institusi resmi lainnya, jangan hanya melihat nama tampilan (display name) pengirim saja.
Periksa juga alamat email lengkap yang digunakan karena pelaku phishing kerap memakai alamat yang sekilas sangat mirip, tetapi memiliki perbedaan kecil dari domain resmi. Jika memungkinkan, bandingkan dengan email asli yang pernah Anda terima sebelumnya dari institusi tersebut. Selain itu, perhatikan pula kualitas tulisan di dalam pesan.
Email atau pesan palsu sering kali dipenuhi oleh kesalahan ejaan, tata bahasa yang janggal, atau susunan kalimat yang terasa tidak alami.